BSFC – STRANGER B

stranger

Judul: Stranger

Cast: main cast: JinBoon other: Taemin, Jonghyun

Genre: Romance

Rating: T

Length: 3949words/15p ms. word

Dihadapkan pada dua pilihan itu memang sulit.

Apalagi kalau kau tahu sebenarnya kau sangat mencintai dua hal itu.

 

 

Aku berjalan menyusuri trotoar. Jalanan sudah sepi. Tentu saja, ini sudah larut malam. Sesampainya dirumah aku pasti akan didamprat oleh Eomma. Baterai ponselku sudah habis sejak satu jam yang lalu. Aku juga tidak tahu daerah mana ini. Bodohnya aku yang tertidur di bus sehingga sampai terminal terakhir. Aku melihat jalanan juga sudah sepi. Hanya beberapa mobil yang lewat.

Kakiku pegal sekali, aku sudah berjalan selama 30 menit memakai high heels. Untung saja aku membawa mantel yang tebal. Kurasa aku tahu tempat ini, Oppa pernah membawaku kesini. Dan kalau tidak salah di belokan sana ada telepon umum. Ah! Itu dia.

Bahkan toko-toko sudah tutup, aku benar-benar clueless. Satu-satunya harapanku adalah menelpon Oppa. Kuangkat gagang telepon umum dan mulai menekan nomor teleponnya.

Lama sekali aku mendengar nada sambung. Aku menunggu dengan tidak sabar. Ku melihat sekeliling terdapat sekumpulan namja yang berada di ujung gang di seberang tempatku berada. Aku semakin tidak sabar. Aku pura-pura tidak melihat mereka agar mereka tidak curiga. Oh tidak, salah satu dari mereka menyadari keberadaanku. Kulihat dari sudut mataku ia memberitahu salah satu dari mereka yang sepertinya merupakan ketua kelompok. Sial mereka semua menuju kesini. Kututup telepon dengan agak kasar lalu mulai berjalan lagi. Entah hanya perasaanku atau tidak, aku berjalan terlalu cepat. Aku tidak perduli, aku hanya malas berurusan dengan sekelompok orang-orang macam itu. kalau pendengaranku tidak rusak, kurasa mereka juga mengejarku

Aku hampir sampai di pertigaan, sepertinya waktu kesini Oppa berbelok ke arah kanan berarti aku harus mengambil arah kiri. Saat aku sudah ingin berbelok, beberapa namja dari kelompok tersebut menghadangku. Sial, umpatku dalam hati. Aku kemudian berbalik, bagus sekali. Ketua kelompok mereka telah berada dihadapanku sekarang.

Dia tersenyum mengejek. “apa maumu?” tanyaku dengan nada yang kubuat tidak sebegitu panik. Aku bisa merasakaan bahwa anak buahnya semankin mendekat dan mengitari tubuhku, aku terjebak. Kuatur wajahku agar tidak terlihat ketakutan. “kau berada di wilayahku” ucapnya santai. “lantas?” kunaikkan daguku seraya menjawab pernyataannya. “kau harus membayar seuatu karna telah memasuki wilayahku?” ucapnya, “apa?” tanyaku lagi, “bagaimana kalau… bermain bersama kami, eum?” tawarnya dengan raut wajah yang sedikit membuatku gerah. “apa maksudmu?!” aku membentaknya, tetapi dia  tidak menggubrisnya. Kurasakan anak buahnya mulai mendekatiku, sama seperti dia. Dia mulai mengulurkan tanganya untuk meraih wajahku. Aku mundur selangkah dan menabrak salah satu anak buahnya. Kemudian aku menghindar lagi. Si ketua kelompok berhasil menyentuh pipiku, aku menepis tangannya “jangan sentuh aku” ucapku masih berusaha untuk tenang. Aku mencoba mencari celah diantara mereka tetapi nihil.

Tiba-tiba aku mendengar suara motor balap sangat teramat kencang. Dia datang dari arah kanan dan behenti tepat dihadapan segerombolan namja yang tengah mengelilingi ku dengan mengeluarkan bunyi decitan yang kencang. Semua menoleh kearahnya, termasuk aku. Dia membuka helm hitam yang ia kenakan lalu turun, menghampiriku dan menarik sikuku keluar dari sekumpulan namja tadi. Aku bisa merasakan dadanya menyentuh punggungku. Dia seperti melindungiku, seperti menyatakan kepada sekumpulan namja tadi bahwa aku berada dalam perlindungannya. “kalian tidak kapok juga ya?” ucapnya kalem, “ cepat kalian pergi sebelum kutelpon polisi!” gertaknya. Sang ketua kelompok menatapku dan orang yang berada di belakangku secara bergantian lalu mengajak anak buahnya pergi.

Aku menghela napas lega dan mengatur laju napasku. Aku merasa sesak, mungkin aku lupa bernapas tadi. Aku masih belum bisa mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Aku berbalik, orang itu telah berjalan ke arah motornya dan kembali memakai helm. “ayo kuantar kau pulang, aku yakin kau tersesat” ucapnya. Entah setan apa yang merasuki diriku, tetapi aku menuruti kata-katanya. Aku mengatakan alamat rumahku dan menaiki motornya. “lingkarkan tanganmu pada pinggangku, atau kau akan terjatuh” ucapnya, aku merasa ini terlalu aneh sehingga aku hanya memegang ujung jaketnya saja. Kemudian ia mulai berjalan. Awalnya ia berjalan dengan kecepatan standar, tetapi setelah keluar ke jalan raya, ia mulai menaikkan kecepatannya seperti sedang melakukan balap motor. Aku mulai ketakutan dan pada akhirnya melingkarkan tanganku dipinggangnya. Aku menempelkan kepalaku ke punggungnya dan mulai memejamkan mataku. Aku bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Biarkan aku berfikir nanti setelah kesadaranku pulih sepenuhnya.

 

Aku terbangun dan merasa sakit pada puncak kepalaku. Kulihat jam menunjukkan pukul 07:00 a.m. bagus, setidaknya aku tidak bangun terlambat hari ini. Aku harus bersiap untuk memasuki sekolah baru. Aku berharap setidaknya aku mengenal satu orang di sekolah baruku. Meskipun sejujurnya aku tidak terlalu suka mengobrol.

“Gwiboonnie~! Apakah kau sudah bangun?”

“ne Eomma! Aku sudah bangun!”

Kurasa aku harus bersiap sekarang, atau sebentar lagi Eomma akan naik keatas dan menyeretku ke kamar mandi.

Kulangkahkan kakiku satu demi satu diatas anak tangga menuju ke bawah. Bisa kulihat Appa sedang membaca koran dan Eomma masih sibuk menata piring diatas meja. Aku duduk dikursiku, tepat dihadapan Appa. Aku melihat ke sekelilingku “bagus” ucapku lebih kepada diriku sendiri. Appa menoleh ke arahku “ada apa?” tanyanya “tidak aku hanya berkata bagus, rumah ini sudah rapi meski kita baru pindah kemarin” jawabku ringan. Appa hanya mengangguk mengerti dan kembali fokus ke koran yang sedang ia baca.

“yeobo, sudah dulu bacanya, mari kita makan” Eomma datang kearah kami dengan membawa sup kimchi yang masih panas ditangannya. Kuangkat tanganku dari atas meja, mempersilahkan Eomma menaruh supnya diatas meja, dan aku mulai menuang sup itu ke mangkukku sesaat setelah Eomma menaruhnya di atas meja. Aku lapar sekali.

“kemarin kau nyasar kemana? Jonghyun sangat khawatir, ia mencarimu sampai larut malam” ucap Eomma. Aku menelan makananku gugup, “kemarin aku tertidur di bus sampa terminal terakhir. Dan aku tidak tahu jalan pulang, baterai ponselku habis aku mencoba menghubungi Oppa tapi tidak bisa” aku melihat ibu mengangguk mengerti. “semalam kau diantar pulang oleh siapa?”

UHUK!

Aku tersedak dan mencari air minum, meminumnya dan merasa baikan setelahnya. Eomma dan Appa melihatku bingung. “umm.. aku diantar oleh… teman” ucapku asal. “Eomma, Appa, aku berangkat dulu ya. Kurasa aku tidak boleh terlambat pada hari pertama di sekolah baru”

 

Aku keluar dari halaman rumah ku dan mendapati Jonghyun Oppa sedang berdiri didepan pintu pagar rumahku. “Oppa! Sedang apa kau disini, eoh?” tanyaku gembira. Aku buru-buru menghampirinya. “aigoo, tentu saja untuk menjemputmu. Ayo Oppa antar kesekolah barumu” ia mengacak-acak rambutku. “Oppa!” aku membentaknya dia hanya terkekeh. “tapi, sekolah Oppa kan jauh dengan sekolahku. Ck andai saja Oppa satu sekolah denganku” keluhku “oh ayolah Gwiboon, semangat! Lagipula sekolah kita tidak begitu jauh” ucap Oppa menyemangatiku. “baiklah, terserah. Ayo berangkat!”

Jonghyun Oppa. Dia adalah Kim Jonghyun. Dia adalah Oppa-ku. Tidak, meskipun marga kami sama tetapi aku bukan adik kandungnya. Jonghyun Oppa adalah anak dari sahabat Appa-ku. Dia tinggal di seoul sudah lama. Dulu sebelum aku pindah ke seoul, aku sering pergi main kerumahnya. Bahkan sampai menginap. Tetapi terakhir kali aku kesini sekitar musim panas 3 tahun lalu. Aku dan Oppa adalah satu. Kami kakak-beradik, setidaknya itu lah yang ada difikiranku saat aku berusia 8 tahun dan dia berusia 9 tahun. dan semua itu tertanam dalam diri kami sampai saat ini.

“nah, ini sekolahmu. Oppa pergi ya, fighting!” ia mengepalkan tangannya di udara. Aku menertawakannya. “hentikan Oppa. Kau memalukan. Baiklah sana cepat pergi” aku membalikkan tubuhnya dan mendorongnya pergi “annyeong~” teriaknya sambil berjalan pergi.

 

Aku memasuki sekolah baruku. Aku pindah kesini pada pertengahan semester dua dikelas satu SMA. aku melihat sesuatu di parkiran motor. Motor besar hitam, kurasa aku pernah melihat motor itu. kualihkan pandanganku mencoba mengingat sesuatu tentang motor itu sambil melangkahkan kakiku kedalam gedung sekolah.

Bruk!

“maaf” aku membungkukkan badanku secara otomatis. “hei, kau kim Gwiboon kan?” tanyanya “ya, panggil saja Gwiboon” ucapku sambil terus berjalan mencari ruangan untuk mengurus kepindahanku “aku Taemin, Lee Taemin. Kau bisa menjadi temanku sekarang. Butuh panduan mengelilingi sekolah ini? Kau panggil saja aku, okay?” ucapnya panjang lebar. Aku hanya mengangguk pasrah, kurasa dia teman yang cukup baik dan mudah bergaul dengan siapa saja, “hei Taem, kau tahu dimana ruangan untuk mengurus surat pindahku?” tanyaku cepat, “tentus saja, lewat sini Gwi”

 

Beli berdering menandakan pelajaran kimia mr. Jung telah selesai. Kelasku langsung kosong seketika setelah mr. Jung keluar dari kelas. Aku menutup bukuku dan berdiri menuju ke kantin. “Gwi, ayo cepat kita ke kantin!” suara Taemin terdengar sesaat setelah aku berdiri, entah bagaimana caranya, ia yang tadinya masih duduk dibelakangku sekarang telah berada di depan pintu kelas. “Taem, apakah kau selalu begitu cepat?” tanyaku asal, dia tertawa “jangan bodoh Gwi, aku ini bukan vampir seperti edward cullen” ucapnya lebih asal, aku terkekeh.

Kami duduk satu meja dengan teman-teman Taemin. Dia benar-benar perempuan yang supel dan eksis sepertinya. Sepanjang jalan menuju kantin banyak yang menyapa nya. Aku ragu apakah ada yang tidak mengenal Taemin di sekolah ini. Tiba-tiba kantin menjadi sepi, aku melihat ke sekililingku. Orang-orang tengah memerhatikan sekumpulan laki-laki yang baru saja memasuki wilayah kantin. Semacam gangster. Sepertinya aku tahu salah satu dari mereka, dia yang telah menyelamatkanku saat aku tersesat dan mengantarkanku pulang.

“hei, mereka itu siapa?” tanyaku penasaran, “mereka itu sekumpulan anak bermasalah. Seperti gangster. Tetapi ya tidak pernah mendapat hukuman dari sekolah, karena mereka melakukan aksinya secara diam-diam. Bagaimana ya, kabar paling buruknya sih salah satu dari mereka pernah menghabiskan 10 orang sekaligus” ucap salah satu teman Taemin bernama Dongwoon. “yang mana?” tanyaku lagi “Lee Jinki, yang berambut coklat dan kemejanya keluar-keluar itu” kali ini Taemin yang menjawab. Aku tersenyum dingin. Lee Jinki, dia lah yang menyelamatkan ku. “kau lebih baik jangan berurusan dengan mereka Gwi, terutama si Lee Jinki itu” ucap Dongwoon lagi, “ya, mereka tidak baik. Kalau kau butuh teman, ada kami” Taemin menambahkan. “tidak, aku tidak ingin berurusan dengan mereka, aku terlalu… takut?” aku terkekeh. Kemudian melirik ke arah kumpulan laki-laki itu, tepatnya orang itu.

 

Aku berjalan menuju lokerku. Bel pulang sudah berbunyi dari tadi dan Taemin sudah pulang duluan, sementara aku harus mengurus beberapa hal dulu. Kubuka lokerku dan menaruh beberapa buku untuk besok dan mengecek apakah ada tugas untuk besok. Menempel jadwal kelasku di pintu loker, lalu menutup loker dan mengunci nya. Aku memutar tubuhku dan terperanjat. “hai, kau kim Gwiboon kan?” ucapnya. Aku menatapnya bingung. Dia, Lee Jinki, sedang berada dihadapanku dengan senyumnya yang lebar. Pipinya yang gembul membuat seakan-akan matanya hilang. Tunggu. Sepertinya aku lupa bagaimana caranya untuk bernafas. Aku mengumpulkan kembali konsentrasiku “ya, dan kau adalah Lee Jinki” jawabku. “kebetulan sekali kita satu sekolah, kau ingat kan kalau aku yang menyelamatkanmu waktu itu?” tanya nya masih dengan senyumnya itu. ku rasa aku akan pingsan sebentar lagi. Kesan sangar dan menakutkannya hilang begitu saja. Yang ada hanya Lee Jinki dengan wajah mempesonanya. “tentu saja, kau tidak berubah sama sekali kok” kataku asal. Dia terkekeh, “jadi kim Gwiboon..” “Gwiboon saja” potongku cepat “baiklah Gwiboon, selamat datang di sekolah ini” ucapnya, aku bisa melihat matanya, ia mengatakan hal ini tulus. Tapi tunggu, aku penasaran apa yang membuat ia melakukan hal ini kepadaku? Apakah ia akan mengerjaiku? Atau apa?

“terimakasih” jawabku singkat. “kau kelas berapa, eum?” tanyanya lagi. “kelas satu, kau?” tanyaku mencoba mengubah suasana agar tidak terlalu awkward. “aku kelas tiga” “oh, berarti sebentar lagi akan lulus. Semangat!” ucapku sambil mengepalkan kedua tanganku ke udara. ia kemudian tertawa dan menaruh tangannya disamping kepalaku. Aku merasa sangat bodoh buru-buru kuturunkan tanganku. “Gwi, kurasa aku menyukaimu” ucapnya tiba-tiba. Aku menatapnya bingung. Ia melihat jam tangannya lalu kembali menatapku, “kurasa aku harus pergi, annyeong Gwi” ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menempelkan bibirnya pada pipiku kemudian pergi begitu saja. Aku menatap punggungnya dari jauh. Bingung. sikapnya sangat teramat ramah, berbeda 180 derajat dari apa yang dibicarakan oleh Taemin dan teman-temannya. Di saat seperti ini, aku bingung harus percaya kepada siapa.

 

“hallo Oppa, bisakah kau menjemputku? Ne? Kau sudah berada di gerbang? Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu sih? Baiklah aku akan kesana” aku menutup telepon dan berlari menuju gerbang. Fikiranku benar-benar sedang tidak beres sekarang. Aku butuh bersama Oppa. Sesampainya di depan, Oppa tersenyum ke arahku, “Oppa, ayo kita main!”

 

“Eomma, Appa aku berangkat nee~~!” teriakku seraya memakai sepatu. Aku berlari keluar rumah, membuka pintu pagar dan menutupnya perahan. Mencoba agar tidak membuat keributan di pagi hari yang masih sepi ini. Saat baru ingin melangkahkan kakiku menuju halte bus, tiba-tiba ada motor hitam berhenti dihadapanku. Kurasa aku tahu siapa dia.

Namja itu membuka kaca helmnya, “Gwi, ayo naik. Kau terlambat” ucapnya. Aku mengangguk dan menaikki kursi penumpang di belakang Jinki. “kau tidak akan melakukan hal yang samakan, Gwi?” tanya Jinki membuatku teringat saat aku akan terjatuh waktu itu. kurasakan pipiku memanas, aku pun mulai melingkarkan tanganku di pinggangnya.

 

Sesampainya di sekolah, aku turun dari motor Jinki dan menunggunya melepas helm. “aku tidak percaya kita hanya menghabiskan waktu lima menit untuk kesini, biasanya aku berjalan kaki sekitar 20 menit dan naik bis sekita 10 menit” ucapku polos. Jinki telah turun dari motornya. Ia terkekeh mendengar ucapanku. Sepertinya hal itu menjadi hal yang kusuka mulai saat ini. Ia kemudian melingkarkan tangannya dibahuku. “ayo kuantar ke kelasmu” ucapnya sambil tersenyum. Sepertinya aku terhipnotis. Aku mengikutinya. “sonbae—“ “Jinki” potongnya, aku menghela nafas, “Jinki, apakah kau merasa ada yang aneh?” tanyaku. Aku melihat ke sekeliling, seperti orang-orang memerhatikan kami. “apa yang aneh?” tanyanya seolah tidak merasakan perubahan sejak kami datang. “aneh seperti, semua orang melihat ke arah kita?” ucapku. Ia kembali terkekeh “tidak, hanya halusinasimu saja”

Benar saja, ia mengantarku sampai kelas. “Jinki, aku—“ “annyeong, Gwi” ucapnya lalu mencium keningku sekilas. Aku menatap punggungnya pergi dengan wajah jengkel. Apa-apaan dia. Aku membalikkan tubuhku dan memasuki kelas. Kesal sekali, aku baru saja ingin berterimakasih tetapi dia sudah pergi duluan. Bel berdering berbarengan dengan aku menjatuhkan pantatku dikursiku.

 

“Taeminnie, ayo kita ke kantin. Aku lapar” ajakku kepada Taemin. “kenapa kau tidak pergi bersama si Jinki saja” ucap Taemin sarkatis “yaampun kau ngambek karna aku tidak mendengarkan omonganmu?” tanyaku serius, “tidak, aku ngambek karna kau tidak pernah cerita kepadaku, Gwi” ucap Taemin, aku kehabisan kata-kata “maaf” lirihku. “ceritakan semuanya padaku baru kau kumaafkan” ucap Taemin. “well, aku bukan otipe orang yang suka bercerita sih. Kau tahu kan aku baru saja pindah dari daegu. Sebelumnya aku pernah tersesat dan Jinki menolongku itu saja. Tetapi aku baru mengenalnya saat masuk ke sekolah ini” ucapku jujur, ia menatapku seakan memikirkan sesuatu. “baiklah, aku mempercayaimu” ucap Taemin, “ayo kita ke kantin!” ia kemudian menarik tanganku.

Aku melangkahkan kakiku keluar kelas, membiarkan Taemin berjalan duluan bersama teman-temannya. Dari awal memang aku kurang bisa membaur dengan mereka. Bukannya aku tidak suka, hanya saja sikapku yang memang tidak bisa mengobrol terlalu banyak. tetapi bagaimanapun, mereka tetap mengajakku untuk bergabung. Sangat baik. Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan menarikku, aku menoleh “Jinki?” ia hanya tersenyum. “kira-kira kalau aku bergabung bersama teman-temanmu boleh tidak ya?” tanyanya, aku mengangkat bahuku. Setibanya dikantin aku memutuskan untuk mengambil makanan terlebih dahulu dan Jinki mengikutiku. “kau tidak makan?” tanyaku melihat ia tidak mengambil makanan sama sekali, hanya memerhatikan gerak-gerikku. Ia menggelengkan kepalanya.

Aku membawa nampan berisi makanan menuju bangku tempat biasa aku duduk bersama teman-temanku. “hei—“ “bolehkah aku bergabung dengan kalian?” lagi-lagi Jinki memotong perkataanku. Hening. “b-boleh saja” akhirnya Taemin yang membalas. Jinki kemudian mengambil satu bangku lagi dari meja lain dan duduk disampingku. “porsi makanmu besar juga ya” ucap Jinki. Aku menatapnya kesal. “apa?” tanyanya bingung “lupakan” ucapku lalu mulai makan.

 

PERPUSTAKAAN

Kubaca tulisan yang tertera didepan pintu sebuah ruangan yang selama ini kucari. Aku membukanya dan membungkukkan badan kepada penjaga perpustakaan. Saat ini jam pelajaranku sedang kosong. Kudengar mr. Kim, guru bahasa inggris-ku, sedang sakit. Aku tidak tahan dengan suasana kelas yang sangat berisik jadi aku memutuskan untuk kesini. Lagipula, sudah lama aku tidak membaca buku. Aku menemukan buku cerita fiksi yang menurutku bagus, mengambilnya dan membawanya ke tempat duduk. Aku mulai membaca.

Beberapa menit berlalu, aku merasakan ada yang memperhatikanku dari arah samping. Entah sejak kapan ada orang disampingku. Aku menoleh dan mendapati Jinki sedang memerhatikanku. “apa?” tanyaku bingung. “tidak, lanjutkan saja membacanya. Aku suka ekspresimu” ucapnya. Aku tidak menghiraukannya lagi dan mulai membaca. Tiba-tiba tangan Jinki terulur membenarkan poniku yang terjatuh lalu mengelus-elus pipiku,  “Jinki!” aku sedikit membentaknya, “Gwi, kau cantik, aku menyukaimu” dia menghiraukan ucapanku. Pipiku memanas, aku mengalihkan pandanganku.

 

Aku merasa akhir-akhir ini dunia ku dipenuhi oleh Jinki. Dia dengan bagaimanapun caranya, entah kebetulan atau sengaja, akan menjemput dan mengantarku pulang. Dan setiap ke kantin ia selalu ada bersamaku. Dan anehnya, aku tidak merasa keberatan. Aku justru merasa senang. Dia juga tidak ragu-ragu melakukan banyak skinship denganku. Meskipun terkadang aku harus menanggung malu sendiri. Tetapi aku menyukainya. Aku dan Jinki seperti sepasang magnet, yang tidak bisa dipisahkan.

Kulangkahkan kakiku keluar gerbang sekolah, Jinki berkata kalau aku harus menunggu di depan. Aku hanya bisa menurut. Tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang, ia membawaku samping gerbang sekolah. “Jonghyun… Oppa?” ucapku berusaha meyakinkan pengelihatanku sendiri. Dia berhenti tiba-tiba dan membalikkan tubuhnya.

“Gwiboonnie!” kurasakan ia setengah berteriak frustasi. “ya?” jawabku bingung. “apakah kau tidak menyukai Oppa lagi?” tanyanya yang semakin membuatku bingung. “apa maksud—“ “jawab saja!” ucapnya lebih keras, “tentu saja tidak” jawabku pasrah. “apakah kau marah pada Oppa sehingga tidak ingin bermain lagi dengan Oppa?” tanya Jonghyun, “apa? Tentu saja tidak! Oppa kenapa sih?!” tanyaku semakin jengkel dengan sikap anehnya. “Gwi, kenapa kau mengacuhkanku?” tanyanya dengan suara lirih. “apa kau sudah mempunya pacar, Gwi?” dia menatapku penuh harap, matanya seakan menyuruhku untuk diam. Kemudian ia memegang kedua bahuku “Gwi, saranghae” ia menempelkan bibirnya di bibirku. Aku diam, masih merasa bingung dengan apa yang terjadi. Kurasakan mataku berair dan terus mengeluarkan air, aku menangis. Yang ada didalam fikiranku hanya Jinki, dan Jinki. Aku takut Jinki marah melihat hal ini, kumohon Oppa akutidak menginginkan hal ini. Aku mendorongnya sekuat tenaga. Aku menghela napas berat, “maafkan aku, Oppa….” ucapku menatapnya kecewa, “I do love you, tetapi sebagai Oppa. Kukira Oppa adalah pelindungku, tetapi aku salah. Aku kecewa Oppa. Aku membencimu!” aku pergi meninggalkan Oppa yang masih berdiri ditempatnya, kurasa dia tidak mengejarku. Aku berlari menuju halte, merasa kecewa dan sakit hati karena merasa dikhianati oleh Oppa-ku sendiri. aku mencintai Oppa, tetapi Jinki. Apa yang harus kulakukan sekarang?

 

“Gwi, kau seperti zombie” komentar Taemin saat aku baru memasuki kelas. Aku menghela napas dan menaruh tas dibangkuku yang tak lama kemudian terjatuh. Aku kembali menghela napas. “Gwi, kau tahu, menghela napas dapat menyedot banyak kebahagiaan” komentar Taemin lagi dan lagi. “maafkan aku Taem, kita sudah membahas hal ini. Aku berjanji akan kembali seperti semula lagi okay?” ucapku memelas pada Taemin. “I’m waiting Gwi, tapi ini sudah satu bulan lebih,kau—“ “stop! Aku tidak ingin moodku berubah menjadi jelek karna ceramahanmu ini”  ucapku sarkatis, “mian Gwi” tamin menundukkan wajahnya. “sudahlah Taem, ini semua salahku. Aku tidak perlu merasa bersalah” bel menandakan bahwa percakapan kami berakhir.

Ini sudah satu bulan lebih aku tidak berhubungan dengan Oppa maupun Jinki. Jinki yang tiba-tiba menjauh dan aku yang memang sengaja menjauh dari Oppa. waktu itu, setelah kejadian di depan sekolah, aku mengurung diri di dalam kamar, dan untuk yang pertama kalinya aku bercerita kepada Taemin. Semuanya, dan dia juga yang menyadarkan bahwa aku. Dengan bodohnya, telah jatuh cinta kepada orang yang dianggap paling berbahaya, Lee Jinki. Aku tidak pernah berusaha menghubungi Jinki ataupun Oppa. Aku hanya merasa dengan begini, semua akan berjalan seperti sebelum aku mengenal Jinki, dan sebelum Oppa mengatakan bahwa ia mencintaiku. Tetapi hatiku tidak menerimanya, ia terus berkata bahwa Jinki meninggalkanku, ia terus berkata bahwa Jonghyun-Oppa mencintaiku. Sejujurnya, aku lelah menjadi seperti ini. Aku tahu, dan Taemin telah memberitahuku untuk berbicara kepada mereka berdua, hanya saja aku tidak siap.

 

Malam ini Oppa menelponku, ia bilang ia ingin berbicara dan akan menemuiku didepan rumah setengah jam lagi, jadi kuputuskan untuk menunggunya diluar. “hei, Gwi” sapanya, “Oppa, lama tidak bertemu ya” ucapku, benar-benar kehabisan kata-kata “maafkan aku Gwi” kini aku tidak tahu harus berbuat apa, “Oppa akui Oppa salah, Oppa terlalu takut kehilanganmu. Oppa mencintaimu Gwi, tetapi sebagai adik. Dan lagi, Oppa telah menemukan belahan jiwa Oppa” ucapnya merasa bersalah, mukanya yang murung dan bahunya yang turun membuatku ingin memeluknya. “apa?! Oppa telah menemukan belahan jiwa Oppa? tega sekali kau Oppa, tidak kuhubungi selama sebulan ternyata malah mencari cewek” gerutuku kesal, “aigoo adik Oppa telah kembali” ucapnya lalu mencubit pipiku

“adik apanya! Cih” ucapku “baiklah! Maafkan aku kim Gwiboon, please? Nanti Oppa traktir es krim selama sebulan ne?” dia berusaha membujukku, memangnya aku ini apa. “rasa stroberi? Eum? Bagaiamana?” aku menghela napas berat. “baiklah kau kumaafkan Oppa, dan jangan lupa pada janjimu” dia kemudian terkekeh mendengar ucapanku “kalau begitu masuklah, sudah malam dan cuacanya dingin” “Oppa juga cepat pulang ya” kataku mengingatkan, “tentu saja, selamat malam Gwi” ucapnya disertai senyum menawannya, “malam, Oppa” Memasuki rumah dengan perasaan sedikit lebih ringan, setidaknya hubunganku dengan Oppa telah membaik.

 

“berhentilah bersikap kekanakkan Gwi, kau harus berbicara padanya”, aku menghentikan makanku lalu menatap Taemin, “dia itu siapa? Aku telah berbicara pada Oppa” ucapku berpura-pura tidak tahu. Aku sungguh malas memasuki topik ini. “ya, karna dia lah yang mengajakmu berbicara duluan Gwi, tapi tidak dengan Jinki. Dia marah padamu Gwi, kau yang harus berbicara padanya” ucap Taemin sarkatis, “kau gila? Saat berpapasan saja ia berpura-pura tidak mengenalku, bagaimana kalau nanti aku memintanya untuk berbicara. Bisa-bisa aku ditendang” ucapku asal, “kau belum mencobanya Gwi” “aku orang yang cukup waras untuk mengetahui situasi Taem, jangan bodoh” kurasa aku sudah keterlaluan, Taemin mengeluarkan glarenya, “baiklah aku minta maaf, aku akan berbicara padanya, nanti” aku mengalah.

Setelah selesai makan, aku dan Taemin pun bergegas pulang. Padahal rencananya kami akan pergi berbelanja bersama tetapi tiba-tiba Taemin di telpon ibunya untuk cepat pulang. Aku tidak tahu pasti, yang jelas ia harus pulang sekarang. Dan pada akhirnya aku ditinggal sendiri lagi.

Kulihat teman-teman Jinki sedang berada di parkiran, sepertinya mereka juga baru pulang. Apa Jinki ada disana. aku melangkahkan kakiku menuju parkiran dan melihat Jinki disana. aku berjalan ke arahnya. Kurasa teman-temannya mengerti sehingga mereka langsung pergi dari tempat ini. “Jinki” aku memanggilnya, ia pura-pura tidak dengar dan sibuk dengan motornya. “Jinki kita harus bicara” “tidak ada yang perlu kukatakan” “baiklah kau hanya perlu mendengarkan dan menjawab beberapa pertanyaanku” aku mulai memaksanya, “please?”

Jinki kemudian melepas sarung tangannya, dan mencabut kunci motornya, tidak jadi pergi. Aku menang. “ikut aku” aku menarik tangannya keluar dari parkiran. “katakan kenapa kau menjauhiku selama satu bulan ini?” aku mulai bertanya padanya, “dengar Gwi, kita tidak seharusnya bersama. Bahkan untuk mengenal satu sama lain pun kita tidak boleh. Kenapa? Karena aku adalah orang jahat, aku adalah monster Gwi. Kau tidak seharusnya membiarkanku memasuki kehidupanmu” ucapnya sarkatis, aku menatapnya kesal, “lantas kenapa kau waktu itu kau menyelamatkanku Jinki? Kenapa saat aku masuk kesekolah ini kau malah menyapaku dan memasuki kehidupanku?” tanyaku, “anggap saja itu sebuah kesalahn” “tidak Jinki, kumohon hentikan semua ini. Sebentar lagi ujian akhir aku tidak ingin hal semacam ini menggangguku!” aku mengerang kesal “kalau begitu lupakan saja Gwi, lupakan aku. lupakan aku pernah ada di kehidupanmu. Dan pergilah bersama Oppa-mu itu” ucap Jinki, bisa kurasakan sikap dinginnya persis saat pertama aku bertemu dengannya. Dan dia pergi.

Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata Jinki ada disana! Jinki melihatku bersama Oppa. aku berbalik kearahnya, “Jinki!” berlari dengan tidak sabar, sejenak aku merasa semuanya berjalan sangat lambat. Aku mengejar Jinki yang sudah beberapa meter jauh dariku.
Grep!
“Jinki, I love you” aku memeluk punggungnya lagi, “Gwi—“ “I love you, Jinki” potongku cepat “Oppa – maksudku Jonghyun hanyalah kakakku, kumohon percayalah padaku Jinki” aku memohon kepadanya lagi. Ia melepaskan pelukanku. Dia…. menolakku? aku merasa akan jatuh sekarang. tetapi ada sesuatu yang menahan pinggangku, sesuatu yang hangat tengah memelukku. “J-jinki?” “aku juga mencintaimu,Gwi” ia mengecup bibirku singkat, “untuk menghapus bibirnya dari bibirmu” ia mengecup bibirku lagi tetapi lebih lama, “untuk menandakan bahwa bibirmu adalah milikku” aku tersenyum aneh, “Jinki, jangan bodoh” ucapku karena merasa ini sangat aneh “tidak bodoh Gwi, kau milikku!” protes Jinki, “kau kekanakkan Jinki” balasku lalu mendorong tubuhnya, “hei, aku lebih tua darimu kim Gwiboon!” Jinki mulai merajuk.

 

Inilah akhir yang bahagia, cinta boleh jatuh pada siapa saja tetapi pada akhirnya hatilah yang harus memilih. Cinta mungkin buta, tetapi ia tidak bodoh. Jadi, apakah kau sudah menemukan cintamu?

26 responses to “BSFC – STRANGER B

  1. Ini gwi nya kelas 1 kan? Koq ada ujian akhirnya yah?
    Oh ya, temin koq udah tau nama gwiboon pdhl mreka blm kenalan?
    Seruu,, akhirnya jinki gak slh paham lg ama gwi..
    Tapi ada beberapa kalimat yg membingungkan di bgian gwi marah ama jonghyun..
    sbaiknya kalo kalimat percakapan antara 2 org jgn dijadiin 1 paragraph,,
    slbihnya bagus koq, semngat ya author,,

  2. kesan yang timbul seperti mendengarkan teman kita sedang bercerita, bahasa yg digunakan terlihat seperti pemikiran yg keluar begitu saja, hm… belum dapat feelnya, mian… paragraf yang dicampur dgn percakapan sebaiknya dipisah, beri jeda juga untuk dialog-dialognya biar nyaman dibaca. SEMANGAT buat karya selanjutnya!!!^^

  3. Aga pusing di dialog nya ..
    Harusnya jangan disatu kalimatin gitu, ehehe
    Tapi aku suka ini ..
    Kirain jinki nya mainin gwe gitu, tp untunglah ngg .. Huhu
    Cieee jjong udah nemuin belahan jiwanya, siapa siapa? Gegey unnie kah? Wakakaka
    Lucu yang pas jinki cium gwe buat nghapus bekas bibir jjong, ahahaha kaya lagu itu ..
    Fighting authorr

  4. aku pusing baca pas bagian dialog….
    harusnya d pisah ya, biar enak bacanya.
    aku selalu suka kalo Jinki jd badboy, tp Jinki nya kok cepet menyerah sih…
    goodluck…lanjutkan menulis…hwaitting \\¤_¤//

  5. alur.a buru2 yah,,, huuufffttt tapi keren kok,,,
    Oyah ini aq yg lemot ato gimana coba, itu jinki maen suka2 aja ama gwe,,, apa alasannya coba? Terkesan maksa banget kan?????

    Wkwkwk jjong lo nape maen nyosor aja sih???? Dasar pervert emang wkwkwk,,,
    Eh itu jinki kan crita.a anak nakal yah?? Kalo mnurut aq sih mending d bikin sedikit adegan si jinki ngerusuh biar karakter.a lebih kuat,, kalo cuma taemin yg bilang anak gengster tapi si jinki adem ayem aja tuh di sekolah, penampilan bolehlah slengek.an tapi sifat.a nggak kan (?)

  6. alurnya kecepetan deh kayaknyaaaa, padahal ceritanya bagus, coba lebih ga kecepetan.
    Disini onew bad boy tapi gadikasih liat kebadboy-annya hoho.

  7. sweet badboy jinki,aku suka😀
    cara jinki ngegombalin gwiboon itu loh,kyaaaa!!
    alur ceritanya cukup rapi,ide ceritanya jg bagus. typonya juga dikit. tapi,kenapa pas baca ini aku malah kebayang edward sama bella ya?ehehehehehe
    oh iya,saran sedikit ya author-nim, penulisan imbuhan kalau diikuti tempat itu harus dipisah🙂
    semoga bisa diperbaiki di karya selanjutnya,hwaitiiinggg^^

  8. yeeeeeyy, akhir ny jinboon bersatu xD
    Aduh jjongiee, kmu maen nyosor ajahh, *ngadu k gegey unn*
    Gimana jinki ga salah paham klw dia liat jjong poppo gwiboon, aiguuuuh!?
    Tpi happy ending, gud job author😀 xD

  9. Like this…^^
    Jinki…Stranger yang mengubah hidup gwiboon..
    Sedikit bingung pas percakapannya.. Tapi alur plus ide nya bagus..
    Semangat thor…

  10. huwooo, suka cerita2 tipe romance gini…
    Ehm, aku suka. Ceritanya ringan, tp manisnya dapet. Jinki udah cinta ma gwe dr awal ketemu ya?
    Hoho, dasar jinki lom jadian udah cium2 pipi. Haha

  11. heummm… ini salah satu ff lomba kan???
    ini ff pertama looh yg aku baca #g ada yg nanya =,=a

    kasian bgt si gwi di awal cerita kesasar n hampir digodain preman jalan… aku penasaran deh yg jadi premannya siapa… resek amat colek-colek pipi gwiii… huhhhh #plaaak #lempar spatula ke preman :[]

    rasanya saya masih butuh penjelasan pas jinki nolongin gwi… itu ceritanya si gwinya jatuh gedubrag wktu dibonceng jinki, begitu???
    hhahhaahahhahaha… parah lah si gwi… apa bdnnya terlalu ringan ampe di hempasin angin? =____=a

    heum.. tapi syukur deh gwi udah mpe rumah dgn selamet…
    jinki~ya~~~~~~~ aigoooo… kenapa kau itu seksiii banget #yadong kumat
    apalagi ngebayangin jinki jadi ketua genk… wowwwww… so COOL…😄

    endingnya aku suka… ^^
    sweet bgt si gwi akhirnya berani katakan cintaaa….
    cieeeehhh cieeeh.. yg lagi poppo…
    Jinki, gwiboonie~ itu masi di sekolah looh… #brb ambil handicam ^^V

  12. Hahahahahaha… Aku ngbyangin jinki nylamatin gwe pake mtor htam, helm htam, dan jaket htam mngndarai mtor blap sprti valentino rossi… Itu adlah adegan Cita2 ksah prcintaanku semasa HIGH SCHOOL ku dlu yg gk ksmpaian.
    *nasib ya nasib ya nasib… ¤nyanyi dangdut¤
    Aku kira jinki suka ama gwe krna truhan ama tmen2 brandlannya krna biasanya brandalan susah jtuh cinta scpat itu *ingat prcintaan yume & matsukaze shoubu*.
    Trnyata slah. Aku kra jjong akan brkelahi ngrbutin gwe krna jjong ngrasa lbh pntas buat gwe. Trnyata slah lg. Hahahahahaha… Ya nasib ya nasib…
    #nyanyi lg

  13. haha ff ini manis banget ane deman banget

    suka banget ama scen akhir.a
    sweet banget dah ni ff

    ane uda menemukan cinta ane #nunjuk key

    hwaiting thor

    bye. . .

  14. Annyeong Author-nim^^~
    senang akhirnya Jinki bisa bersama Gweboong.
    Tapi mengenai tata bahasa/uhuk/
    Author kan nulis gini:
    -Dia tersenyum mengejek. “apa maumu?”
    kalo itu dalam paragraf dan ada dialog jika ditutup dengan tanda titik maka awal dialog harus pake huruf kapital. Kalo ditutup dengan tanda koma baru awal dialognya pake huruf kecil.
    Dan juga ini:
    -“ne Eomma! Aku sudah bangun!”
    kalau itu di awal paragraf atau merupakan dialog makau huruf awalnya harus huruf kapital.
    Dan ini:
    -keatas
    -diatas
    kalau imbuhan di dan ke digunakan untuk menunjukkan tempat. Maka harus dipisah dengan kata dasar.
    Dan ini:
    -seoul
    -mr. Jung
    kalau menunjukkan tempat, daerah, sapaan harus huruf awalnya pakai huruf kapital><.
    Di ff ini kebanyakan pakai narasi si tokoh utama, dan dialognya pun ada dalam satu paragraf.
    Coba kurangi narasi atau ganti sudut pandang. Dan jangan ragu-ragu buat bikin dialog terpisah dari narasi^^
    suka banget sama posternya X)
    dan juga pas Jinki bilang kalau Gweboon itu miliknya. Acccckk!!!
    Hwaiting Thor!!

  15. Jinki itu aslinya emang badboy… kagak ada yg tw kn? saya juga…

    jinki, I love you… gwi, I love you.. thor, I love you… cie cie cie~ suka deh ma tiga kata itu🙂
    Dasar emang udh jodoh, mau tu preman atau biksu,, gwe pasti milih jinki… Ah~ kasihan jjong. Ma aku aja bang, boncengan dibelakng nganggur noh,,,

    Jinki bilang dia moster?,,, hua~ di otak saya lngsng kebayang jinki jd vampir, haha~ salah.. jinki hnya seorang badboy yg gwiboon cintai..
    Saya suka banget ma karakter mreka di sini,, ceritnya jd sweet gmn gitu ^^
    Keren thor ^_^
    Endingnya jg pas, gk lebih… gk kurang,, kurang dikit boleh ngutang lah : D

  16. ini walaupun alurnya kecepetan tp aku msh bs nikmatin ceritanya… bagus ceritanyaa.. bad boy jinki kyaaa aku suka, n karakter gwe yg biasa cerewet dsini jd ga banyak omong.. jarang2 gwe begitu xD untungnya jjong udah nemuin belahan jiwanya jd ga kejar2 gwe lg n jinboon bersatu \o/

  17. ff nya bagus sukaaa..
    tp syang part dialog agk dipisah iah biar g bkin bngung..

    tyuz tuh kok taeby lgsg knal ma gwe iah? aneh bgt…
    untung wktu gwe nyasar da babeh jinki yg nolongin…

    jjong knp lu khilaf gtu.. blng ska ma gwe tyuz poppo gwe…
    aigooo babeh cmburu trnyta..
    gangster bsa cmburu jg..

    akhirnyaaa slsai salam paham nya..
    mauu donk d hpus jejak poppo nya..

    babeh jinki mah garang tp melo boo.. keke😄

  18. Chu..
    Ini untuk jinki yg udah bikin gue kesemsem.
    Chu..
    Ini buat gwi yg makin buat gue suka sama dia..
    Chu..
    Ini untuk onkey yg semakin sweeeeet aja..
    Dan ciuman gue ga akan pernah abis buat onkey karena udah bikin gue mesem-mesem sendiri..
    Mpe murid gue bilang kalo gue ga waras..

    Hahahaha

    daebak ff nya thooorrr

  19. Endingnya sweet ^^
    Ngebayangin jinki ala badboy itu serasa iblis bertubuh malaikat wkwkwkwk
    Tp ttep sikap cemburu’a ke gwe itu “sesuatu” banget
    ><
    Ngeliat sswatu bukan'a diklarifikasi malah main ngambek segala…
    Ckckckck

  20. berterimakasihlah pada peman2 kampung itu gwe, krn berkat diganggu mereka jinki nolongin lu dan kepincut kekkeke
    jong perhatian yah akh andai kakak gue ke gtu..
    yg aneh adalah pas part awal taemin langsung tahi gwe,bukankah gwe anak baru?? daaaaaaaaaannn yak yak yak lee jinki itu masih disekolah,udah kissunyaaaaa..

  21. kalo gweboon nggak tersesat mungkin dia nggak bakal ketemu jinki.
    mungkin kalo gweboon nggak pindah sekolah dia nggak bakal ketemu sama jinki..
    wuah ternyata jonghyun ada rasa ama gweboon.
    trus jinki liat waktu jonghyun nyium gweboon pasti cemburu lah.
    omongannya taemin didengerin juga kan ama gweboon.
    kalo gweboon nggak mulai buat nyapa jinki duluan pasti nih masalah nggak kelar kelar. trus mereka ampe sekarang pasti blm bersatu😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s