BSFC – ALARM CLOCK A

Cover Alarm Clock 2min

Judul : Alarm Clock

Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Kim Gwiboon, Lee Jinki, Kim Jonghyun

Genre : Life, Romance, Tragedy

Rating : T

Leght : OneShoot (3.141 Words)

Yeahhh akhirnya kecapai juga buat tuntasin ff ini. Maaf ceritanya gaje banget hahahaha. Maklum waktu bikin lagi sakit gigi (Apa hubungannya? -,-a) Judul sama cerita ga ada hubungannya haha (Udah dua kali ngulang kata ‘hubungannya’), tapi dalam syarat ff lombanya gapapa kayak gitu kan? Hehe

=============

“Pulang sekolah cepatlah ke rumah. Lakukan pekerjaanmu, mengerti?” Aku hanya diam tak menjawab. Entah ia bodoh atau benar-benar bodoh. Ribuan kali ia mengatakan itu setiap pagi sebelum aku berangkat ke sekolah. Ya, terkecuali hari minggu.

Wanita itu, yang mengatakan kata-kata barusan, bisa dibilang orang tuaku sekarang. Sebenarnya, ia adalah kakak dari ibuku, tetapi karena kejadian 10 tahun silam yang merenggut kedua nyawa orang tuaku membuat predikat ‘bibi’ pada wanita itu berubah menjadi orang tua asuhku.

Aku tidak suka mengatakan ini, tapi ia adalah makhluk paling mengerikan yang pernah aku temui. Hari-hariku dipenuhi pekerjaan rumah tangga, dari mulai mencuci, menyapu, mengelap jendela, menggosok baju, ah… semuanya! Padahal aku yakin ia tahu, aku harus mempersiapkan diri untuk ujian. Tinggal 5 bulan lagi aku akan lulus sekolah.

“Aku pergi.” Kataku dingin lalu menutup pintu dengan sedikit keras. Masa bodoh ia akan marah atau apapun karena aku segera berlari setelah menutup pintu.

Aku tidak terlalu ambil pusing terhadap perlakuannya itu, yang pasti aku hanya menginginkan uang darinya untuk biaya sekolahku. Untungnya, ia bekerja dengan gaji yang lebih dari cukup untuk membiayai kami. Kami? Ya, kami hanya tinggal berdua. Sudah kukatakan tadi jika ia benar-benar bodoh kan, ia lebih mementingkan uang dan tidak menikah. Kurasa orang pintar tak akan melakukan hal itu. Contohnya seperti aku ini, aku berharap memiliki pasangan yang kucintai suatu saat nanti.

“Taeminnie~” Gwiboon tiba-tiba muncul dihadapanku saat aku baru saja sampai di pekarangan sekolah. Gwiboon sahabatku satu-satunya. Ia sangat cerewet dan dekat dengan banyak orang. Tapi tetap saja jika ia membutuhkan sesuatu, ia akan mencariku.

“Pssst sstt.. Ada Minho.” Katanya lagi dengan berbisik di telingaku. Aku mengalihkan pandanganku pada sosok namja yang berada di depan kelas yang sedang tersenyum dengan wajah tampannya.

Gwiboon hampir menempelkan bibirnya yang katanya seksi itu ke telingaku lagi, “Minho mungkin saja menyukaimu, Minnie~”

“Hah? Kamu pintar sekali mengarang, Gwiboon. Pasti nilai mengarangmu paling bagus.” Selalu dengan pikiran anehnya. Mana mungkin seorang Choi Minho, anak yang populer di sekolah menyukai aku yang bahkan anak kelas sebelah saja pasti mengaku tak pernah melihatku.

Minho, pria itu salah satu alasan yang membuatku semangat ke sekolah. Bagiku hanya ada satu hal yang membuatku senang, yaitu sekolah. Selain bisa terlepas dari wanita ‘tukang suruh’, aku bisa bertemu namja yang kusukai itu, dan lagi aku menyukai belajar karena dengan itu aku bisa mencapai cita-citaku mengambil beasiswa ke luar negeri.

“Ayolah Minnie, kau punya wajah yang manis dan kau juga pintar.” Goda Gwiboon sambil menyentuh daguku dengan jari-jarinya yang lentik. Tentu saja, ia sering mengajakku ke salon walaupun aku selalu menolaknya.

“Dengan sosialisasiku yang buruk dan wanita yang menyebalkan itu?” Menghela napas panjang, “Aku rasa hanya mimpi.”

“Tapi di situlah sisi menarikmu.”

“Sudahlah jangan membuatku melayang dengan karangan bebasmu.” Aku melewati Gwiboon dan masuk ke dalam kelas setelah sebelumnya sempat melirik pada Minho yang masih mengobrol dengan teman-temannya di depan kelas.

Minho mempunyai sifat yang sangat ramah dan baik pada semua orang, termasuk aku. Aku tahu perlakuannya terhadapku tidaklah spesial karena ia memang bersikap seperti itu pada setiap orang. Tapi tetap saja aku menyukainya.

Langkahku terhenti saat jari lentik itu (lagi) menyentuh bahuku dari belakang. “Minnie, bantu aku. Hiks..” Ck, sudah kuduga pujiannya tadi untuk meluluhkanku agar mau membantunya.

“Ada apa lagi?” Wanita cantik itu menarik tanganku menuju mejaku. Mata tajamnya seperti menandakan ‘duduklah’.

“Jadi?”

“Semalam aku bertengkar dengan Jin-“

“Pasti kau akan memintaku untuk memberitahu Jinki jika kau masih marah dan ia harus melakukan sesuatu yang bisa membuatmu luluh.” Potongku cepat. Entah ini keberapa kalinya ia bertengkar dengan Jinki. “Pasti hanya masalah kecil saja dan kau tak benar-benar marah, kan? Kenapa kau selalu melakukan ini? Kau ingin Jinki meninggalkanmu?”

“Habis ia tidak romantis sih. Lagi pula ia sangat mencintaiku, aku yakin ia tak akan meninggalkanku.”

“Kau tahu Gwiboon? Terkadang perasaan cinta bisa juga hilang.” Gwiboon terdiam sejenak lalu mempoutkan bibirnya, “Ya sudah tidak usah membantuku.” Ia beranjak dan berjalan menuju mejanya di belakangku.

Haha sekali-kali aku ingin membuatnya kesal. Perkataanku tadi memang ada benarnya, tapi aku rasa itu tidak berlaku untuk pria bernama Lee Jinki. Ia benar-benar mencintai Gwiboon. Sepertinya Jinki rela melakukan apapun untuk Gwiboon, aku curiga jangan-jangan Gwiboon meminta ia bunuh diri pun ia mau melakukannya.

“Taemin..” Kualihkan pandanganku pada sumber suara yang sangat kukenali, “Minho? Ada apa?” Kataku sedikit gugup.

“Bisa bantu aku mengerjakan ini? Hehe..” Tentu saja tidak mungkin ia mengatakan hal lain. Seperti, aku menyukaimu atau maukah kau jadi pacarku. Minho tidak mungkin mengatakan itu padaku. Karena itulah aku hanya menyukainya saja tanpa membutuhkan balasan darinya. Ya, ia hanya ada di khayalanku saja.

***

Pulang sekolah adalah mimpi buruk bagiku. Setelah sampai di rumah aku akan melakukan semua pekerjaan itu lagi. Seharusnya gadis pintar sepertiku sepulang sekolah langsung mengerjakan tugas atau belajar. Bukannya aku ingin membanggakan diri aku itu pintar. Aku hanya berkata jujur.

“Taeminnie~” Gwiboon lagi. Padahal baru tadi pagi ia kesal padaku.

“Hari ini ikut makan siang bersamaku dan Jinki, ya?”

“Bukankah kalian sedang berteng-“

“Tidak tidak. Aku sudah memaafkannya tadi. Lihat, ia melambaikan tangannya padaku.” Gwiboon juga melambaikan tangannya ke arah lapangan basket. Tapi mataku sama sekali tak melihat ke arah Jinki yang duduk di pinggir lapangan, melainkan pada Minho yang bermain basket. Andai aku bisa ke sana dan memberikan semangat untuknya.

“Ayo kita ke sana. Setelah itu kita pergi makan.” Untuk beberapa hal Gwiboon sangat membantuku.

“Eh tunggu.” Aku melepaskan tanganku yang ditarik oleh Gwiboon, “Bagaimana dengan ahjumma? Aku harus segera pulang.”

“Serahkan padaku.” Gwiboon menarik tanganku lagi dan membawaku ke pinggir lapangan.

***

“Aku pulang sebelum pukul 4 sore, oke?” Gwiboon langsung menghentikan aktifitasnya menyuapi Jinki yang membuka mulutnya membentuk huruf O, “Kenapa? Kau sakit?” Aku menghela napas panjang, ini semua kan gara-gara Gwiboon sama sekali tidak melakukan apapun pada wanita itu.

“Aku harus pulang sebelum bibiku sampai di rumah. Yah, mungkin satu jam cukup untuk membereskan semuanya.”

Gwiboon menepuk dahinya yang terlihat putih mulus, mengingat ia menyisir poninya ke belakang dan menghiasinya dengan jepitan rambut berwarna pink, warna kesukaannya. “Ups aku lupa soal itu. Maaf Minnie.” Dengan wajah tanpa berdosanya, ia mulai menyuapi Jinki lagi.

Aku heran padanya. Mengapa harus membawaku dalam acara kencan mereka? Aku tidak melakukan apa-apa hanya memperhatikan mereka dengan wajah cemburu karena biarpun begini aku juga ingin punya pacar. Dan… Orangnya ada di belakang Gwiboon dan Jinki! Oke, sekarang kuakui Gwiboon banyak membantuku.

Jinki menggerak-gerakkan tangannya di depanku menghalangi pemandangan indahku, “Kau tidak  makan ayam itu?” Aku langsung melirik pada ayam yang masih tersisa di piringku, “Hei, Minho membawa seorang wanita.” Kata Gwiboon berbisik tapi aku rasa suaranya masih cukup keras. Aku menaruh jari telunjukku di depan bibirnya sebagai tanda untuk memelankan suaranya. Aku mengalihkan pandanganku ke belakang Gwiboon dan Jinki lagi. Wanita itu kelihatan seumuran dengan kami dan wajahnya kurasa lebih imut dariku tapi aku lebih cantik. Aku bukan ingin sombong lagi ya, aku hanya jujur.

Kutarik kata-kataku yang tadi, Gwiboon tak banyak membantuku. Saat ini ia membuatku harus menikmati pemandangan yang tidak layak kulihat. Bukan tidak mungkin wanita itu pacar Minho. Dari informasi yang kudapat Minho memang sedang tidak dekat dengan wanita di sekolah, jadi ya bisa saja ia berhubungan dengan wanita itu di luar sekolah. Sebelum menyatakan cinta aku sudah ditolak. Menyedihkan.

“Ayam itu untukku, boleh?” Aku mendorong keras piring milikku, “Ambil saja!” Jinki tersenyum penuh kemenangan. Saingan Gwiboon ternyata hanya ayam saja.

“Minnie, tenangkan dirimu. Wanita itu belum tentu pacarnya.” Iya sih. Tapi spekulasinya akan berbeda jika kau melihat seorang wanita dan seorang pria makan bersama di tempat yang romantis ini. Cafe ini banyak didatangi pasangan anak sekolahan seperti Gwiboon dan Jinki.

“Aku pulang sekarang.” Mengambil tasku dan langsung beranjak meninggalkan Cafe.

***

“Taemin, bagaimana soal yang ini?”

“Hanya tinggal menggunakan rumus ini, lalu untuk mencari sudutnya gunakan rumus ini.” Aku menunjuk buku catatanku dan pria di depanku terdiam sejenak memahami rumus yang kuberikan.

“Ah terima kasih, Taem. Kau memang pintar.” Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.

“Hei hei ada guru Kim.” Teriak salah satu pria di dekat jendela kelas yang memudahkannya mengetahui orang yang akan masuk ke dalam kelas. Pria di depanku segera kembali ke mejanya dan aku merapikan buku yang ada di mejaku lalu memasukkannya ke dalam tas yang ada di belakangku.

“Minnie, lihat.” Gwiboon menunjuk ke arah depan kelas.

“Selamat pagi anak-anak, hari ini kalian kedatangan murid baru. Ayo masuk Sulli, kenalkan dirimu pada teman-teman yang akan menemanimu selama 5 bulan ke depan.”

Seorang gadis berwajah manis dengan badan yang tinggi sedikit berisi masuk ke dalam kelas. Baiklah, penderitaanku belum berakhir. Wanita itu sama dengan wanita yang kemarin kulihat di Cafe. Sial!

“Perkenalkan, namaku Choi Sulli. Aku pindahan dari Jerman, tapi aku asli Korea. Hanya saja saat aku berumur 8 tahun aku pindah ke sana karena pekerjaan ayahku. Semoga kalian bisa berteman denganku. Salam kenal.” Sulli membungkuk hampir sembilan puluh derajat. Lalu ia mengangkat badannya lagi dan ia tersenyum dengan tatapan matanya tepat menuju ujung kelas. Tempat dimana Minho berada saat ini. Kau pasti heran mengapa aku bisa tahu bukan? Aku punya penglihatan yang jeli dan feeling yang kuat.

Guru Kim mempersilakan Sulli untuk mencari meja yang kosong. Sialnya lagi, meja yang kosong berada di belakang meja Minho. Anggap kau sedang beruntung nona Sulli!

Mataku tak bisa menahan untuk melihat saat Sulli berjalan melewatiku dan duduk di meja paling belakang. Tapi kualihkan pandanganku ke depan lagi. Sungguh menyesal aku melihat Minho yang tersenyum ramah pada wanita itu.

***

Tok.Tok.Tok.

“Taemin… Hei Taemin, kau tak mau makan juga?”

Tok.Tok.Tok.

Khayalanku ternyata menjadi realistis. Buktinya, aku sakit hati melihat Minho yang memiliki pacar bernama Sulli itu. Tiga hari ini sepulang sekolah aku tak melakukan tugasku di rumah. Setiap pagi, pagi-pagi sekali, aku pergi ke sekolah sebelum bibiku bangun. Pulangnya aku langsung mengurung diri di kamar, jadi saat bibi pulang ia pun tak bisa melihatku. Sudah berapa kali bibiku mengetuk pintu memintaku keluar. Tapi ia bukan khawatir, ia hanya kehilangan pembantunya.

Kupandangi kertas berbentuk hati yang aku keluarkan dari amplopnya yang berwarna merah jambu. Konyol sekali orang yang memberikan surat cinta untukku ini, di jaman sekarang yang sudah tabu untuk menyatakan cinta lewat surat. Aku menemukan surat ini seminggu yang lalu di loker mejaku.

Kim Jonghyun. Namanya tertera di akhir surat. Kemarin aku sempat menanyakan pada Jinki, karena mungkin saja ia mengenalnya. Dan benar, Jonghyun sekelas dengan Jinki. Entah bagaimana bisa pria itu menyukaiku, itu benar-benar mengagetkanku. Murid kelas lain ada yang mengenalku saja sudah luar biasa untukku dan ia bahkan menyatakan cinta padaku.

Pikiranku sedang gila. Gara-gara pria tampan bernama Minho, membuatku melakukannya. Padahal aku sama sekali tak mengenalnya apalagi menyukainya.

“Kau Kim Jonghyun?”

“Ya, kau sudah membaca su-“

“Aku menerimamu menjadi pacarku.”

“Eh? Benarkah?”

“Apa wajahku terlihat sedang bercanda?”

“Tidak, hmm aku sedang bermimpi, tolong cubit pipiku.”

“Tidak mau.”

“Hahaha wajahmu manis sekali saat mengatakan itu. Aku menyukaimu, Taem.”

***

“Minho, siang ini makan di Cafe itu lagi ya?”

“Oke.”

“Hmm, pulangnya temani aku membeli bla bla bla…”

Menyebalkan. Aku yang tidak biasa menguping malah jadi handal seperti ini. Padahal jarak Minho dan Sulli lumayan jauh dari mejaku. Wajahku terasa panas mendengar obrolan mereka, kuputuskan keluar kelas mencari udara segar.

“Jonghyun?” Jonghyun berjalan ke arahku yang baru keluar kelas.

“Ehehe baru saja aku mau ke kelasmu.”

“Oh. Kau mau apa?”

“Tentu menemuimu, memang apa lagi?” Aku hanya tersenyum. Mungkin terlihat kaku ya, tapi aku memang tak mengenalnya. Aku termasuk tipe yang jika belum dekat maka aku akan sedikit canggung.

Entah apa yang kulakukan. Aku seperti sedang berbohong. Melihatnya yang tersenyum padaku dengan tulus, membuatku semakin merasa bersalah. Seharusnya dari awal aku tidak menerimanya.

“Jonghyun..” Jonghyun mengangkat kedua alisnya di sampingku. Kami berdiri di balkon depan kelas.

“Sebenarnya aku tidak menyukaimu.” Kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Semoga ia tidak akan marah.

“Aku tahu.” Eh?

“Ahaha mungkin aku terlalu menyukaimu ya. Dari awal aku mengetahuinya, Taem. Tapi melihatmu yang menerimaku dengan wajah seperti itu bagaimana bisa aku menolaknya.” Jonghyun menutup mulutnya dengan punggung tangan.

“Maaf ya.” Aku menundukkan kepalaku, benar-benar merasa tidak enak padanya.

“Tidak apa ko.” Sebuah tangan membelai lembut rambutku, “Tapi.. Aku ingin tahu mengapa kau mau menerimaku waktu itu?”

Aku memegang pagar di depanku lebih kuat, bagaimana menjelaskan padanya? Apa aku harus menceritakan tentang Minho dan semuanya?

“Tidak dijawab juga tidak ap-“

“Ada pria yang kusukai. Aku menyukainya dari awal masuk sekolah. Saat itu aku mencari-cari kelas baruku, karena baru hari pertama datang ke sekolah, aku tidak tahu dimana kelasku. Aku tak sengaja menabraknya dan mungkin dia melihat gelagatku yang seperti kebingungan. Lalu dia menunjukkan dimana kelasku. Sejak saat itu aku jadi sangat mengaguminya, ya bisa dikatakan aku penggemar rahasia. Tapi..” Sekuat mungkin aku menahan air mataku yang akan keluar. Tapi gagal.

“Maaf malah membuatmu menangis, Taem.” Jonghyun menggenggam tangan kiriku yang masih menempel di pagar.

“Tapi sekarang ia punya pacar, tepat seminggu setelah kau menaruh suratmu di mejaku. Aku yang sedang patah hati tentu jadi ingin melampiaskan semuanya pada seseorang. Dan saat itu ada kau. Maaf ya, aku jahat sekali.” Tanganku yang satu, yang terbebas tak dipegang olehnya kupakai untuk menutup mulutku. Takut suara tangisku terdengar. Memalukan jika ketahuan menangis di sekolah.

“Aku mengerti perasaanmu. Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar tulus menyukaiku. Saat ini jadikan aku seseorang itu, tapi bukan pacarmu, aku ingin melakukannya sebagai seorang teman.”

***

Aku meneguk cepat minuman yang baru diantar oleh pelayan. Membuat kedua manusia di depanku menggerakkan kepalanya naik turun melihatku. Lalu mereka menggeleng-gelengkan kepalanya, hampir bersamaan.

“Jadi sekarang bagaimana hubunganmu?” Tanya Gwiboon dengan raut muka yang serius. Jinki mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ingin mengetahuinya juga.

“Hanya teman. Tak apa kan? Aku tidak punya perasaan apa-apa padanya.” Aku mengacak poniku kasar. Mengingat apa yang kulakukan benar-benar bodoh. Baiklah, aku mengakui walaupun aku pintar, aku pernah melakukan hal bodoh juga.

Gwiboon menyenderkan badannya, seperti kecewa dengan jawabanku. “Padahal kupikir, dengan Jonghyun tidak buruk juga.” Jinki mengangguk-angguk lagi. Pria itu mungkin hanya akan berbicara jika berhubungan dengan ayam.

“Mau bagaimana lagi.” Aku melipat kedua tanganku di depan dada. “Aku akan fokus pada sekolah saja dan mengambil beasiswa keluar negeri.”

Mimpiku sejak kecil, sekolah di luar negeri. Meninggalkan bibiku di sini dan memulai hidup baruku sendirian. Dengan alasan sekolah, ia mungkin setuju. Ya, jika ia tidak setuju pun aku akan kabur. Toh, mana mungkin ia akan mencariku ke luar negeri.

“Lalu kau masih mengurung diri di kamar?”

“Hah? Tidak. Terlalu lama bisa membuatnya marah besar.”

***

5 bulan kemudian

Jinki sibuk menarik koperku menuju ke dalam bandara. Aku sedikit terlambat karena harus menunggu bibiku pergi kerja. Pada akhirnya aku tidak meminta izin padanya. Nanti saja aku akan meneleponnya jika sudah sampai di Amerika.

“Ayo kita harus cepat, Minnie.” Gwiboon dan Jinki ikut mengantarku. Setidaknya aku masih memiliki mereka yang peduli padaku.

“Setelah sampai, segera hubungi aku, mengerti? Kau harus hati-hati di sana. Jangan lupa untuk sering menghubungiku.” Gwiboon memelukku erat hingga aku kesulitan bernapas.

“Iya iya. Aku harus pergi sekarang, Gwiboon.” Gwiboon dan Jinki melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan terakhir. Entah mengapa aku jadi sedih meninggalkan mereka.

Cepat-cepat aku masuk ke dalam pesawat, beruntung masih ada beberapa menit lagi sebelum pesawat lepas landas. Aku mencari kursiku lalu secara tak sengaja mataku menangkap sosok seorang pria yang sangat kukenali. Minho? Ia ada di pesawat ini? Ia juga pergi ke Amerika? Tapi kenapa? Untuk apa ia ke sana? Sendirian?

Pertanyaan-pertanyaan muncul di otakku. Tapi aku tak berani untuk sekedar menghampirinya dan bertanya padanya. Aku hanya diam di tempatku. Menunggu sampai-

“Taemin?” Kuangkat kepalaku dan melihat wajah tampannya. Dugaanku benar menunggu sampai ia melihatku. Hanya beberapa detik saja sejak aku memikirkannya.

“Kau ke Amerika juga?” Tanyanya lagi.

“Iya.” Juga? Berarti benar kan ia ke sana.

“Maaf tuan, bisakah kita bertukar tempat duduk? Aku ingin duduk di sini bersama temanku.” Kata Minho lembut pada pria paruh baya di sampingku. Pria itu hanya mengangguk lalu menanyakan dimana tempat Minho sebelumnya. Lalu Minho duduk di sampingku.

DEG. Apa yang dilakukannya?

“Kenapa bisa kebetulan ya. Senangnya ada orang yang kukenal. Tadinya kukira akan membosankan menunggu lama sendirian.” Ah, senyumnya. Dilihat lebih dekat ternyata sangatlah tampan. “Kenapa pergi ke sana?”

“Eh? Aku mendapat beasiswa untuk kuliah.” Mengalihkan wajahku takut tertangkap basah olehnya sedang memperhatikannya lama. Minho tertawa kecil.

“Kenapa?” Jangan-jangan ia menyadarinya.

“Dari tadi kau melamun terus. Ada apa?”

“Bukan apa-apa.” Aku menghela napas. Syukurlah ia tidak menyadarinya. Aku tidak mau menatap wajahnya lagi. Semburat merah pasti sudah menghiasi pipiku.

“Kau meninggalkan Sulli?” Ups. Mulutku seenaknya bicara tanpa kuminta.

“Iya. Sulli sangat merepotkan. Lagi pula aku bosan, semua orang mengira ia pacarku.”

Aku membulatkan mataku. Lalu beralih menatap kaca di sampingku. Mengira itu berarti jika ia bukanlah pacar Sulli kan? Seharusnya aku senang tapi kenapa hatiku sakit mengetahuinya?

“Aku juga mengira kalian pacaran.” Minho tertawa lagi. Menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala. “Sulli hanya teman kecilku. Dari kecil ia bilang menyukaiku. Dulu kukira itu hanya perasaan main-main karena kita masih kecil. Tapi ternyata sampai sekarang perasaannya masih sama.” Katanya santai.

“Aku ke kamar kecil dulu.” Aku tidak mau mendengarnya lagi. Selama ini aku salah mengira mereka pacaran. Lalu untuk apa aku sampai mengurung diri di kamar seperti orang gila?

***

Kurebahkan tubuhku yang lelah di kasur. Meskipun selama di pesawat aku hanya duduk, kenyataannya tubuhku pegal juga. Apalagi untuk sampai di hotel ini butuh perjuangan karena aku tidak tahu dimana tempatnya. Hanya mengandalkan supir taksi untuk menemukannya.

Kurogoh saku celanaku mengambil ponsel. Aku baru teringat harus mengabari Gwiboon. Bukannya ponsel yang kutemukan, malah sebuah kertas. Kubuka lipatan kertas itu.

Hai Taemin. Mungkin aneh juga aku menulis surat ini dan tidak mengatakan langsung padamu. Sebenarnya, aku tahu soal kepergianmu ke Amerika. Karena itulah aku mengatur jadwal yang sama dengan keberangkatanmu. Aku memang akan pergi ke Amerika, jauh sebelum aku tahu kau mendapatkan beasiswa.

Aku sakit, Taem. Orang tuaku memintaku untuk menjalani pengobatan di Amerika. Tapi aku tidak peduli sih tentang pengobatan ini, bagiku yang terpenting aku bisa bersamamu walaupun hanya beberapa jam. Aku menyukaimu, Taem. Selama ini aku tidak mau menyatakan padamu karena aku takut akan meninggalkanmu nantinya. Dan lagi aku takut kau tidak suka padaku, aku kan tidak pintar sepertimu. Aku murid yang bodoh haha..

Jangan lupakan aku ya, Taem. Aku akan selalu ada di hatimu.

Minho

Sialan! Pasti ia menaruh kertas ini saat aku melewatinya untuk ke kamar kecil. Padahal baru tadi aku bersikap dingin padanya setelah tahu hubungannya dengan Sulli. Aku menyesal melakukannya. Tapi sekarang bagaimana? Menemukannya di negara Amerika yang luas ini sangatlah mustahil.

Air mataku mengalir deras membasahi bantal. Kututup mataku dengan tangan. Hatiku sesak. Kurogoh saku celanaku lagi, mencari ponsel dan segera menceritakannya pada Gwiboon.

=============

EPILOG

“Tunggu, aku lupa membeli sesuatu.” Taemin berlari meninggalkan teman barunya yang datang dari Korea juga. Ia kembali lagi ke minimarket untuk membeli susu pisang favoritnya.

Taemin melangkah menuju tempat minuman dan tak sengaja menabrak seseorang karena ia terburu-buru.

I’m sorry-“

“Taemin?”

Taemin langsung memeluk pria di depannya. Ia menangis. Tak peduli pandangan orang yang menatap aneh pada mereka berdua. Ia sangat merindukan sosok itu. Sosok yang sekarang kelihatan sakit dengan wajahnya yang pucat. Taemin bersumpah dalam hatinya tidak akan meninggalkan pria yang ia peluk itu. Ia akan menjaga pria itu sampai waktunya tiba. Saat pria bernama Minho itu meninggalkannya.

END

35 responses to “BSFC – ALARM CLOCK A

  1. Haiiii
    *lambai’2-tangan*

    Taem,,, ikuuutttt
    *Peluk-minong-biar-ga-kabur*

    ya judl’a ga sma ma crta, tp bsa d hubung2n ce. .
    Alarm clock nunggu min0ng Hamsyong
    *amit-amit*

    Cuma d ep’2.. Ga d dunia nyate..

    Twehh.Twehh..

    Bner th saingan gwe cuma ayam,,, jinki ga doyan daging kucing, doyan’a daging ayam,,,

    tp cinta’a ama si mata kucing

    hohohoo

  2. Ahaha… saya cinta jibon
    Pdhl ni ff castnya 2min, haha~ otak saya pnuh jibon

    Ngomong2 nih, bisik2 jg bleh… kyaknya karater gwe ma tetem kblik deh,
    atau otak saya yg kbalik… atau celananya onew yg kblik? mungkin sendalnya gea eonni yg kbalik… ya pkoknya tetem nampk kyk krakter gwe
    Sbenarnya lbih suka kraktr tetem polos gt
    Tapi ysdhlah, nasi sudh mnjdi bubur, dan buburnya udh tumpah dsenggol ayamnya onew…
    Si tetem so sweet gt, klo cinta ma dungkpin aj, nah lho si minho sakit. dtinggal mati kan lho… ma jjong aj tem. udh tmpan berotot, gk klah gnteng ma minho… klo klh tinggi iya, keke…

    Nice story, sesuatu bgt ayamnya… eh mksud ane ceritanya😀

  3. Jinki emang lbh trtrik kalo ngmongin soal ayam. Mgkin, kalo gwiboon di edit pake photoshop pake bdan ayam, ntuh poto di tmpel di kmar, trus di smbah2 kali. Cayo jinboon…
    *ini main cast nya 2min knp saya ngmongin jinboon?

    Abang Jjong… Knp drimu sering gk laku sih? Gk ama gwiboon, gk ama taemin. Tetep aja ada pghalang dpet cwek. Nasibmu bang…

  4. Jinki emang lbh trtrik kalo ngmongin soal ayam. Mgkin, kalo gwiboon di edit pake photoshop pake bdan ayam, ntuh poto Jinki di tmpel di kmar, trus di smbah2 kali. Cayo jinboon…
    *ini main cast nya 2min knp saya ngmongin jinboon?

    Abang Jjong… Knp drimu sering gk laku sih? Gk ama gwiboon, gk ama taemin. Tetep aja ada pghalang dpet cwek. Nasibmu bang…

  5. Jinki emang lbh trtrik kalo ngmongin soal ayam. Mgkin, kalo gwiboon di edit pake photoshop pake bdan ayam, ntuh poto Jinki tmpel di kmar, trus di smbah2 kali. Cayo jinboon…
    *ini main cast nya 2min knp saya ngmongin jinboon?

    Abang Jjong… Knp drimu sering gk laku sih? Gk ama gwiboon, gk ama taemin. Tetep aja ada pghalang dpet cwek. Nasibmu bang…

  6. paling ngena kalimat yang ini nih “Saingan Gwiboon ternyata hanya ayam saja” LOL banget lah xD
    ceitanya enak di baca dan dipahami loh ringan gitu temanya cuma agak apaya buru buru di ahir ahirnya ituloh
    karena kebiasaan baca FF taemin nya jadi sesosok makhluk polos nan penurut sama gweboon tapi disini ngerasa gwe nya yg lebih jinak gitu jadi agak kurang ngefiiiiil sedikit sih sdikiit
    tapi overall ndos gandooooooooos *alasoimah

  7. Muahahahaha, bener juga, gak nyambung sm judulnya.

    Tp neomu joha kog!
    Endingnya maksa, 2MIN momentnya kurang banyak.

  8. Ah knapa harus mati kau menong? Emang gak ada pilihan penyakit lain yg bsa lo drta, seenggaknya yang vonis kmatiannya lebih lama… Arrgghhttt
    *cakar aspal
    *emut genteng
    *telen penitih

    kasian si tetem ditinggal,udah mah dia gak sama jjong,
    gmana kbr slanjutnya tuh si supa?
    Jjong baik ya,tumben gak yadong.plaakk
    biasanya dia tak pernah lepas dr syndrom yg dideritanya(read:yadong) apa disembunyiin di kerikil lembut hidungnya.eh *abaikan.jorok

    feelny dpt kok thor, tp 2min moment ny kurang banyak.. Digarap ma ayam dan jinboon,eh tp prasaan g jg *plinplan.

    FIGHTING author,terus berkarya nee!!

  9. waw cerita.a simpel bikin nyesek juga sih,,, secara itu s tetem nunggu minho ampe lama banget,,, sian banget
    Emang yah kalo jodoh hog kemana,,, mau ke amerika juga tetep aja bersatu,,

    Tapi ini konflik.a kurang klimaks,,, jd q g dapet histeria membaca wkwk
    Tapi bagus kok,,, semangat thor🙂

  10. Kurang greget ni thor~ huhu ..
    Kecepetan juga ini alur nya menurut aku sih ..
    Itu jinki gila banget apa ya sma ayam tuh, ckck sabar ya gwe kmu saingan sama ayam, hahha
    Ooo kirain mah beneran minsul ny pacaran, gaataunya cuma sulli nya aja yang suka sma minho ..
    Fighting authorr~

  11. Jadi mikirin hubungan cerita sama judul -u-

    aku juga mau dong disuapin *buka mulut lebar-lebar*

    hidup 2min!!

    #comment ini juga tidak ada hubungannya -,-

  12. ehm, ini agak bingung ma hubungan judul ma cerita. hehe
    tapi buat ceritanya bagus kok, aku suka,,,
    nggak nyangka kalo minho ternyata sakit…
    tapi akhirnya mereka bersatu kan, hehehe
    lanjutin karyanga ya thor,,,

  13. haaaaa~ cerita cinta pertama, simpel tapi penuh kesan

    baca ff ini jadi inget jaman” masih ngekos di bandung *gak nyambung*

    secara keseluruhan ceritanya simpel banget, tiap adegan dijabarin dengan jelas jadinya aku gak keder bacanya & bisa ngebayangin latar ato back ground tiap adegan.

    aku jadi inget pas ketemu first love, tapi sayangnya doski udah punya gacoan *curhat nih ceritanya* *yang lahir taon 80an pasti ngerti gacoan itu apa*

    yang aku suka dari karakter taemin itu masih bisa ngelucu meskipun dia lagi sedih. buktinya dia masih bisa ngebatin kalo jinki cuma bisa ngomong ama ayam. ehehehe.

    semoga karya berikutnya bisa lebih baik lagi.

    fighting!

  14. Trnyata selama ini minho minder sama taemin….pdhl dy jga suka sih ma minho…kasian kisah cnta mreka

  15. FINALLY 2MIN!
    Tapi pas udah dibaca kok … yaaah~~ T^T gimana sih … masa tega banget si Minho mau dibikin mati? Oh, tapi sakit apakah dia? sakit TBC? Taemin Benar-benar Cinta? *ngasal

    Ok, ceritanya di awal menarik, judulnya Alarm Clock, sempet mikir sih, judul, sama tema dan alur yang di ambil sambungannya dimana. Cuma setelah berpikir keras sambil makan pisang(?) -pisang meningkatkan daya ingat loh*udah mulai ngaco- Akhirnya! Mungkin, jika aku ngga salah, dan mungkin benar, maksudnya adalah, hidup Minho bagaikan jam yang terus berdetak dan menunggu kapan habis baterainya kan? jadi mungkin sampai baterai itu habis, Taemin akan selalu memakai (?) Minho a.k.a menemani Minho disisa hidupnya … begitukah?

    Sayang, sebenarnya kalau alurya ngga terlalu cepat ini bakalan lebih bagus!

    Ok, bye! ^^;;;

  16. Minho kamu sakit?? tidaaaaaaakkk!
    pdhal uda slng jujur klw mreka saling suka, tetep masih ada hal yg bikin mreka bersedih, *sobssss*
    tenang aja, Minho pasti sembuh, kan berobat ke amerika! (kenapa ga ke penang aja ming?)
    authornya berhasil bikin aq sedih nih,
    fic-nya bagus!!😀

  17. kekeke jd pada akhirnya mereka bersama..🙂
    walupun taemin sedikit terlmabt mengetahuinya… dan walupun minho jg tdk mempunyai keberanian langsng untuk menyatakan isi hatinya tp smwa’nya berakhir indah kn. :’)
    yah walau tak akan ad yg mengetahui bagaimana akhir dri kisah mreka, apa minho akan mninggal ato akan sembuh,,tak ad yg tau tapi yg terpenting mereka pernah bersama, n mengetahui perasaan satu sama lain😀
    sweet ending,, ^_^ di awal2 alur ceritany kurang sesuai dengan judul ff’ny,,,tp ketika pertengahan n ending udh mulai ngena kq.. intinya’ny ini hanya menunggu waktu,, menunggu waktu untuk mengungkap smwa kebenaran akan perasaan mereka dan menunggu waktu mreka di pertemukan sebagai sepasang kekasih,,🙂
    oya untuk endingny aq ngerasa agak buru2 gtu kesanny,, terutama pas penggambaran tentang perasaan lega taemin karena bertemu minho kembali,, cba dsna penggambaranny lbh di jabarkn lg🙂
    tp ga masalah overall udh bagus…n ga mengurangkan feelny sama sekali ^^
    Good Luck nee ^^
    HWAITIIIING!!!

  18. aku suka FF ini..
    bahasa authornya rapih dan enak. kerasa bgt kalo Taemin cewe yg dingin krn kerasnya hidup. kerasnya bibinya, kerasnya minho, kerasnya jong, kerasnya ayam jinki!

    aku sedih waktu tau mino sakit. tp emang ada yg kurang greget gitu thor.. itu loh, yg tiba2 d pesawat ketemu terus ngobrol, sedikit lg aja pemaparan pasti bakalan perfekto!

    sepupu aku pergi beli peniti
    pulangnya jatuh ke jurang
    aku suka FF tumin ini~
    semoga menang!!!

    good luck ya~ hahaha😄

  19. hIKZ..hIKZ…AKU SEDIH AKU UDAH KOMEN TAPI PAS AKU CEK GAK ADA,,KOMENNYA JADI HARUS KOMEN ULANG DEH….

    mianhe..capslocknya lupa dimatiin…..ini ciyus….

    tetem ko jadi cuek begonoh..tetem jadi cuek dingin dan tak berprasaan itu mingkin karena bibinya kali yah,,,yang selalu nyuruh” dia…

    tetem kenapa nyadarnya telat klo kodok cinta ama tetem…
    jadi nyeselkan tuh…

    tapi aku kurang ngerti thor udah ketemu di bandara terus gimana..
    minongnya selamet gak tuh..atau metong..klo metong ntar tetem ama siapa ama aku aja gak ppha…#ditimbuk sendal ama minong….

  20. akhirnya 2min bersatu juga \o/ emang jodoh ga kmn kkkk cinta taemin terbalas juga walaupun sm keadaan minho yg sakit moga kau sembuh ya dg adanya taemin disampingmu wkk *ngasal cerita*
    bagus thor ff nya cm klimaksnya kurang ngena hehe tp berhasil buat aku sedih TT hwaiting buat ff selanjutnya! ^^

  21. Singkat, padat dan jelas, itu kesan aku tentang ff ini.
    Huffed.
    Sebelumnya izinkan aku mencgecup basah dirimu Author-nim. Karena ff 2min jaraaaaaang banget. Padahal ini couple favorit T^T
    gomawo Author-nim.
    Dan soal tata cara penulisan, diksi, EyD, gaya bahasa, alur, plot, penokohan, karakter, konflik, penyelesaian semua-semuanya aku udah acungin jempol. Karena ff ini bahkan nggak ada typo!(menurut aku yaaa, karena mata aku suka berkhianat gitu).
    Pokoknya aku suka>< apalagi pas epilog. Eiguuuu.
    Last, wish u luck to be a winner, Thor!!!

  22. Nsib tetem kya cinderella, d jdiin babu, ckckckckk..
    Tetem dsni, semacam terkena sindrom narsism!
    Ngaku2 sndri soal dia cntik ato pinter, dll…
    agk sdkit Bda dri karakter dia biasanya… Biasanya tetem tunduk ama gweboon, dsni tetem bsa sdkit brontak…

    Well, ksah cnta si tetem ngenes bner dh! Minho pake acra skit2an sgla..

  23. wahh saiank bgus inti critanya,,tpi klo bkn bwt lomba kyanya lebih seru d bikin part dee.karna aq suka.hyahahaha *alesan lagi*

  24. eh, anyeong! kenalan. readers baru! Hana imnida. kepincut ff eonnie yang barbie sitter dan cari-cari di mbah google. terdamparlah aku di sini!
    comedy dan hurt kan kayak langit ama bumi. comedy aku bisa cekakakan, tapi klo hurt, sorry aku nggak dapaet feel hurt-nya. apalagi dibagian akhir. mungkin f(x) sakit gigi kali, ya? tapi salah juga kan klo banyak ketawa. komedy juga enggak. nanti sakit giginya makin parah. serba salah. #bercanda loh eon.
    keep writing, ya eon!

  25. Suratnya terkesan terlalu maksa hehehe, sebenernya bisa lebih di buat bagus lagi endingnya, bikin perasaan sedih dan penasaran jd satu.
    But good job author🙂

  26. iniiiiiiiiii, saat minho minta bantuan taemin buat mengerjakan soal,itu itu ituuuuuuuu mirip banget sama gueeeeeeee…entah kenapa jd nostalgia liat taemin diam2 menyukai se2orang hehhee, yah walupun akhirnya beda huks syukurlah minho jg suka taemin,syukurlah sulli bukan pacar minho,syukurlah taemin tidak berakhir seperti diriku hukssss
    tapi sakit apa?? disaat mereka bisa bersama jd ke gtu aigooooo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s