BSFC – ALARM CLOCK C

Alarm Clock Poster

Cast                 : Jinboon

Another cast    : Taemin as yeoja, Junghee, Minho

Genre               : Romance, Fantasy

Rating              : PG-13

Leght               : 5.317 words

______________________________________________________________________________

Takdir…

Aku menyebutnya sebagai hadiah yang di berikan tuhan. Dia hadir dengan beribu misteri

~

Cukup lama gerimis di luar jendela memenjarakan pikiranku. Membawaku mengingat wajah yang kurindukan. Langit malam yang gelap. Membuatku melupakan sejenak suara bising dari lantai bawah. Hujan membawaku pada ketenangan yang aku butuhkan.

“Gweboon…”  suara itu menjadi tanda ketenanganku telah berakhir.

Aku bangkit dari sisi jendela. Merapikan mini dres yang ku kenakan. Tersenyum pada wanita paruh baya yang baru saja memanggilku. Mengikuti langkahnya untuk turun kebawah. Memasuki dunia glamour yang beberapa jam lalu ku tinggalkan.

Suara musik menghentak keras. Membuat kebisingan yang hampir setiap hari ku dengar. Club malam, di sanalah aku berada. Hingar-bingar lantai disco. Minuman memabukkan, dan puluhan wanita cantik yang rela menukar malam-malamnya hanya untuk beberapa lembar uang. Di sanalah aku tinggal.

Ku rendahkan tubuhku pada seorang tamu yang di bawa oleh nyonya pemilik club. Pria berperut buncit yang merupakan tamu pertamaku malam ini, menarikku ikut bersamanya ke ruang kecil di salah satu sudut club. Asap rokok mengepul dari mulutnya. Sesekali menghembuskannya ke wajahku. Membuatku hampir tersedak mencium bau tembakau dai kepulan asap rokok itu.

Aku duduk menyamping, menjaga jarak dari tangannya yang berusaha menggapai pahaku yang terbuka. Sedikit menunduk menghindari mata yang seakan ingin menelanku hidup-hidup. Tak terlalu nyaman dengan caranya memandangku. Seakan aku ini wanita murahan.

Tiba-tiba saja tangan kasar pria itu menarik wajahku.

Plakk!

Tanganku refleks menampar wajahnya ketika ia hendak menciumku.

“KAU! BERANINYA KAU MENOLAKKU WANITA SIALAN!!”

Aku terjatuh, terjerambab pada lantai yang dingin ketika pria beruban itu menendangku dengan kakinya. Sakit yang dirasa tubuhku tak seberapa dibanding dengan penghinaan yang terlontar dari mulutnya.

“Akh!!” seruku memekik ketika merasakan perih di pelipisku. Pria itu melempariku dengan pecahan gelas kaca. Membuatnya keningku berdarah.

“PERGI DARI SINI KAU WANITA TENGIK!” aku bangkit tanpa menunggu lama. Berjalan terseok-seok menggapai pintu. Cukup lega pria itu tak memberiku luka lebih dari yang ia torehkan di keningku.

“Kau membuat kekacauan lagi?” ku hentikan langkahku di depan nyonya pemilik club. Menatapnya enggan. Tak terlalu suka dengan caranya menatapku. Seolah akulah yang bersalah.

“Kenapa keningmu?” aku berjalan melaluinya dalam diam. Tak ingin menyakiti diri sendiri dengan mengharapkan belas kasihan yang mungkin atak akan ku dapat.

“Gweboon!”

“Aku bukan wanita murahan!” ujarku menghentikan langkah. Cukup nyaring hingga membuat seluruh mata di club itu memandang ke arah kami.

“Itu memang kau. Untuk apa kau marah?”

“Aku berbeda dari mereka!”

“Apa yang berbeda? Kau bekerja seperti mereka. Jika kau tak ingin dianggap wanita murahan, carilah pekerjaan lain. Jangan bekerja di club malamku!”

Aku membeku tanpa bisa bersuara. Rasanya seolah terjepit diantara jurang yang tak berdasar. Hanya ada sebuah pilihan. Terjun atau tersebak selamanya. Dan sepertinya, aku akan mengambil pilihan terakhir.

~~~

Hidup ini… seperti sebuah padang gurun yang gersang. Semua hal akan ditentukan dengan bagaimana cara kita melaluinya. Bertahan atau berhenti…

Sebuah kertas putih tergeletak diantara tumpukkan buku tugas yang terbengkalai. Airmata masih mengalir menuruni pipiku, seolah tak akan pernah berhenti.

Ku tenggelamkan wajahku diantara lutut. Meredam suara tangisku yang kian nyaring. Menyuarakan hatiku yang penuh sayatan. Ku amati rintik hujan yang turun di luar jendela. Memandangnya, seolah hanya hujan yang mengerti perasaanku.

Aku bangkit menggapai kertas putih di atas meja. Merobeknya menjadi beberapa bagian. Menghamburkannya di udara, menyisakan bagian-bagian kecil yang tak mungkin terbaca lagi.

Ku basuh wajahku dengan air, menghapus sisa-sisa airmata yang membuatku nampak buurk. Sudah cukup banyak airmata yang mengalir hari ini. Aku ingin segera mengakhirinya. Ku ambil dress di atas ranjang, memakainya, menggantikan kaus lusuh yang kini tergeletak di atas lantai. Nantipun aku akan seperti itu, terbuang.

Ku pakaikan sepatu higheels pada kaki jenjangku. Mengakhirinya dengan menyisir rambutku asal. Aku berjalan menuruni anak tangga menuju ruang yang penuh dengan suara bising. Kembali ke club malam, dan aku harap untuk terakhir kalinya.

Aku turun ke lantai dansa. Meliukkan tubuhku diantara pria-pria hidung belang. Membiarkan tangan mereka leluasa menggerayangi tubuhku. Memuaskan mata mereka. Tubuhku seolah bergerak tanpa jiwa.

Suara bising yang terdengar memudar, tergantikan dengan kesunyian yang mengembalikan ingatanku padanya. Aku beranjak meninggalkan pria-pria itu. Berlari menuju ruang dengan pintu berwarna putih. Aku ingin menemuinya sekali lagi.

~~~

Pilihan itu akan selalu ada… hanya saja kita terlampau sering melewatkannya. Menyiakan waktu terbaik yang tak datang dua kali dalam sebuah kehidupan.

Ku hirup dalam-dalam aroma basah dari rumput di halaman rumah keluarga lee. Hari itu adalah hari pertamaku bekerja di sana sebagai seseorang perawat. Seorang perawat yang diambil dari club malam.

Aku terkekeh kecil ketika mendengarnya dari mulut tuan lee. Ku pikir pria itu hanya ingin menggodaku, dan ternyata perkiraanku salah.

Aku menerima pekerjaan itu tanpa berfikir panjang. Aku tak ingin melewatkannya begitu tau siapa yang harus ku jaga.

Tuan lee membawaku ke ruang dengan perapian menyala. Bunyi patahan kayu yang terbakar memberi suasana tersendiri di ruangan itu. Ku lihat, ada puluhan lukisan besar yang mengantung di dinding. Beberapa adalah lukisan tuan lee dengan sorot mata yang sama. Terlihat lelah.

“Itu istriku…” seorang wanita cantik menghampiri kami. Menjabat tanganku hangat.

Wanita yang sangat lembut sekaligus tegas. Bibir tipis dengan mata kucing yang memikat. Memiliki rahang tajam yang seolah menambah pesona pada wajah cantiknya. Keanggunan alami yang begitu membuatku iri.

Lorong-lorong panjang dengan jendela kaca yang terbuka menjadi pemandangan tersendiri ketika nyonya lee membawaku ke kamar putranya. Angin pantai berhembus membawa dedaunan kering, melewati celah-celah jendela yang terbuka. Bisa kurasakan angin membelai wajahku. Membuat beberapa helai rambutku berkibar.

Lampu krystal dengan permadani berukir naga menghiasi sebuah ruangan yang kami masukki. Sebuah ruangan yang menghadap ke laut. Jendela besar di beberapa bagian tertutup tirai bludru berwarna hitam. Tirai yang nampak mencolok diantara dinding yang dominan berwarna putih.

“Jinki, putraku… kau pasti telah mengenalnya” ku ikuti arah mata nyonya lee. Tak terlalu terkejut melihat sosok yang terbaring lemah di atas ranjang.

Kami memang pernah bertemu. Hanya sekali, di club malam tempatku bekerja. Pria itu membuat keributan kecil ketika berniat menolongku yang hampir di pukul oleh seorang pria mabuk.  Dia menolongku dengan kesehatan yang sangat buruk. Membuatnya berakhir di rumah sakit, dan koma hingga sekarang.

Nyonya lee terlihat beranjak mendekati ranjang. Jari-jari rampingnya terangkat membelai lembut wajah putranya tanpa bermaksud membangunkan. Memandang wajah pucat itu dengan mata sayu.

“Jaga dia baik-baik. Maka akan ku anggap… hutangmu pada kami lunas” wanita itu berfikir akulah penyebab putranya terbaring koma. Memperkerjakanku, sebagai hukuman atas apa yang telah terjadi.

~

Suara deburan ombak yang menghantam tebing karang, memberi warna pada kegelapan pekat lautan. Tak ada hujan yang turun malam itu.  Suasana menjadi terlampau hening.

Aku duduk di tepian ranjang jinki. Memandang wajah pria sipit itu seksama. Tak ada celah yang terlihat. Dia tampan, dan memiliki segalanya. Tapi tuhan memberinya takdir yang berbeda. Digrogoti penyakit ganas bukan sesuatu yang dianggap biasa. Menjadikannya lemah dan hidup dalam keterbatasan. Dia bahkan tak dapat memandang betapa indahnya sinar matahari terbit di pagi hari.

“Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?” ku genggam jemari tangan jinki yang dingin. Memberinya tiupan hangat dengan mulutku.

Aku tak terlalu mengenal bagaimana pribadi seorang lee jinki sebelumnya. Dia pria yang seperti apa akupun tak tau. Kami bertemu dalam waktu yang singkat. Tak banyak kenangan yang ku miliki tentangnya, yang ku ingat dia sosok yang memiliki senyum hangat.

Sudah hampir tengah malam, dan aku masih terjaga di samping jinki. Tak urung beranjak. Masih ingin memandang wajahnya yang menenangkan.

“Apa kau sudah tidur? Bolehkah aku tidur di sini malam ini?”

Hanya suara dari monitor di samping ranjang yang seolah menjawabku. Ku sandarkan kepalaku pada tepi ranjang, bertumpu pada lenganku. Mencoba memenjamkan kedua mataku sejenak. Garis pada layar monitor bergerak perlahan. Membuatku susah mengalihkan tatapanku dari sana.

Aku ingin memastikan bahwa jinki akan baik-baik saja ketika aku tertidur. Kecemasan ini menjadi semakin besar setiap harinya. Hanya memandang wajahnya yang pucat saja sudah membuatku ketakutan. Takut jika pemuda yang selalu ku genggam tangannya itu meninggalkanku.

Mataku kembali terbuka ketika medengar suara bising dari luar kamar. Beberapa kali aku mengindahkannya. Mencoba untuk terpejam. Tapi suara itu justru terdengar semakin nyaring. Aku kemudian beringsut bangkit.

Ku ambil vas di atas meja. Membawanya untuk berlindung jika suara itu berasal dari pencuri. Aku berjalan perlahan, membawaku hingga ke ruang yang aku ketahui adalah ruang keluarga. Lampu ruangan itu terlihat masih menyala. Apa ada seseorang di dalam?

Aku kemudian berhenti di ambang pintu. Bernafas lega setelah memastikan hanya aku yang berada di sana.

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini gweboon?”

Pyarr!!

Vas digenggamanku terjatuh ketika melihat nyonya lee muncul tiba-tiba.

“Auch~” tanganku tanpa sengaja tergores pecahan vas. Darah mengucur cukup banyak dari ujung jariku.

“Kembali ke kamarmu sekarang!” aku tertegun. Nyonya lee tiba-tiba menarikku berdiri.

Ku biarkan puing-puing pecahan vas tergeletak di lantai di samping lukisan tuan lee yang tak aku tau kenapa bisa berada di sana. Berjalan dengan tertunduk menatap cairan bening yang seolah mengalir dari mata tuan lee di dalam lukisan.

“Jangan keluar selangkahpun sebelum matahari terbit!”  sejurus kemudian nyonya lee telah mengunciku di dalam kamarku sendiri.

Aku mendapati diriku telah tertidur selama tiga hari ketika aku terbangun keesokkan paginya. Kepala pelayan yang mengatakannya padaku ketika ia datang membawa obat. Seingatku aku tidak pernah sakit. Aku hanya mendapatkan luka di jariku karena terkena pecahan vas yang aku jatuhkan.

Tapi tunggu! Aku tak melihat ada luka di jariku.

“Nona?” aku tertegun mengamati jariku yang bersih tanpa goresan. Mengindahkan panggilan kepala pelayan di sampingku.

“Jika tidak ada yang anda butuhkan lagi saya permisi dulu…”

“Tunggu kepala choi! Boleh aku bertanya sesuatu?” pria bertubuh jangkung itu mengangguk, mengamatiku dengan mata besarnya.

“Sebenarnya, ada yang sedikit menggangguku. Beberapa hari yang lalu. Tengah malam ketika aku berada di kamar jinki, aku mendengar suara bising dari ruang keluarga. Tak terlalu jelas, tapi rasanya sangat aneh. Apa kau tau itu suara apa kepala choi?” pria itu menatapku sekilas, dan kemudian menunduk.

“Maaf nona. Saya tidak pernah mendengar suara yang nona maksud. Saya tidak keluar kamar setelah jam 7 malam…”

“Jam 7 malam? Kenapa?”

“Ini larangan yang di berikan nyonya lee untuk semua pelayan di rumah ini… maaf, saya harus kembali bekerja nona”

“Ah, ne. Terima kasih kepala choi”

***

Aku berdiri di depan dua gundukan tanah yang berjajar. Meletakkan dua rangkain bunga di masing-masing batu nisan kedua orangtuaku. Rasanya sungguh berdosa karena itu adalah kali kedua aku mengunjungi makam mereka. Jika bukan karena libur yang di berikan tuan lee, mungkin aku tak akan pernah datang.

Ku lihat, ada sebuah rangkaian mawar merah yang tergeletak di antara batu nisan kedua orangtuaku. Sepertinya seseorang baru saja dari sana. Seseorang yang mungkin mengenal kedua orangtuaku cukup dekat, hingga bunga favorit merekapun dia tau.

Hari itu langit nampak sangat cerah. Tak heran banyak orang berdatangan kepemakaman. Tapi sesuatu membuatku keheranan, semua wajah mereka nampak pucat. Tatapan mereka kosong. Dan, aku merasa mereka menggunakan pakaian yang sama.

Kurasakan aura di sekitarku menjadi cukup aneh. Angin bertiup tak menentu. Membuat suara bising yang mengganggu telinga. Aku segera bangkit dari makam kedua orangtuaku. Berjalan cepat meninggalkan area pemakaman.

~

“Saya pikir, sebaiknya saya berhenti bersekolah selama saya menjaga putra anda tuan lee..” interupsiku hanya dijawab dengan kekehan singkat oleh pria bermata sipit itu.

Tuan lee bangkit dari kursi malasnya. Berjalan ke arah jendela memandang langit yang nampak gelap. Kami memiliki kebiasaan yang sama, memandangi hujan.

“Tak perlu memikirkannya. Jinki akan baik-baik saja …”

“Bagaimana mungkin saya meninggalkan pekerjaan saya hanya untuk ke sekolah tuan?”

“Menuntut ilmu juga penting gweboon. Aku sudah membayar mahal untuk biaya pendidikanmu…” tak dapat mengelak lagi. Tuan lee bahkan memakai cara itu untuk memaksaku. Hanya mampu mengangguk, memenuhi permintaannya. Pria itu sudah cukup banyak membawa kebaikan padaku. Tak mungkin aku mengecewakannya.

Tuan lee beranjak dari sisi jendela. Menghampiri rak buku yang memenuhi seluruh dinding di ruang kerjanya.

“Kau suka membaca gweboon?”

“Tidak terlalu sering tuan. Saya tidak memiliki banyak buku untuk di baca”

“Jika kau tertarik, aku menyimpan satu buku klasik untukmu…” ku terima sebuah buku yang disodorkan tuan lee padaku. Membacanya sekilas.

“Sihir?” seruku sedikit terkejut.

Tuan lee menatapku sesaat, terlihat mengambil satu buku lain yang sepertinya lebih tebal dari yang di berikan padaku. Berjalan ke arah kursi malasnya, dan mendudukkan dirinya di sana.

“Aku mendapatkannya ketika bepergian ke Rumania. Seorang peramu obat yang memberikannya padaku…” ujarnya memandang ke arah jendela.  Seperti menunggu sesuatu muncul dari balik hujan yang turun.

“Apa ini cerita fiksi tuan?”

“Bukan, itu bukan cerita fiksi. Seperti tulisan yang kau baca pada sampulnya, ‘sihir’… di dalamnya kau akan disuguhi dengan bacaan mengenai sihir”

“Anda percaya bahwa hal semacam  itu ada?”

“Tidak ada alasan untuk tidak percaya…” tuan lee memberiku jawaban yang membingungkan.

“Tapi, itu hanya sebuah dongeng yang dibuat untuk menghibur anak-anak…” pria itu tersenyum kecil menanggapi ucapanku.

“Ya, kau benar. Mungkin saja itu hanya sebuah dongeng. Tidak ada yang tau..” aku semakin menatapnya tak mengerti.

“Sudah hampir malam. Sebaiknya kau kembali ke kamar jinki… jaga putraku baik-baik” aku mengangguk. Beringsut bangkit, membawa serta buku pemberian tuan lee pada genggamanku. Meninggalkan ruang kerja pria itu, berjalan ke kamar jinki.

***

Sore itu, aku termangu di salah satu koridor kelas yang telah sepi. Menatap dinding ruang kesenian yang tertutup. Entah mengapa aku begitu takut memandang cermin. Hingga harus selalu menghindarinya. Beruntung tak ada cermin di rumah keluarga lee.

Aku melangkah perlahan. Berusaha untuk tak mengalihkan pandanganku dari gerbang di ujung koridor. Nafasku mulai tak beraturan. Dadaku sesak akibat menahan nafas terlalu lama. Langkahku tiba-tiba terhenti dengan sendirinya, seperti tersihir. Aku berhenti tepat di depan dinding ruang kesenian. Tubuhku kehilangan tenaga secara tiba-tiba. Ku rasakan keringat mulai mengucur melewati pelipisku.

“Eonni~” bersyukur tuhan mengirimkanku seorang penolong.

Putri bungsu tuan lee terlihat terengah berlari ke arahku sembari membawa sesuatu di tangannya. Aku memeluk tubuh kecil itu begitu ia berdiri di depanku. Memeluknya erat menyembunyikan penglihatanku dari dinding.

“Eonni apa yang kau lakukan? Kau aneh sekali…”

“Bawa aku pergi nona!”

“Ada apa?”

Bruakkk!

“EONNI~!!!!”

Aku terjatuh sesaat setelah putri tuan lee yang bernama taemin melepas peganganku pada tubuhnya. Itu karena tanganku tanpa sengaja menyenggol kotak susu yang di bawanya hingga terjatuh.  Wajahku sedikit memar karena mengenai lantai yang keras.

“Kenapa eonni takut pada cermin?” aku menggeleng tak tau harus memberi jawaban seperti apa.

“Eonni mengingatkanku pada umma…”

“Umma?”

“Kau seperti umma, takut pada cermin…”

“Nyonya lee takut pada cermin?”

“Ne, kau mirip dengan ibuku eonni…”

~

Ku biarkan diriku terkubur ditumpukkan buku di ruang perpustakaan milik keluarga lee. Aku menemukan ruangan itu tanpa sengaja ketika hendak pergi ke kamar jinki. Ruangan itu terlihat seperti tak pernah dipakai, penuh debu.

Awalnya aku hanya berniat untuk melihat-lihat, hingga menemukan sebuah buku dengan sampul berwarna merah pekat, sedikit usang. Terlihat hanya beberapa kali tersentuh. Tak ada judul yang terbaca dari sampulnya. Seperti buku tanpa nama.

Ku baca beberapa paragraf bergaris bawah merah di tengah halaman yang tanpa sengaja terbuka. Kalimat itu merujuk pada cara menghidupkan seseorang dari kematian. Bulu kuduku meremang membacanya. Adakah hal mustahil memacam itu?

Hampir seluruh buku yang berada di ruangan itu membicarakan tentang sihir. Begitu juga yang berada di ruang kerja tuan lee. Membuatku keheranan.

Apa yang mereka dapat dari menyimpan buku-buku seperti itu?

“Tuan lee?” sosok tuan lee muncul tiba-tiba ketika aku berbalik. Membuatku hampir tersedak karena terkejut. Matanya menatapku tajam, terlihat aneh.

“Kau seharusnya tak berada di area ini gweboon!” ia meraih buku yang baru saja ku simpan di dalam rak. Menariknya kasar. Merobeknya menjadi kepingan-kepingan kecil di depanku. Membuatku menelan ludah.

~

Tubuhku terasa lemas ketika menginjakan kaki di kamar jinki. Aku baru saja pulang, berniat melihat keadaannya, tapi yang ku temukan hanya ranjang kosong.

“Jinki-” seruku sesak.

Monitor di samping ranjang hanya menunjukkan layar hitam. Tak ada pergerakan garis yang biasanya ku amati. Di sampingnya, kantung infuse tergantung tanpa selang. Tabung oksigenpun telah di singkirkan.

Ku tatap pedih hujan yang turun di luar jendela. Seolah langitpun menangis mengiringi kepergiannya.

“Nona anda baik-baik saja?” kepala pelayan meraih bahuku yang hampir limbung, membantuku untuk berdiri.

Aku berjalan terseok menghampiri pintu. Keluar ruangan dengan airmata yang terus mengalir.

“Eonni, kenapa kau menangis?” putri tuan lee menghampiriku di ambang pintu. Menggapai tubuhku yang seakan tak bertenaga.

“Maaf nona, aku harus kembali ke kamar” ku lepas tangannya pada lenganku. Berjalan melewatinya dalam hening.

Aku membeku sesaat  ambang pintu. Menatap tak percaya pada sosok yang duduk di atas ranjang. Tengah tersenyum.

“Kau dari mana saja?” aku berjalan sedikit berlari menghampirinya. Menjatuhkan tubuhku pada lengannya yang terbuka, ia menyambutku. Memelukku erat.

Rasanya ngin berteriak bahagia tapi yang ada, aku justru menangis tersedu.

“Aku menunggumu cukup lama, kau tau?” aku tersenyum di sela tangisanku.

Ku tarik diriku dari pelukkannya. Menghapus airmataku dan duduk di tepian ranjang menatapnya. Dia tengah tersenyum padaku. Membuatku sukup lega.

“Kapan kau bangun?”

“Beberapa jam yang lalu”

“Kenapa kau tak menyuruh orang memberitahuku?”

“Kejutan!” rasanya airmataku akan kembali menetes.

“Kemarilah~”

“Apa?” jinki menarikku berbaring di sampingnya. Menyelimutiku dengan lengannya yang hangat. Aku menurutinya tanpa berniat menginterupsi.

“Aku harus menghubungi tuan dan nyonya lee. Mereka pasti senang mendengarmu telah terbangun”  ujarku yang membuat raut wajah jinki berubah tegang.

“Tidak. Mereka tidak boleh tau …”

~

“Sudah ku katakan, mereka tak boleh tau!” ku hindari tatapan jinki yang seakan menghardikku. Dia marah, mengetahui jika aku menghubungi tuan dan nyonya lee.

“Mereka perlu tau, mereka kedua orangtuamu!” kilahku yang justru membuatnya nampak kecewa. Jinki meraih tanganku, mengenggamnya tanpa berniat melepaskan. Membuatku semakin sulit untuk beranjak darinya.

“Kau tau mereka akan memisahkan kita”

“Sebuah pertemuan pasti akan berakhir pada perpisahan jinki” jinki menjatuhkan tanganku dari genggamannya. Menatapku dengan sorot mata lelah.

“Aku hanya butuh kau di sampingku. Tidak bisakah kau mengerti, huh?” ku hindari tatapan matanya yang seolah memohon. Mengalihkan mataku pada jendela yang terbuka. Jika bukan karena keinginan nyonya lee, akupun tak akan berniat meninggalkannya.

“Waktunya aku pergi jinki” aku beranjak bangkit. Menyampirkan tas pada bahuku. Berjalan keluar tanpa berani memandang wajahnya yang terlihat kecewa.

“Tidak bisakah kau tetap tinggal gwe?” aku terhenti sejenak. Menunggu hingga ia berhenti berucap, dan berlari keluar sedetik kemudian. Menyembunyikan air mata yang mengalir menuruni pipiku.

***

Angin berhembus pelan. Membelai wajahku sesaat. Memberi rasa bebas dan ringan, meninggalkan penat yang mengumpul di kepalaku. Tumpukan tugas yang tak kunjung habis.

Ku hirup wangi bunga sakura yang menguar di sekelilingku. Membuatku merasakan ketenangan setelahnya. Langit senja bersemu merah, terbentang indah mewarnai langit. Mengingatkaku untuk segera beranjak. Ku bereskan beberapa lembar esaiku yang tak sengaja berhampur terbawa angin. Merapikannya dan memasukkannya kembali ke dalam ransel. Berjalan menyusuri jalan setapak meninggalkan taman.

“Dompetmu tertinggal”

“Huh?” aku berbalik, menatap seorang pria yang berdiri menghadapku.

“Kau meninggalkan dompetmu gweboon…”

“Benarkah?” ku periksa isi ranselku, dan benar saja dompetku tak ada di sana.

“Kau meninggalkannya di bangku taman…” ujarnya menghampiriku.

“Kau tidak mencurinya bukan?”

“Bukan dompet yang ingin ku curi darimu. Tapi ini…” ia merengkuhku ke dalam pelukkannya. Memberi bibiku sebuah kecupan lembut. Ku biarkan mataku terpejam. Menikmati hangat bibirnya ketika ia menciumku.

Kami menyudahi cumbuan singkat itu dengan saling melempar senyum. Ku apit lengannya erat ketika kami berjalan di bawah bunga sakura yang bermekaran. Menikmati musim semi pertama dengan dia di sampingku.

“Mau ayam goreng?” aku menoleh, menatap wajahnya dari samping. Dia terlihat bersemangat mendengar ajakanku.

“Aku lebih suka jika kita membelinya”

“Baiklah…”

Jinki menyusulku ke daegu. Meninggalkan gelar putra bangsawan lee hanya untuk seorang mantan wanita penghibur sepertiku. Aku tak dapat meninggalkannya ketika ia, dengan cintanya, datang ke sisiku.

“Kita menikah saja…”

“Huh? Uhuk~ uhuk~” aku tersedak mendengar ucapan jinki. Ia mengatakannya ketika kami sedang menikmati makan malam.

“Kita menikah saja gwe” ulangnya lagi yang membuatku menatapnya tak percaya.

“Kau bercanda bukan?…” jinki mengenggam jemariku. Menatapku dalam-dalam. Meyakinkanku dengan tatapannya.

“Aku ingin kita menikah. Hidup bersama hingga maut memisahkan kita…” airmataku jatuh tanpa bisa ku elakkan. Jinki bangkit dari duduknya. Menghampiriku dan membawaku ke dalam pelukkannya.

“Kau mau kan hidup bersamaku kan?” aku mengangguk tanpa bisa berucap. Jinki memelukku erat. Mengecup keningku dan menangkup wajahku lembut.

“Kita akan menikah secepatnya”

“Apa nyonya lee akan merestui kita?” senyum jinki pudar seketika.

“Kita hanya perlu menikah tanpa mereka”

“Tidak mungkin, keluargamu perlu tau”

“Apa yang kau inginkan dari kehadirian mereka?” jinki melepas pelukkannya. Terlihat marah. Bangkit meninggalkanku seorang diri.

~

Aku tak terlalu mengingat bagaimana meriahnya pesta pernikahan kami malam itu. Yang teringat, hanya senyum bahagia yang tak pudar dari wajah jinki. Mataku tak bisa lepas dari senyum menawan itu. Dia sangat tampan.

Ketika jinki membawaku ke hadapan kedua orang tuannya. Mengatakan pada mereka jika ia ingin menikahiku. Ku pikir pernikahan kami tak akan pernah berlangsung, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Nyonya lee merestui kami begitu saja.

“Aku mencintaimu gwe~” sudah ribuan kali ku dengar kalimat manis itu dari bibir jinki. Ku kecup bibirnya lembut sebagai balasan.

Aku tersenyum sembari bangkit mengambil baskom berisi air hangat yang ada di atas meja. Mengambil handuk kecil dan sedikit membasahinya dengan air di dalam baskom.

Ku usap kening jinki perlahan, seluruh wajahnya hingga wajah itu terlihat lebih segar. Setelahnya ku usap tangan serta kaki jinki bergantian. Pria itu hanya tersenyum sembari mengamatiku. Aku tak terlalu suka di amati sebenarnya.

“Kau akan tidur di sini kan?” ku kaitkan kancing teratas kemejanya. Menarik selimut menutupi tubuhnya setelah menyelesaikan pekerjaanku. Aku menarik kursi untuk duduk di sisi ranjang. Menggengam tangannya.

“Tentu saja” ujarku tersenyum.

Aku tertunduk menyembunyikan wajahku ketika melihat jinki mulai terpejam. Aku merasa airmataku akan menetes.

Satu bulan setelah pesta pernikahan kami, jinki jatuh pingsan dan sempat koma beberapa hari. Membuatku diliputi ketakutan setiap malam. Takut jika ia tak bertahan lama di sampingku. Kami bahkan baru merasakan kebahagian kami.

~

Pagi sepertinya datang lebih cepat. Aku bangun dan melihat jinki masih terlelap di sampingku. Ku lepaskan tangannya pada genggamanku perlahan. Tak ingin membuatnya terbangun.

Aku beranjak ke sisi jendela memperhatikan hujan yang lagi-lagi turun. Memandangnya beberapa lama sebelum menyadari bahwa jinki telah terbangun, dan memanggilku.

“Gwe~ apa yang kau lakukan di sana?” aku tersenyum menghampirinya. Membantunya untuk duduk.

“Aku sedang memandangi hujan…” jinki meraih tanganku. Menelusuri wajahku dengan jemarinya. Ku gapai tangan itu dan menggengamnya erat.

“Kau hanya boleh memandangiku…” aku terkekeh mendengarnya.

“Apa tidurmu nyenyak?” aku mengangguk.

Kami saling melempar senyum beberapa saat. Saling menatap satu sama lain. Melihat lekuk wajahnya tak pernah ingin ku tinggalkan. Hingga kurasakan raut wajah itu berubah.

“Kau tidak apa-apa?” aku bangkit menggapai tubuhnya.

Jinki terlihat menggerang. Ku coba menenangkannya dengan menggenggam tangannya erat. Mengelus punggungnya dengan sebelah tanganku. Tapi yang ada, dia nampak semakin kesakitan. Ku tahan airmata yang mengumpul di pelupuk mataku. Aku tak ingin jinki melihatku menangis.

Aku bangkit menarik tombol di salah satu sisi ranjang. Beberapa saat kemudian dokter dan beberapa perawat datang. Mereka memeriksa jinki beberapa lama. Aku hanya menatap mereka dari samping. Tak berani memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi.

“Kami harus membawanya!”

“Tidak!” seruku tertahan. Seorang suster menarikku menjauh. Membuat genggamanku di tangan jinki terlepas.

~

Hujan deras mengawali hari panjang itu sebagai sebuah pertanda.

Aku duduk di salah satu lorong rumah sakit yang sunyi. Memandang pintu bercat putih yang tak kunjung terbuka. Aku ingin melihat keadaannya. Tak bisakah dokter membiarkanku berada disampingnya?

Seseorang menepuk bahuku dari samping. Membawaku bersandar pada bahu kecilnya.

“Jinki akan baik-baik saja. Kau tak perlu cemas” aura wajahnya membawaku pada ketenangan.

Ku peluk tubuh wanita yang telah melahirkan suamiku itu erat. Mengadukan semua airmata yang selama ini tertahan. Mencari perlindungan dari belaian tangannya di punggungku. Wanita itu mengusap bahuku yang bergetar. Menengankanku walau airmata tak kunjung surut dari kedua mataku.

Seorang dokter menghampiri kami. Membawa ibu mertuaku pergi bersamanya. Sesaat kemudian, beberapa perawat membawa jinki keluar dari ruang bercat putih di depanku. Aku bangkit hendak mengikuti kemana mereka pergi, tapi terhenti ketika melihat sebuah buku tergeletak di samping kakiku.

Aku memungutnya, dan terkejut melihat apa yang ku temukan. Itu adalah buku yang sama dengan buku yang di hancurkan tuan lee di ruang perpustakaan. Buku yang membuat tuan lee bagitu marah karena aku telah membacanya.

Bagaimana buku itu bisa berada di tempat ini?

Tak ada penjelasan pasti yang ku temukan setelahnya.

~

Matahari terbenam tergantikan dengan warna hitam yang membawa kesunyian malam. Ku tatap sesaat bulan yang nampak menggantung menghiasi langit. Cahayanya menyilaukan mata.

Aku beranjak dari sisi jendela. Menggapai uluran tangan jinki. Membawaku berbaring di sampingnya. Ku sandarkan wajahku pada dadanya yang hangat. Menjadikan lengannya sebagai bantalan tidurku.

“Kau mengantuk?” aku menatap jinki yang setengah terpejam.

“Sedikit”.

“Tidurlah kalau begitu” ku tarik selimut menutupi tubuhnya lebih rapat.

“Aku masih ingin melihatmu”

“Kau masih bisa melihatku besok. Tidurlah~” jinki menatapku beberapa lama. Menatapku dengan mata sayu. Membuatku sedikit cemas. Tak biasanya dia menatapku seperti itu.

“Apa kau kedinginan?” ku gosok lengannya yang tengah medekapku. Aku menatapnya kawatir. Bibir dan wajahnya bahkan terlihat pucat.

“Kau akan tetap di sampingku kan?” aku mengangguk mengecup bibirnya sekilas. Bibir itupun terasa dingin.

“Jinki, apa kau baik-baik saja?”  jinki tersenyum dengan kedua matanya yang terpejam.

“Aku baik-baik saja” ku raih wajahnya dengan kedua tanganku. Memastikan bahwa tatapannya hanya tertuju padaku.

“Jangan pernah pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan…” jinki menatapku bingung.

“Aku tak akan pergi kemana-mana gwe?”

“Kau janji?” jinki hanya mengangguk tanpa bersuara. Kedua matanya kembali terpejam.

“Maukah kau menyanyikan satu lagu untukku?”

“Aku tak bisa bernyanyi”

“Membaca puisi?”

“Jinki!”

“Maaf~” aku mendengar jinki terkekeh pelan. Membuat merasa sedikit lega.

“Gwe~ Apa kau bahagia?”

“Um~ bahagia. Kau?”

“Sangat bahagia…” dan kemudian menyelimuti kami.

Ku biarkan mataku terpejam di tengah ke sunyian malam. Menikmati alunan keheningan yang seakan membawa duka. Ku dekap erat tubuh tak bergerak di sampingku. Merasakan hangat lengannya untuk terakhir kali.

“Selamat malam, jinki~”

***

Angin bertiup kencang melewati jendela yang terbuka. Menyusuri lorong-lorong sepi. Tirai-tirai putih berkibar tertiup angin. Mengisi kesunyian yang memenuhi setiap sudut rumah kala itu.

Sisa-sisa cairan bening masih menempel di sudut mataku ketika ku putuskan meninggalkan ruangan yang dipenuhi orang-orang berpakaian hitam. Tak terlalu nyaman dengan suasana duka yang terlalu pekat di sekelilingku. Jinki tak akan menyukai ini.

Ku tanggalkan pakaian hitamku yang dipenuhi aura duka dengan dres putih satin selutut. Dress yang diberikan jinki ketika ia membawaku bertemu kedua orangtuanya. Berjalan menyusuri pantai dengan pasir putih. Membasahi kakiku dengan air laut. Menikmati deburan ombak yang mengalun seperti lagu. Kami bahkan tak sempat pergi ke pantai bersama-sama. Tuhan merenggut kebahagianku terlampau cepat.

Aku berjalan perlahan menyusuri air yang bergerak di kakiku. Mengikuti arah ombak berasal. Membawa tubuhku basah diantara gelombang yang datang dan pergi. Membawa tubuhku terombang-ambing oleh laut. Tak ada yang terlihat lagi setelahnya, karena air kini menenggelamkanku.

~

Aku berdiri di sebuah ruang bercat putih dengan perapian menyala ketika membuka mata. Ruangan itu, aku seperti pernah melihatnya.

Nyonya lee muncul dari balik punggungku. Berjalan mendekat ke perapian dengan sebuah lukisan di pelukkannya.

“Kenapa kau harus memilih akhir yang sama?” tetesan airmata jatuh menuruni pipi tirusnya. Menjadi debu begitu menyentuh lantai. Tak ada suara. Cairan bening itu seolah hanya lewat dari kedua matanya.

“Kau hanya memiliki satu pilihan yang tersisa” ia berjalan mendekatku. Memberiku sebuah buku bersampul merah pekat.

“Buku ini?” aku menatapnya takut..

Tiba-tiba saja ruangan itu telah  di penuhi oleh cermin. Nyonya lee berdiri menghadapku, menunjuk sebuah cerimin di samping kami.

“Tidak mungkin!” aku mengambil sebuah vas di sampingku. Melemparnya, membuat cermin itu hancur berkeping-keping. Tapi kepingan itu menyatu kembali setelahnya. Seperti sebuah magnet.

“Cermin itu tak akan hancur. Itu hanya ilusi yang ada di pikiranmu…” aku menatapnya takut. Beringsut menggapai vas lain di sisi meja.

“Kau tak bisa melukaiku gweboon, karena aku adalah dirimu”

“Tidak mungkin!” kepalaku terasa berputar-putar. Seluruhnya di penuhi oleh bayangan diriku sendiri. Membuatku sesak. Ku tatap sosokku yang lain di depanku. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.

“Kita akan jatuh pada jurang yang sama…” ku tampik tangan itu kasar. Aku memandangnya takut. Sosok itu kini terlihat jelas menyerupaiku.

Ia membuka perlahan lukisan di pelukannya. Menampakkan wajah yang sangat ku kenal.

“Tidak!”

“Kau, karena cintamu yang terlampau besar pada laki-laki ini. Kau membangunkannya dari kematian. Mengambilnya dari ketenangan. Memenjarakannya pada sebuah lukisan yang membuatnya menderita”

“Tidak! Aku tidak melakukannya”

“Tidakkah kau lihat duka pada wajahnya? dia ingin kau melepaskannya. Membiarkannya pergi…”

“Tidak, kau berbohong. Aku tidak mungkin melakukan ini pada jinki… hiks~ aku tak mungkin melakukannya…”

Kepalaku berdenyut hebat. Aku ambruk terjatuh pada lantai. Ku pandang sekilas jajaran cermin yang lenyap satu-persatu.

Sosokku yang lain berdiri menatapku dengan lukisan di pelukkannya. Cairan bening mengalir deras menuruni pipinya hingga terjatuh menjadi debu di lantai. Samar ku lihat wajahku yang penuh kepedihan itu.

Benarkah kehilangan jinki membuatku seperti ini?

Ia tersenyum padaku sekilas. Berjalan ke dalam perapian yang menyala, membawa serta lukisan di dekapannya. Perlahan, lilitan api mulai membakar sisi tubuhnya. Aku berteriak, sebisa mungkin mencoba bangkit. Tapi tenagaku seolah hilang. Tubuhnya perlahan memudar tertelan api. Aku tak bisa lagi terteriak. Menyaksikan tubuhku sendiri menjadi debu di tengah lilitan api.

Aku menangis tanpa sebab. Merasakan kesakitan dan duka yang teramat dalam. Rasa sesak memenuhi rongga dadaku. Membuat kedua mataku membuaram. Aku beringsut menggapai buku bersampul merah yang tergeletak di lantai. Sejurus kemudian pandanganku menjadi gelap, dan aku tak dapat melihat apapun lagi.

~~~

Sebuah padang hijau dengan ilalang yang menari tertiup angin terbentang luas memenuhi tempat yang ku lihat ketika membuka mata. Aku berjalan mengikuti arah angin. Membawa diriku pada sebuah pohon yang tumbuh di tengah ilalang. Ku lihat seorang pria tengah berdiri di bawah pohon itu. Tengah menatapku dari kejauhan.

Aku kemudian berjalan menghampirinya. Melihat punggungnya dari balik pohon. Mata kami bertemu ketika ia berbalik menghadapku.

“Jinki?”

“Apa kabar, gweboon?” aku berlari menggapai tubuhnya dan memeluknya erat. Airmataku mengalir begitu saja tanpa bisa ku cegah. Jinki membelai punggungku, menyalurkan ke hangatan tangannya yang terasa nyata.

Aku mendongak menatap wajahnya. Memastikan bahwa yang ku lihat bukanlah mimpi. Ia tersenyum padaku.

“Apa aku bermimpi?” ia menggeleng, mengacak rambutku pelan.

“Mau berjalan-jalan?” jinki mengulurkan tangannya, dan aku menyambutnya dengan menggengamnya erat. Kami berjalan melewati padang ilalang yang tertiup angin. Menikmati aroma sejuk yang menengangkan.

Aku melirik ke samping dimana jinki berada. Semenjak tadi, senyum tak pernah pudar dari wajahnya yang tampan. Seolah dia sangat bahagia saat ini.

Kami berhenti di tepian telaga dengan air yang tenang. Jinki menatapku dengan sebuah senyuman yang justru membuatku takut.

“Kita akan kemana?” ujarku ketika melihat jinki menarik sebuah perahu kecil dari tepian telaga.

“Bukan kita, tapi kau yang pergi…”

“Tidak!”

“Kau harus kembali…”

“Jinki!” ku tarik tangannya yang sempat terlepas dari genggamanku.

“Kembalilah…”

“Aku tak mengerti…” ku cengkram tangannya semakin kuat.

“Takdir, bagaimanapun kau coba untuk mengelak. Kematian akan tetap memisahkan kita…” airmataku menetes perlahan. Menarik lengannya kuat mempertahankannya tetap di sampingku.

“Kau akan meninggalkanku?”

“Tidak, aku tidak akan pergi kemanapun. Aku akan selalu hidup disini, di hatimu… Kau sudah memilih jalan yang tepat gweboon. Jangan pernah takut. Aku akan selalu di sampingmu”

Jinki tersenyum, membelai lembut wajahku. Memberi sebuah kecupan singkat pada keningku sebelum membawaku menaiki perahu mengarungi telaga tanpa ujung.

~~~

Aku terbangun ketika alarm jam mengalun membawaku dari alam mimpi. Meninggalkan sisa-sisa kenangan yang membuatku tersadar. Ku tarik turun selimutku. Beringsut turun dari atas ranjang. Berjalan menuju meja kecil di samping jendela yang penuh dengan tumpukkan buku tugas yang terbengkalai. Bahkan sisa-sisa sobekkan kertas yang ku buang masih ada.

Ku punguti satu-persatu robekan kertas yang tercecer di lantai. Mengumpulkannya untuk ku satukan kembali.

“Gweboon, kau sudah bangun?” seseorang muncul di ambang pintu dan langsung menghambur memelukku. Aku tersenyum membalas pelukkannya erat.

“Ne, aku sudah bangun bik”

“Kau memanggilku apa barusan?” wanita itu menatapku terkejut.

“Bibi, aku tak akan memanggilmu nyonya pemilik club lagi…”

“Gweboon, sepertinya luka di kepalamu cukup parah” aku terkekeh kecil menanggapinya.

“Aku baik-baik saja, bik ”

Kulihat wanita paruh baya itu menghela nafas berat sembari menatapku. Ada kekawatiran yang terpancar dari sorot matanya.

“Besok, kita kembali ke daegu… Aku telah menjual club malam ini…” aku tersenyum menggengam tangannya lembut. Mencoba memberinya pengertian bahwa yang ia lakukan benar adanya.

~

Ku hirup aroma basah tanah di sekelilingku. Berjalan melewati gerimis yang turun. Aku berhenti sejenak, menatap ke arah langit. Dia pasti tengah tersenyum sekarang.

Ku masukkan tanganku ke dalam saku. Melindunginya dari dingin yang menyerang, dan langkahku  terhenti seketika. Ku ambil selembar kertas yang ku temukan di dalam saku mantelku. Membukanya dan membacanya perlahan.

Airmataku menetes sederas hujan yang kini turun. Surat dari jinki. Ia menulisnya sebelum meninggal. Tulisan tangan itu seakan memperlihatkan duka mendalam akibat cinta yang terpisah karena sebuah perbedaan.

Ku seka airmataku. Mencoba menyimpan kembali memori tentangnya hanya di dalam hatiku. Menutupnya rapat-rapat agar aku bisa melanjutkan kembali hidupku untuknya. Bahagia atau duka, tak ada yang tau apa yang akan datang esok hari.

END

 

 

45 responses to “BSFC – ALARM CLOCK C

  1. menarik, terbawa suasana dengan bahasa yang bagus, latar yang digambarkan juga bagus, misterius, hanya alurnya sedikit membingungkan, tapi at all it’s nice story!ide ceritanya juga unik…SEMANGAT buat karya selanjutnya!^^

  2. ehm, cerita awalnya bagus sih. tapi jujur aku agak bingung ma part akhirnya. apa aku yang o’on ya??? itu maksudnya gwe hidupin jinki dari kematian apa gimana???

  3. gak terllau jelas gimana gwe bisa ketemu ama jinki, cuma diceritain sekilas…apa akunya yang kurang paham yah…ah..entahlah…
    bahasnya bagus…aku suka, apalagi pas pendeskripsiannya..semuanya sempurna….walupun rada bikin bingung sebenernya…ahahahaha..jadi ngelantur….

    pokoke..SEMANGAT buat authornya….

  4. Ide ceritanya bagus,, cma ad sdkt typo..kekeke tak apa,itu hiasan ff xd

    tapi tapi entah otakku yang kuya(?) atau koneksiku yang terlalu ‘cepat’,, aku gak ngerti pas bgian gweboon dikelilingi cermin, trus knpa kluarga Lee melarang keluar kamar stlh jam 7 malam..
    Aduuuuuuhhh lieur gening nya,, dasar lemot *jedotin ke aspal
    jd sbnrnya jinki udah meninggal gtu.

  5. menurutku alurnya rada cepet ya.. tiba2 udh ketempat lain gitu trus ga ada tandanya *?
    ak sbenernya kurang ngerti itu sebenernya kluarga lee knpa dlrng kluar diatas jam 7 mlm, pkknya kluarga lee nya aneh n ak ga nemuin pnjelasannya..hehehe
    si gwe itu punya kelebihan nyihir ya?? otw gimana thor?
    tpi secr keseluruhan bhsnya bagus kok, n maksud critany ak bisa tanggap….

    figthing bwt karya selanjutnya!!

  6. ga bakal bisa ga bakaaal saya ga bakal bisa bikin bahasa yang kaya begini…
    astagaaaaa

    sempet keder ditengah tengah alurnya keren ini seperti maju mundur
    dan lagi lagi si ayam matiii huks huks huks

    ayaaammm

      • ah saya ga daftar apapun kok ^^

        lagian bagi saya cukup baca FF Onkey Jinboon Jinkibum atau Bumsook

        sudah cukup membahagiakan.

  7. Di awal crta aku masih ngerti tp d saat2 trakhir aku udah ngeblank ga ngerti….

    Tapi crtax bgus d kemas rapi

  8. huaaa,sukses bikin aku nangis :'(:'(:'(
    ide ceritanya keren,tapi aku ga ngerti deh. banyak misteri di cerita ini yg ga dijelasin. yg ribut” di ruang tengah itu kenapa? kenapa nyonya lee takut cermin?kenapa di rumah itu banyak buku sihir?sebenarnya mereka apa?
    trus aku kira abis gwe kebangun itu semua cuman mimpi doang,eh ternyata kenyataan ya karna ada surat dr jinki.
    ah mian author,aku suka cerita ini keren banget,tp banyak yg aku ga ngerti :'(:'(

  9. Bahasa yang digunakan bener2 menarik, pemilihan kata2 yang tepat.. Mmbuat yang baca ikut masuk kedalam kisahnya,, tapi sedikit bingung dengan kejadian yg ada di rmh jinki,, itu halusinasi atau mimpi atau apa ya?? Mesti baca ulang dulu deh..
    Hwaiting author..

  10. ini imajinasi author ny uda bgus bgt! Beneran! cuma… Mgkin krna dibatasi sm syarat oneshot, jdi author ny ga bisa ngjelasin semuany dgn detail, makany bnyak yg bingung dgn bbrapa scene yg tiba2 ‘lho? Ini knp udah kaya gini?’.
    Jujur aq nympan bnyk prtanyaan utk ff ini, tpi smua ny aq jwb dgn hayalan aq sendiri. Hihi
    Ini kayak pilm2 mah author, keren xD
    Keep writing yaah :*

  11. Awal baca, saya menikmatinya dan mengerti. Kemudian pas dipertengahan saya sedikit bingung, saya mengerti kenapa Gweboon disuruh menjaga Jinki, tetapi saat Tuan Lee memberi sebuah buku ke Gweboon, saya mulai bingung sama alur ceritanya. Terlebih saat ending, mengapa tiba-tiba Gweboon ada di tempat disco lagi?
    Saya nggak tahu apa imajinasi yang nggak sampai atau gimana, but, saya suka sama tata bahasanya. Kata-katanya rapih.
    Hanya saja penggunaan nama sebaiknya Huruf besar diawal, seperti ‘tuan lee’ seharusnya ‘Tuan Lee’.
    Saya cuma bisa komen itu doank..

    Keep writing!

  12. jujur ane bingung ama ff ini
    cz ane kurang ngerti yg pas lukisan itu, trus yg tentang buku sihir itu juga

    trus bahasa.a berat thor jd susah dimengerti
    hehe

    tp tetap bgus kok

    jangan patah semangat yah

    bye. . .

  13. cara penulisanny bagus , pasti da bukan tikat amatir, crtanya mengalir, tp sayang.. Otak saya ga nyampe bwt level ini, bngng euy pas di akhir2 crta. Maybe saya yg lemot tp sumpah msh bngng hub antara sihir,nyokap jinki, bokapnya, pemilik diskotik sama yg jam7 malem itu apa? Lier euy

    • Masih amatir… banyak yang lebih bagus dari saya🙂
      Bukan otak kamu yang lemot kok say,,, sayanya aja yang kurang pinter nulis, masih belajar ^_^

      Trims komentnya ^^

  14. ah.. misterinya masih banyak yg belum terungkap..

    kenapa gweboon liat lukisan mr Lee menangis??
    Larangan yg tidak boleh keluar setelah jm 7malam???

    n juga kenapa mr.Lee ngerobek tuh buku tanpa judul??

    ah.. berarti itu si gweboon takut sama cermin.. karna takut akan pantulan dirinya sendiri..

    kekeke^^ Author semangat!!!

  15. Misterius! Kesan pertama aku tentang ff ini adalah misterius!
    Gilak. Sampai akhir tetep aja mata aku bulat saking penasarannya sama ini ff.
    Meskipun, buat koreksi aja, nama orang huruf awalnya selalu pakai huruf kapital. Soalnya Author-nim nulis kayak gini:
    -Tuan lee
    -gweboon
    -taemin
    -jinki.
    Dan aku nemu beberapa typo:
    -atak akan(harusnya tak akan)
    -atau tersebak selamanya(harusnya terjebak)
    -buurk(harusnya buruk)
    -masukki(harusnya masuki)
    -tirai bludru(harusnya beludru)
    -kepemakaman(harusnya ke pemakaman)
    -tau(harusnya tahu)
    -Membuatku sukup lega.(harusnya cukup)
    -Jinki terlihat menggerang.(harusnya mengerang)
    -kebahagianku(harusnya kebahagiaanku).
    Dikit banget typonya^^
    dan seriusan deh, pas awal bayangan aku itu kalau si Jinki itu vampir.
    Dan Author-nim daebakkkk!!!!!! Mampu bikin alur cerita yang nggak ketebak sampai akhir!! Love you Author-nim!!!!
    Tata penulisan, gaya bahasa, diksi, EyD, konflik, penyelesaian, pemilihan tokoh, penokohan Author jago banget!!!!
    Nikah yuk Thor? #eh
    kekurangannya cuma yang tadi aku sebutin di atas. Selebihnya? No comment! You are the best!!!!!!

    • Love you too ^_^
      Nikah? boleh… tapi sayangnya udah ada jinki🙂

      Komentmu juga the best,,, ^^
      Terima kasih sudah mengingatkan saya pada typo… typo emang sulit dihindari, Gak ada yang sempurna…🙂

      Goog luck, moga terpilih jadi reader terkeren ^^

      • kekekek~ seenggaknya kita bisa ngurangin🙂
        Jinki kan udah punya Gweboon. Author sama aku aja lah~~~~~ #kedipkedipmanja #ditendang
        good luck juga Author-nim wish ya luck to be a winner^^

  16. cerita fantasi kyk sihir2 begini aku suka hehee
    tp aku msh blm mudeng,berarti itu gweboon cm mimpi atau itu emg kejadian masa lalu? alurnya mundur dong?😀
    tp ffnya bagus! bahasanya enak,rapi,menarik..
    hwaiting !!

  17. Thor demen amet bikin reader bingung ya? Bcain komen dri atas isinya bingung smua .. Ahaha
    Aku nagkep sdkit sih, itu nyonya lee tuh sbner nya gweboon kan ya? Terus tuan lee tu kayanya jinki ..
    Gweboon liat lukisan tuan lee nangis soalny jinki ny dihidupin lg trs dmsukin ke lukisan kan?
    Tapi yg aku ga ngerti sma larangan yang jam 7 itu, tdinya mkir mrka keluarga vampire itu tuh ..
    Yang tuan lee robek buku sihir itu, soalny dia gamau gwe ngebacain sihir itu lagi kan?
    Istilahnya gwe dksh kehidupan lg buat memperbaiki ny? Iya ga? Soalnya nyonya lee nya ada bilang kegitu ..
    Tpi ttep bngung sih, penjabaran ny kurang soalnya, gegara onsehoot kali ya .. Ini dksh sequel boleh kali ya thor, kren nih .. Ahaha
    Bngung juga jdi sbner nya taemin tu siapa, anaknya gwe kah? Atw apa ya? Haha author ini ff pertama di lomba ini yang bkin aku pusiang sumpah deh ..
    Muter2 ini otak .. Keren thor kren, daebakkk

    • Sequel? boleh… tp gak di sini…
      Muter2 ya? klo gt,bsok2 aku kasih peta juga biar gak pada kesasar Lol😀

      Kamu juga daebak, daebak sekali bisa bca ff ini sampai akhir… pdhl ceritanya gak karuan ^u^

      Trims ya buat komentnya, moga terpilih jadi reader terkeren ^-^

  18. Jangan dijedotin aspal, sakit… djedotin tembok aja #sama aja😀

    Duh bingung ya? nmnya juga mimpi… hehe~ sayanya aja yg gk pinter buat cerita ^^

    khamsa atas komentnya ^_^

  19. thor mian. sya agak bingung.. sprtinya otak saya lambat soal bginian.. tp seru sih thor, saya jd hrus baca super hati2 biar bisa ngerti.. hhehe
    good job thor,

  20. mungkin saya emang bego ya… kalo dibaca lancar aja seru sih, tp kok masih nggak ngerti ya??? awalnya bingung urusan sihir, trus bingung ama gwe yg mirip ibunya jinki

  21. Rada bingung,,hehe,,,yang dijalani Gwe sama Jinki itu nyata atau ga? Hehehe,,,but,,,bagus thor ceritanya,,ampe bisa kebawa suasana mencekamnya,,,:D

  22. bingung di bagian cermin, nyonya rumah dan gwe sama?, jinki hanya khayalan aja?

    topik udah okay, mungkin author harus lbh santai nulisnya, gak terlalu cepat di kejar deadline, jdnya alurnya terkesan cepet banget dan terlalu banyak ruang kosong buat reader yang gak terjawab heheh.

    cheers! :))

  23. dari awal gue udah penasaran baca ini ff dan teruss terus teruuusss… bahasanyaaaaaa aku suka bhasanya,ini keren…
    ge hidupin jinki lagi itu hanya mimpi atau nyata?? gue binguuuung but ini bagussss…
    segitu cinta kah hingga menghidupkan jinki kembali?? tapi tetep aja jinki metong hufh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s