~Melipat kedua kaki dan menenggelamkan wajah diantara lutut~

 

 

Lama tak menulis diary.

Dulu, sewaktu menulis diary –mungkin sekitar lima belas tahun yang lalu- yang aku tulis hanya umpatan-umpatan kesal pada orang sekitar. Terlalu pengecut untuk mengutarakannya secara langsung.

 

Aku sakit hati, tau gak sih! Hey, aku butuh diperhatikan! Kenapa dunia gak adil?

Hah, tulisan kekanak-kanakan dimana pikiranku masih hanya memikirkan diri sendiri. Berfikir menurut pandangaku sendiri. Selfish? Iya. Keegoisan yang menggerogoti hati sendiri.

 

Sekarang aku bersyukur karena ungkapan isi hati yang ditulis pada sebuah buku berukuran B3 dan bercover tebal, ditambah gembok sebagai pengamannya, tidak pernah dibaca oleh orang lain. Karena semua tulisan itu hanya bualan. Memalukan.

 

Tapi itu wajar.

Hal labil dan alay yang dilakukan seorang yang belum dewasa adalah wajar hukumnya. Jika mengingat diriku yang dulu, membuatku tersenyum miris mengingat hal-hal yang memalukan.

 

Disaat tanteku lebih memberikan apapun yang sepupuku mau sedangkan aku tidak, pada saat itu aku berfikir kalau tanteku pilih kasih pada keponakannya.

Tapi sekarang aku mengerti. Sepupuku itu egois akut, jika dia tidak mendapatkan yg lebih baik, dia akan menangis meraung-raung. Sedangkan aku? aku hanya akan diam dan pasrah dengan semua keadaan.

 

Ah! Salah. Bukan pasrah. Tapi tak memberanikan diri untuk mengatakan “AKU JUGA MAU BARANG YANG LEBIH BAGUS! AKU BOSAN TERUS MENGALAH KARENA UMURKU SETAHUN LEBIH TUA! KENAPA HANYA SEPUPUKU YANG DIPERHATIKAN? APA KARENA DIA LEBIH CANTIK?”.

Well, sekali lagi, aku bersyukur kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutku. Karena dengan begitu, imageku lebih baik dari imagenya saat ini. Aku puas dengan imageku yang banyak mengalah.

 

Pikiran yang kusut, hati pun sulit. Dan kau akan terus kurus.

 

Ahahaha. Itulah aku yang dulu. Dikuasai dengan pikiran-pikiran yang kusut. Terus memendam rasa sakit hati karena merasa menjadi yang diabaikan. Mengurung diri dikamar untuk menangis. Dan terus melakukannya selama bertahun-tahun. Dan aku memang kurus.

 

Menyedihkan bukan?

 

Sangat menyedihkan. Sampai suatu hari, pikiranku mulai terbuka. Disaat yang sama dengan naiknya berat badanku. Hihihi, tahu maksudku?

 

Aku menemukan fakta bahwa, aku yang selama ini diabaikan, adalah karena aku pendiam. Kenapa aku pendiam? Karena aku tak percaya diri. Karena tidak memiliki satupun hal yang bisa dibanggakan. Sedangkan sepupuku yang lain, mereka pintar. Aku hanya rata-rata.

So, semuanya adalah salahku sendiri. Hanya perasaan yang dilebih-lebihkan. Didramatisir. Aku bahkan sempat berfikir untuk kabur dari rumah. Tapi diurungkan karena merasa tak punya cukup alasan yang kuat.

MEMANG TAK ADA ALASAN YANG KUAT BUAT KABUR DARI RUMAH!!! Apa orangtuaku menyiksaku? Tidak. Apa karena hubungan keluargaku tidak harmonis? Tidak. kalau hanya pertengkaran sesama adik kakak itu hal yang lumrah.

 

Ghea yang labil sangat menyedihkan.

 

Aku mulai bangkit. Selangkah demi selangkah.

Aku mulai dekat dengan kakekku, karena pernah menjuarai lomba lukis. Juara dua. Tapi aku mengatakan pada kakekku kalau aku juara pertama. Itu karena aku ingin kakekku bangga. Dan beliau memang bangga.

 

Itu adalah pertama kalinya aku merasa diperhatikan oleh kakek. Kakekku pelukis, beliau kepala sekolah yang disegani. Memberikanku cat minyak miliknya, kuas-kuas miliknya, buku-buku seni miliknya. Whoaaa~ i’m so happy. Dan semua benda-benda miliknya tidak pernah kupakai. Kusimpan baik-baik sebagai kenang-kenangan.

 

Dan disaat aku mulai dekat dengan kakek, beliau meninggal. Aku masih punya hutang pengakuan padanya. Mengenai juara dua. I cry everytime i saw his picture. Masih sampai saat ini.

 

Dari situlah, aku mulai membanggakan bakatku. Sehingga aku mulai mendapatkan perhatian dari paman dan tante, juga sepupuku. “Wah, gambar teteh bagus.”, “Hebat bisa bikin baju sendiri.”, “Kreatif.”

 

Kata-kata tersebut yang membuatku sedikit percaya diri. Tapi aku tetap pendiam jika didepan keluarga besarku. Tidak tahu kenapa. Mungkin karena tidak bisa lepas dari jerat image yang kusandang dari kecil. Teh ghea yang pendiam dan hanya tersenyum jika diajak bicara.

 

Dan kenapa aku adalah figur yang berbeda diluar keluargaku? Karena aku bertekad untuk menjadi lebih baik. Aku bukan ghea yang pendiam dan hanya tersenyum sehingga terlihat bodoh.

 

Aku mulai bergaul dengan siapapun. Memberanikan diri tampil didepan semua orang. Dengan begitu aku dapat pelajaran yang lain, yang membuatku semakin gemuk karena hatiku semakin berlapang dada.

 

Semua orang itu berbeda. Tidak ada satupun orang yang satu pemikiran persis seperti kita. Oleh sebab itu saling menghagai itu penting untuk menjaga ikatan hubungan. Belajar berfikir seperti orang lain. Dengan begitu kita akan mengerti.

 

Kita akan diperlakukan sama seperti kita memperlakukan orang lain. So be nice. Think wide and positive.

 

Harapanku saat ini.

Semoga suatu saat nanti. Aku bisa merubah imageku menjadi lebih baik didepan keluarga besarku.

Someday~ i will.

 

Amiinn..

 

 

 

 

11 responses to “~Melipat kedua kaki dan menenggelamkan wajah diantara lutut~

  1. akhirnya tau alesan berat badan mu terus naek Gey..,
    kirain gr2 dulu d offname d RS itu..,ternyata krn dirimu ud mulai menikmati bahagianya hidup…smoga bahagia bwt selamanya,tp stop bwt naek berat badan…kekeke

  2. huwa… Eon.,. Aku jg pnya mslah yg sma dg eon. Tdak prcya diri dan pndiam. Tkut mncoba hal yg bru. Dan tak bsa mngambil hati org. Mrasa diabaikan org sktar. Mrasa tak dianggap tman2. Mreka menganggapku jika mreka btuh sesuatu driku. Smpai skrg aku msh tk bsa mnmukan rasa prcya driku. Aku blum bsa mnmukan bkatku.
    Slmat eon sdah mnemukan jalan. Dan smoga dijalan yg eon lalu, eon nemu jjong. Pngut dah tuh eon. Dan jgn lupa undang sayya yah eon…
    *PLAKK

  3. Aamiin,

    himnae ghea-chan^^

    Semua orang pasti punya masalahnya sendiri. Dan entah kenapa aku sering banget ngerasain hal yang sama dengan kamu, merasa dibandingkan dengan orang lain itu sesuatu yang sangat menyakitkan😦

    Yang pasti, semoga masing-masing dari kita bisa bangkit dari kesedihan itu dan menjadi orang2 yang lebih kuat lagi ^^

    Ohya betewe, golongan darah kamu apa? :p

  4. skrg gw tau knp gw ndut. krn gw terlalu berlapang dada.
    ok,mulai bsk gw terapi bersempit dada!
    gw mo melankolis…

    ah,tp susah… aku kan tipe Sanguinis plagmatis… tkt keceriaan aku terlalu tinggi.
    tipe org yg gak mau berlama2 ngambil pusing stiap mslh.

  5. “Harapanku saat ini.

    Semoga suatu saat nanti. Aku bisa merubah imageku menjadi lebih baik didepan keluarga besarku”

    aminnnnn…………. of course u will! unnie~

    ini bukan cuman tulisan yg sekedar nyeritain diri, tpi bisa jadi cerminan buat orang lain😄

  6. Aminnn ka gey. . .

    Hahaha,, sma kya q pas bgyn pgen kbur dr rumh, ga pnya cukp alsn… Malah mkir ntar bebAn ortu jd nambh nyri’n q..😀

    d klrga q jg image q pendiem n anak alim. Hahahaiii

    tp skrg ska slenge’n ama bulik n ne2k.. Bca ni diary, kya bca tlsn yg dlu mw q tls tp ga prnh ksmpean..
    😀

    bru hobi nuls diary pas SMA, jman SMP hobi nuls’a lirik lagu westlife n ungu. Hohoho__

  7. Waah… eonni melow banget disini.
    Kirain seorang Gey itu periangnya minta ampun,
    gak tahu sih ngambil kesimpulan dari mana, tapi itu kesan yang aku dapet setelah baca FFmu, terutama yang humor.
    Dengan humor yang segitu akut, aku kira eonni memang
    seseorang yang tanpa masalah…
    *akunya yang bermasalah sampe mikir begini.
    Tiap orang pasti punya masalah, kan…
    Tapi eonni pasti sudah lebih siap menghadapi segala cobaan
    dan intrik hidup… *eeaaa
    Aku yakin, lho…
    Eonni fighting!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s