(FF SWITCH GENDER JINBOON/ PG 15/ 2S) The World Outside My Window – Part 2 END

 

Main Cast: Jinboon

Support Cast: Jonghyun

Leght: twoshot

Rating: PG 17

Genre: Complicated Romance

Akhirnya selesai.

thanks to: How are you – TVXQ

Sudah saya bilang kan.. jangan dibaca dulu part satunya. Jadi nunggu seabad.

 

Semakin complex semakin berbelit.

 

Dan tetap gantung.

 

Saya.. lagi didera galau. Huks, sampai kapan harus menunggu hujan Jjong turun dari langit?


***************

Aku merasa seseorang menyentuhku. Aku merasa, tidak lagi seperti berada disebuah kotak kayu sempit yang pengap. Gelap dalam bunga tidurku berubah terang. Nafas seseorang memancingku untuk membuka mata.

Begitu setelah membuka mata, sorot lampu menyilaukan. Aku mengangkat tangan untuk menapis cahaya. Lalu menyadari satu hal.

Aku tidak lagi berada didalam lemari Jinki.

Dihadapanku, wajah Jinki begitu dekat, lebih tampan dari bayangan Jinki yang selama ini ada dikepalaku.

“Hi..”

Dia menyapaku. Suara lelaki yang menggendongku kini, menyayat hatiku begitu saja. Tak mengerti mengapa. Tiba-tiba terasa sakit dan ingin menangis.

Jinki merendahkan tubuhnya. Kulingkarkan lenganku pada lehernya ketika Jinki hendak menurunkanku. Erat.

“Bisa kau berjalan sendiri ketempat tidur?”

Jinki.. aku ingin terus memelukmu seperti ini.

Menahan diri agar tidak menangis itu ternyata, semakin membuat sakit didadaku menjadi-jadi. Aku tak boleh menangis mengingat aku akan terlihat lebih idiot jika menangis disaat akan dicampakan.

Jinki menghela nafas, tampak dia menyerah untuk tidak menurunkanku. Dia membawaku mendekati tempat tidur. Aku tak melepaskan rangkulan tanganku pada lehernya. Sampai Jinki membaringkanku di tempat tidurnya, aku masih tak mau membiarkannya pergi. Hingga Jinki harus menahan berat tubuhnya dengan kedua tangan disamping tubuhku agar tidak menimpaku.

“Aku belum mengantuk.”

Bisikku.

Lebih mengeratkan pelukanku pada lehernya hingga daguku dapat menyentuh bahunya. Memaksanya untuk tetap bertahan pada posisi tubuh yang aku yakin sangat tidak nyaman baginya.

“Mau kubuatkan kopi?”

Kopi?

Hati-hati kuringankan tanganku, dan membiarkan Jinki melepaskan diri dariku. Pikirku, mungkin secangkir kopi untuk menemani kami berbincang akan lebih baik. Karena itu tujuanku menemui Jinki, untuk membicarakan satu hal.

Jinki menghindari mataku saat menutupi tubuhku dengan selimut lusuhnya. Lama tidak melihat benda ini. Lama tidak merasakan hangatnya benda tipis ini.

**********

****

Langit siang terlihat indah.

Cahaya matahari yang mengintip dari sela selimut basah yang kubentangkan pada tali jemuran.

Matahari menyebarkan cahayanya menyilaukan mataku. Menggunakan telapak tangan, kuhalau sinarnya agar aku tetap dapat memandangi langit.

Biru.

Terang..

Dan tampaknya nyaman jika berada diatas sana.

Mungkin tidak banyak yang bisa kulakukan disana. Hanya mendapatkan ketenangan dan ruang yang luas. Apa dengan begitu aku akan bahagia di atas sana?

Jari-jari tanganku melingkar kuat pada besi balkon. Berpegangan pada pagar balkon, kemudian memejamkan mata dan merasakan angin berhembus pada wajahku.

Aku tersenyum. Apa karena akhir-akhir ini hatiku tenang? Hingga dapat menikmati hal sekecil ini?

“Aku ingin mainan tadi eomma…”

“Lain waktu saja.”

Aku mulai membuka mataku. Mengarahkan pandanganku pada seorang ibu bersama anak lelakinya dibawah sana. Derap langkah mereka terdengar lebih riuh dengan cipratan air dari genangan yang mereka injak.

Gang sempit. Jalan yang berlubang. Juga pemukiman yg padat. Itu sebabnya aku lebih suka melihat keatas.

“Eomma..”

“Sudah eomma katakan lain waktu saja. Jika kita sudah memiliki uang yang lebih banyak.”

“Eomma..”

“Sudah diam!”

Apa semua anak disekitar lingkungan ini harus merengek? Apa ibu itu harus memukul anaknya agar diam?

Kucondongkan tubuhku agar dapat kutaruh daguku pada besi penyangga balkon. Menyaksikan mereka yang dibawah sana semakin jauh meninggalkan pandanganku. Lalu aku mulai memperhatikan genggaman tangan anak itu pada ibunya. Semakin erat.

Kapan terakhir kali ibuku melakukan itu padaku?

Apa aku juga harus merengek agar ibuku menggenggam tanganku?

Anak itu membuatku iri..

Walau rasa iri ini tidak menggangguku seburuk dahulu. Ini karena seseorang menyuruhku untuk merelakan beberapa yang tak sanggup kugapai. Seseorang yang setiap kata-katanya, ingin kuturuti.

“Ah! Disini kau rupanya.”

Aku menoleh pada seorang lelaki dengan sebuah kantung plastik hitam ditangannya. Lelaki dengan mata yang menatapku dalam.

Dia mengacungkan kantung plastik hitam yang mengeluarkan aroma menggiurkan.

“Aku membelinya dari kedai ramen kesukaanmu.”

Sama seperti saat dia menawariku ramen dan aku mulai menyukai makanan yang… boleh kusebut tidak memiliki konten.

Setiap kali didekatnya, aku merasa dia menawariku dunia baru yang dijanjikannya akan lebih baik. Walau itu dunia yang kukira tidak hidup. Tapi aku menyukainya.

“Ayo cepat. Aku sudah lapar.”

Lelaki itu, sosok yang tidak pernah kubayangkan ada didunia ini. Figur yang memberitahuku bahwa masih banyak hal yang belum kuketahui. Manusia yang berjalan menuju meja makan menuruti keinginan perutnya yang lapar.

Aku mengikutinya.

Aku akan mengikutinya. Dengannya aku merasa lahir kembali dan belajar banyak hal.

Tak ada apapun diatas meja makan selain ramen, makanan yang cukup sering menjadi menu makan siangku akhir-akhir ini.

Aku mulai bosan jujur saja. Ingin mengenyahkannya segera jika aku cukup tega membuat mood Jinki rusak. Dengan senyum yang merekah dia memamerkan kebanggaannya karena berhasil membelikan ramen favoritku. Kalau saja Jinki tahu aku hanya berbasa-basi tentang ramen favorit.

“Mulai besok aku tak bisa menemanimu lagi.”

Jariku membeku, tak dapat kugunakan untuk mengaduk ramen. Serangan kesal menyerang kepalaku lalu kucengkram kuat sumpit ditanganku. Kutarik nafasku perlahan dan menahannya.

“Ada apa?”

“Ibumu.. ah! Maksudku.. atasanku! dia memanggilku untuk bergabung bersama tim untuk menangani proyek baru.”

Perfect!

Aku baru saja menghirup udara segar dan kini uap panas dalam diriku mengepul. Karena Jinki tanpa sengaja menyebut ‘ibuku’? Tidak. Tidak! That’s not necessary anymore! Lebih karena wanita itu merusak kesenangan yang baru kudapatkan.

Membuatku geram. Membenamkan tusukan sumpitku lebih dalam pada kuah ramen. Kemudian timbul ketakutan saat mataku memandang lurus makanan yang tak terpikirkan lagi untuk kumakan. Ketakutan yang muncul dari nada Jinki yang terdengar antusias.

“Kau suka dapat kembali bekerja dalam tim?”

“Aku akan mengambil kesempatan yang akan mengangkat karirku.”

“Begitu ya?”

Yes of course. Siapa yang selamanya ingin menjadi ekorku?

Kemudian aku kehilangan kuasa atas Jinki. Dan dia akan menendangku dari tempat ini.

Ini…

Aku membencinya.

Tidak benar bukan? Jinki menerimaku bukan karena aku yang selama ini yang membayarnya, iya kan?

“Apa kau merindukan ayahmu?”

Ayahku? Mengapa begitu tiba-tiba?

“Lalu apa hubungannya dengan ayahku?”

Bahkan tidak ingin mengangkat wajahku untuk melihat wajahnya. Aku benci ada ramen diantara aku dan Jinki. Tak tahu apa yang akan kulakukan dengan makanan ini disaat dadaku mulai sesak.

Takut jika Jinki…

“Apa kau akan menyuruhku pulang?”

Karena Jinki merasa tidak perlu lagi mengekoriku kemana pun. Dan karena dia tahu satu-satunya alasanku pulang, mungkin untuk menemukan sedikit rangkulan dari ayahku.

“Tidak. Aku tidak menyuruhmu pulang. Aku hanya baru saja…”

Damn!

Mataku berair. Gambaran ayahku yang justru akan mengabaikanku seperti biasanya terlintas. Bodoh karena aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan membuat tetesan air turun dari ujung mataku. Aku tidak mau kembali ke rumah..

“Sudah lupakan saja. Ah aroma ramen ini membuat perutku semakin lapar. Mari kita makan.”

Aku bukan Kim Gweboon yang dengan mudahnya menitikan air mata. Didalam sini sesak, semakin sesak setiap kali aku menahan untuk tidak bernafas. Sejak Jinki menyuruhku untuk melupakannya, kubernafas setenang mungkin. Menghilangkan sesak.

“Euhmm~ ramen ini memang enak.”

Dengan Jinki yang mulai mencairkan suasana melahap satu suap besar ramen, kuhembuskan nafasku perlahan. Memulai makan siangku. Berharap kepulan asap ramen menyamarkan air mata yang sempat membasahi pipiku dari pandangan Jinki.

Satu suap.

Dua suap.

Suap berikutnya. Masih terasa hambar dilidahku.

Bayangan akan ayahku terus berulang.

“Aku tidak mau pulang.”

Kupaksakan untuk menelan satu suap lagi kedalam mulutku. Memberi tahu lelaki dihadapanku bahwa perkiraannya mengenai aku yang merindukan ayahku salah. Aku akan tetap disini no matter what.

“Tidak. Bukan maksudku menyuruhmu pulang.”

Tidak menyuruhku pulang?

“Lalu apa?”

“Kau tidak akan menyukainya. Lebih baik tidak kuberi tahu.”

………..

Jinki selalu mengatakan pahit adalah bagian dari hidup.

Bukan aku tidak pernah merasakannya. Hanya saja rasanya akan tetap pahit meskipun ini adalah kesekian kalinya bagiku.

Kuberhenti melangkahkan kakiku. Memandangi kakiku yang basah. Butiran tanah menempel pada kaki dan sandal.

Kupaksakan untuk menghampirinya. Langkahku berat, menahan sesak yang naik mencekat kekerongkongan.

Aku kian dekat padanya.

Dia menoleh dan kami bertemu pandang.

Tapi disaat seperti ini aku justru ingin lari dan kembali ketempat Jinki. Bukan mematung dan menunggunya memanggil namaku. Aku yakin dia masih mengingat nama putrinya.

“Gweboon?”

Kakiku yang bergerak untuk lebih dekat padanya.

“Kau basah. Apa kau baik-baik saja.”

Ayah, aku segera berlari menuju play group ini begitu Jinki memberi tahuku ayah ada disini. Menembus hujan yang seolah mewakili perasaanku.

“Sedikit terkena hujan.”

Mataku, kutujukan menatap ayahku saja. Sebisa mungkin tidak melihat wajah wanita yang ada disampingnya.

“Diluar hujan? Sebaiknya aku mengambil payung dimobil.”

Ayah menyerahkan ransel kecil yang disampirkan dibahunya kepada wanita disampingnya. Lalu berlari keluar gedung ini. Ransel yang lebih cocok dipakai oleh anak laki-laki. Anak laki-laki yang kini berdiri dihadapanku setelah ayahku pergi. Anak lelaki yang bersembunyi dibelakang ayahku tadi.

“Eomma, Ayah pergi kemana?”

“Hanya sebentar. Mengambilkan payung untuk kita.”

Aku…. sangat bodoh.

Bodoh..

Berada ditempat ini hanya untuk mempertegas kebodohanku.

Tahu akan menyakitkan. Tapi justru pergi untuk menghampiri rasa sakit itu? Memastikan apa benar akan sakit. Bodoh! Tentu saja sakit.

Ingin segera pergi.

Membalikan tubuhku dan meninggalkan dua orang yang kubenci karena kecemburuanku pada mereka.

“Gweboon-ssi.”

Mendengar suara wanita itu memanggil namaku, kau seperti diolok-olok atas kemenangannya. Tidak sudi bahkan untuk mendengar suaranya.

Aku.. Terus berjalan, melihat siluet ayah yang sudah sampai dipintu gedung. Dia berlari masuk tergesa dengan payung ditangannya. Rambut berhias uban dan bahu jasnya basah. Melirikku tanpa menghentikan derap langkahnya. Sekedar memperlambat langkah.

“Kau akan pergi?”

“Hmm.”

Mengangguk saja. Sebelum kerongkoran yang tercekat meledak menjadi tangis. Akan menjatuhkan harga diriku didepan wanita itu. Melangkah lebih cepat untuk keluar dari gedung ini. Dan bersyukur ketika menginjakan kakiku diluar gedung.

Aku.. Lebih sudi diguyur hujan dan menjadi tontonan banyak orang. Lalu pulang ketempat Jinki.

Dengan beribu pertanyaan ketidak puasanku.

Mengapa dia tidak bertanya apa yang aku lakukan disini?

Mengapa tidak sekedar menawariku payung?

Atau menyadari aku tidak dirumah selama ini. Atau…

Atau mengapa semuanya tidak berjalan seperti keluarga normal saja?

Semua pertanyaan yang membuat dadaku terlalu sesak dan memaksa untukku menangis. Air mataku. Melebur bersama air hujan membasahi wajah.

Didalam sini sakit.

Sangat sakit dan aku tak sanggup melangkah lagi.

Perih.

Kuturunkan tubuhku, mencengkram dadaku dan memerintahkan sakitnya untuk cepat hilang. Atau aku akan terus menangis.

“Seharusnya aku tidak memberitahumu.”

Jinki..

Dia datang ikut merendahkan tubuhnya bersamaku, memandangiku iba. Membuatku mengasihani diri lebih lagi, menangis lebih kencang lagi.

Menyembunyikan wajah pada kedua lututku. Meredam suara tangisku disana. Bersama tangan Jinki pada pundakku.

Jinki.. ternyata aku belum dapat merelakan satu hal.

Aku memang masih mengharapkan ayahku.

*********

****

Tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Disaat kami duduk berhadapan disebuah meja makan kecil, ditemani dua cangkir kopi nyatanya akan begitu canggung.

“Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat.”

Jinki justru menghindar untuk menatapku. Menyibukan dirinya dengan kepulan kopi. Tanpa melihatnya diwajahku pun dia tahu bagaimana keadaanku.

Masih menyedihkan.

Bahkan bisa dikatakan lebih dari menyedihkan.

“Kudengar ibumu memperkenalkan seorang pria kepadamu.”

“Untuk memperluas jaringan bisnisnya. Iya. Dia bicara padaku hanya untuk itu.”

“Kim Jonghyun?”

Aku melepas nafas pendek dengan tebakan Jinki yang terdengar konyol. Atau karena, Jinki tidak mengerti aturan mainnya. Keluarga Kim bukanlah tambang emas bagi ibuku.

“Bukan. Tapi seorang lelaki bernama Choi Minho.”

Alis kiri Jinki terangkat. Mengangguk asal menandakan bahwa dia cukup mengerti.

“Choi Minho itu.. orang tuanya pasti sangat kaya.”

“Ha! Lucu sekali. Kau tidak pernah menilaiku sama seperti kau menilai Choi Minho itu.”

“Jangan biarkan kopimu dingin. Rasanya akan lain.”

Lagi. Dia mengulanginya lagi. Selalu membelokan arah pembicaraan kami jika sudah mengarah pada masalah kami.

Jinki yang selalu menganggap seseorang yang mendapatkan karir karena kuasa ayahnya, mereka curang. Karena baginya, yang memegang kendali adalah orang tua mereka yang memiliki banyak uang.

Tapi tidak dengan pemikirannya tentangku. Orang tuaku memiliki segalanya, begitu juga denganku.

Kuturuti inginnya. Mengangkat telinga cangkir, meniupkan udara sebelum sedikit demi sedikit lidahku bertemu dengan rasa kuat dari kopi.

“Lalu bagaimana dengan perempuan tadi? Apa dia gadis yang ada diceritamu?”

“Iya.”

********

***

Apa yang membuatku kehilangan banyak keinginan, adalah terus menyerahkan diri terjerumus dalam protes.

Kenapa, semua terjadi padaku?

Mengucilkan diri didalam kamar hanya untuk mempertanyakan hal yang sama pada yang menciptakanku.

Seseorang masuk bersama aroma bubur. Tanpa melihatnya aku tahu dia menaruh nampan berisi makanan diatas meja. Dia sendiri duduk ditempat tidur untuk menyentuh keningku.

“Apa kau tidak merasa lapar? Cobalah paksakan untuk makan..”

Kurasa dia menyadari sandiwara tidurku.

Perutku perih. Tapi sama sekali tidak ada keinginan sedikitpun untuk makan. Aku tidak sedang ingin melakukan apapun.

“Badanmu panas.”

“Aku tidak sakit.”

Aku bangun. Berbalik dan memandangi satu mangkok bubur bersama sekotak susu. Lalu menoleh pada Jinki. Kurasakan suhu tubuhku panas. Tapi kuyakin aku tidak sedang deman. Seperti yang dikatakan Jinki saat memaksaku untuk makan.

Aku ingin duduk. Lemas, persendianku kaku. Aku tahu karena yang kulakukan hanya berbaring beberapa hari ini.

Lagi-lagi.

Aku dikuasai emosiku.

“Makanlah. Jangan membuatku seolah membiarkanmu jatuh sakit.”

“Aku tidak sakit.”

“Badanmu panas.”

Jinki menempelkan telapak tangannya dikeningku. Reflek kupejamkan mata dan merasakan tekanan juga hangat tangan Jinki dikeningku.

“Aku akan makan jika kau juga makan bersamaku.”

“Aku sudah makan.”

“Kalau begitu aku kenyang.”

“Kau..”

Bola mata yang dibingkai dengan garis mata yang sipit itu berputar. Dia menanggalkan jasnya ditepi ranjang. Melepas dasi dan membuka beberapa kancing agar dia dapat melinting lengan kemeja gadingnya. Kupikir dia baru saja tiba dari kantor dan langsung menyuguhkanku bubur yang dibelinya.

Dia bukan keluargaku. Bukan kekasihku –belum-. Bukan juga lelaki yang kubayar untuk menemani dan menuruti perintahku lagi. Tapi perhatiannya seolah aku adalah bagian dari hidupnya.

“Baiklah. Aku akan makan bersamamu.”

Perlahan dia menaruh nampan berisi semangkuk bubur diatas tempat tidur. Mengambil satu sendok penuh bubur, yang kukira akan dimakannya…

“Aaaa~ buka mulutmu.”

Ternyata satu suap untukku.

Aku tercekat. Ingin menangis. Tapi kuredam dengan menerima suapannya, memenuhi mulutku. Menelannya, mengisi tenggorokan yang tercekat.

Jinki, jika dia terus memperlakukanku seperti ini. Dia akan menggembungkan pengharapanku. Harapan untuk terus bersamanya, satu-satunya yang memperhatikanku. Meronakan pipiku dengan memandangiku selagi mengunyah.

“Kau tidak menepati janjimu.”

Sebelum aku mengambil alih untuk menyendok, Jinki menjauhkannya dariku.

“Oh! Baiklah. Aku akan menepati janjiku. Aku akan memakannya.”

Mengambil setengah sendok dan menjajalkannya kedalam mulut.

“Lihat? Aku memakannya bukan?”

“Curang. Porsi suapnya tidak sebanyak punyaku.”

Satu sendok penuh bubur sudah berada didepan mulutku.

“Kau mengingatkanku pada seseorang. Aaa~”

“Siapa?”

“Aaaa~”

Bahkan tangannya sudah bergetar, pegal karena mempertahankan posisi sendok itu didepan mulutku.

“Maksudmu aku harus melahap satu suap besar itu lagi jika ingin tahu siapa?”

“Aaaa~”

Ok. Fine! Kubuka mulutku selebar mungkin.

Penasaran lebih mengesalkan dibandingkan bubur yang tidak berasa ini. Setidaknya aku tahu beberapa orang disekitar Jinki.

“Benar. Kau memang mirip dengannya.”

“Siapa?”

“Seseorang.”

Satu lagi sendok penuh ditodongkan kemulutku. Aku melahapnya agar Jinki tidak menahan ceritanya.

“Siapa?”

“Seorang gadis yang tidak pernah mau melepas high heelnya.”

“Gadis?”

Tentu saja. Akan ada seorang atau beberapa gadis yang berada disekitar Jinki selama ini. Dan itu menumbuhkan ketakutan tak beralasan dalam diriku.

“Kekasihmu?”

“Dia.. tidak tahu kalau udara diluar rumahnya lebih segar dari yang dia tahu. Itu karena, dia selalu terkurung didalam rumah, takut sepatunya kotor jika berada diluar… Syukurlah saat ini dia sudah menghirup udara segar. Dan tebak. Dia merasa lebih baik berjalan tanpa high heel. Dia meninggalkan sepatunya didalam rumah.”

Apa maksudnya?

Sangat konyol jika berjalan tanpa sepatu. Aku tidak mau kakiku sakit.

Dan sangat konyol karena dia menceritakan sepatu gadis itu.

“Lalu siapa gadis itu? Kekasihmu?”

Aku belum dapat tenang jika belum memastikan posisi gadis itu dihidup Jinki.

Dan lagi, aku harus membuka mulutku, melahap satu sendok penuh bubur dari tangan Jinki.

“Apa dia kekasihku? Hmm..”

“Apa dia cantik?”

Setidaknya aku harus tahu dengan siapa aku akan bersaing.

“Iya, dia cantik.”

“lebih cantik dariku?”

“Iya.”

Apa kau pernah merasakan tiba-tiba bayangan hitam menguasai pikiranmu? Kau merasa begitu jatuh dan tidak tahu apa yang ada dipikiranmu?

Itu yang kurasakan saat ini.

“Ahaha. Tidak. Aku bohong. Ayo habiskan buburmu.”

*********

***

Sepi.

Tidak ada suara apapun kecuali suara bising dari lemari es tua didapur Jinki.

Kulihat tidak ada lagi televisi diruang tengah. Tempat Jinki ini, tidak banyak yang berubah.

Oh. Dan tumpukan kertas di sudut meja ruang tengah. Been so busy?

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

Drrttt~

“Ah! Tunggu sebentar.”

Disaat bersamaan dia mendapatkan panggilan masuk. Beranjak dari duduknya, dan pergi kebalkon sebelum mengangkat telefon.

Baiklah. Aku anggap Jinki sedang sibuk.

Kuteguk kopi yang tidak lagi sepanas saat Jinki menyuguhkannya. Mengedarkan mata keseluruh ruangan, lagi. Lalu dikejutkan dengan arah jarum jam yang menunjukan pukul lima pagi.

Waktu berlalu begitu cepat. Bukan begitu?

Kupandangi Jinki yang masih berbicara dengan selfonnya. Wajah yang terlihat lelah, aku khawatir dia belum mengambil tidur satu jam pun.

Mata kami bertemu pandang ketika Jinki menutup selfonnya. Dia kembali untuk duduk ditempatnya lagi. Dan membuang nafas panjang.

“Pekerjaanmu melelahkan?”

“Semua pekerjaan melelahkan.”

Dia bersandar pada badan kursi. Melirik tumpukan kertas yang kulihat tadi.

“Apa aku mengganggu?”

“Kau akan mengganggu jika tidak cepat pulang. Karena ibumu akan menyulitkanku.”

Itu.. sangat menusuk.

**********

***

Sejak kemarin, sejak Jinki pulang dari tempat kerjanya, aku terus dibingungkan dengan mood Jinki yang buruk.

Mungkin ada sedikit masalah dengan pekerjaannya. Jinki menjadi lebih mudah marah dan mempermasalahkan hal kecil.

Seperti saat ini.

Aku sekedar mengatakan, aku tidak tahu harus memasak apa untuk sarapan. Karena hanya ada tahu dilemari es.

Kemudian Jinki mengatakan bahwa dia saja yang memasak. Dan terus berketus.

Indra pengecapku lebih sering menolak makanan dimeja makan. Lauk yang Jinki masakkan tidaklah asing dilidahku. Rasanya tidak terlalu buruk. Aku yang mulai merindukan hidangan restoran favoritku, oleh sebabnya aku tidak bernafsu dengan piring dihadapanku.

“Maaf jika tidak ada steak. Tapi setidaknya makanlah untuk mengisi perutmu.”

Menggunakan ujung sumpit Jinki mendorong piring berisi lauk lebih dekat kearah mangkuk nasiku. Mulutnya sibuk mengunyah, terlihat lucu dengan ekspresi kesalnya. Aku penyebab kekesalannya? karena menolak untuk makan.

“Kenapa kau berfikir aku ingin steak?”

“Tidak ada menu daging dimeja makanku semenjak aku tidak..”

“Apa aku meminta daging?”

Akibat bersitegang atmosfer sarapan kami menjadi canggung. Semua ini hanya karena masalah sepele kupikir. Aku sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya mempermasalahkan hal sekecil ini.

Demi membuatnya senang. Kupaksakan untuk memasukan nasi kedalam mulutku. Menghargai usahanya bangun lebih pagi dan memasak walau hanya satu lauk.

Gigiku malas untuk mengunyah, lidahku tidak merasakan apa-apa. Bayangkan disaat kau tak berselera makan ditambah makanan yang masuk kedalam mulutmu hambar. Sangat sulit bahkan untuk menelannya.

……

Mataku memperhatikan satu persatu nail art pada kuku tanganku. Aku puas. Memandangi kuku yang terlihat cantik seperti mengembalikan moodku yang sempat hilang.

Merah gelap dan mawar yang senada. Kristal kualitas terbaik dan serbuk emas membuat kukuku lebih bersinar.

Kutegakkan kepalaku, pantulan cermin dan lampu yang menyorot terang wajahku. Dari pantulannya dapat kulihat seorang hair stylist mengibas-ngibaskan rambut brunette baruku. Ringan, potongan layernya membuat wajahku lebih fresh.

“Lihat. Kau terlihat lebih natural bukan?”

Aku tersenyum menanggapi hair stylist yang menata rambutku. Aku cantik, aku tahu kelasku. Seharusnya aku mampu membuat Jinki menyukaiku.

Kuraih tasku.

“Thanks. I love it.”

Mencium kedua pipi orang yang sudah ‘membenahi’ penampilanku. Membuat seluruh tubuhku terasa ringan setelah treatment spa.

“Datanglah lagi jika kau butuh treatment.”

“Lain waktu.”

Kulihat jam tanganku, sudah jauh melewatkan makan siang. Aku segera meninggalkan salon di pusat perbelanjaan gangnam yang baru sekali ini kupakai jasanya. Aku lebih suka melakukan treatment di Inggris.

Matahari sore tidak menyorot terlalu panas. Tidak banyak orang berlalu lalang. Hanya beberapa yang tampak tergesa dengan selfon ditelinganya.

Aku mencari restoran. Atau café. Dan saat aku ingat tak banyak restoran yang melayani take away, aku mulai menyusun rencana untuk membeli bahan makanan di super market saja.

Atau aku hubungi Jinki dan mengajaknya makan malam di resto saja?

Mataku menemukan sesuatu, dan berhenti untuk melihatnya. Sebuah jas yang masih melekat pada manekin. Dan itu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang hanya memiliki sepasang jas.

Funny. Aku bisa tersenyum hanya dengan mengingat jas Jinki yang selalu kusut.

Apa Jinki akan menyukainya jika aku memilihkan jas untuknya?

……..

“Ada apa denganmu?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!”

BLAMM!

Air mataku jatuh seiring dengan kencangnya suara pintu kamar yang kubanting. Kakiku lemas. Dadaku sakit. Tanganku mencengkram kuat kenop pintu. Kesal, kesal dengan semua yang terjadi padaku.

Perlahan kujatuhkan tubuhku. Membekap mulutku sendiri, tidak mau lelaki diluar sana mendengar suara tangisku.

Haruskah selalu seperti ini?

Menangisi dan mengasihani diri sendiri?

Aku hanya ingin merasa dicintai sama seperti yang lainnya. Mengapa begitu sulit?

“Kim Gweboon.”

Dok! Dok! Dok!

Kutahan pintu menggunakan telapak tanganku yang basah oleh air mata. Aku tidak mau Jinki masuk.

Dok! Dok..

“Gwe. Maaf. Kurasa aku memang berlebihan.”

Aku menunggu. Menunggu seraya meredakan tangisku. Menunggu untuk mendengar penjelasan Jinki.

Atas kemarahannya saat melihat kukuku. Atas penolakan hidangan makan malam dari chef yang kusewa. Atas jas yang kubelikan yang dia bahkan tidak meliriknya.

Aku hanya ingin memberikan sesuatu. Anggap saja aku sedang mengemis pada Jinki. Akan kuberikan apapun agar dia menyukaiku.

“Maaf aku.. terus meluapkan kekesalanku padamu. Ada yang, mengganggu pikiranku.”

Hanya karena itu?

Aku menahan tangisku. Mengatur nafas dan mengipas-ngipaskan tangan untuk mendapatkan angin diwajahku. Menyeka air mata yang membanjiri pipi. Setelah yakin aku membuka pintu. Dan sudah ada Jinki berdiri dihadapanku.

“Aku lapar. Jangan tunggu sampai hidangannya dingin.”

Aku yang lebih dulu menghampiri meja makan dan mengambil duduk. Tidak menyentuh makanan sebelum kulihat Jinki duduk bersamaku dimeja makan. Aku menunggu cukup lama sampai Jinki duduk dihadapanku. Tidak terlihat senang. Dia tidak suka jika aku mengeluarkan banyak uang untuk makan malam yang.. menurutnya terlalu berlebihan.

“Baiklah, aku akan anggap ini makan malam perpisahan kita.”

“Apa maksudmu?”

Jinki tidak memperdulikan pertanyaanku. Dia mengambil sepotong daging untuk dimasukkan kedalam mulutnya.

“Hmm~ makanan yang mahal memang sangat enak.”

“Apa maksudmu dengan perpisahan? Jinki?”

“Tapi maaf. Aku tidak bisa menerima jas yang kau belikan. Aku lebih suka membelinya dengan uangku sendiri.”

“Jinki!”

Persetan dengan jas yang kubelikan! Tapi mengapa dia tidak menjelaskan maksudnya?

“Kau benar-benar mengusirku? Jinki, kalau kau mau aku bisa membayar sewa padamu.”

Meski itu akan sangat menyakitkanku. Ha. Aku bahkan harus membayar demi bersama Jinki?

“Kau bisa tinggal disini sesukamu aku tidak akan melarang. Tapi kali kau harus pulang.”

“Kenapa? Karena kau muak melihatku disini?”

“Jika itu akan membuatmu pulang.. Ya. Anggap saja aku muak melihatmu.”

Aku mencintaimu Jinki.. sungguh.

Bisakah kau sedikit saja mengetahui bahwa itu sangat menyakitkanku.

Geezz.. sakit sekali.

“Apa.. yang harus kulakukan agar aku bisa tetap disini?”

“Tidak ada.”

Seluruh tubuhku lemas. Dan tanganku bergetar ketika kumengangkatnya. Seakan-akan mati, aku menganggap semuanya sudah berakhir.

Tidak mau seperti ini.

Jinki menggeser kursinya. Dapat kulihat dengan sudut mata, dia berjalan menghampiriku.

“Akan kuantar kau pulang.”

“Aku bisa melayanimu dengan baik.”

“Apa?”

Aku berdiri dan menanggalkan dressku.

“Kau tidak berfikir konyol kan Gwe?”

Hanya ini yang terfikirkan olehku.

“Tidak apa-apa Jinki. Asal bersamamu..”

Aku tidak mengerti mengapa Jinki terlihat begitu ketakutan. Dia mengambil langkah mundur setiap kali aku lebih dekat padanya.

Kuraih tangannya yang bergetar dan menuntunnya untuk menyentuh dadaku.

“Kim Gweboon!”

Dia menapis tanganku.

Memandangiku takut.

“Kau boleh menyentuh bagian tubuhku tak terkecuali. Jadi ijinkan aku tetap disini.”

Tanganku masih bergetar. Sedikit sulit untuk meraih kait braku. Begitu kaitnya terlepas, Jinki mengambil dressku dan melemparkannya padaku.

“Pakailah. Dan pulang.”

Kupikir setelah menangis aku tidak dapat menangis lagi. Ternyata aku salah. Masih ada air mata yang mendesak keluar.

Tidak berarti kah diriku sehingga Jinki terus menolah meski aku mengemis padanya?

“Kau tahu aku tidak akan sudi kembali kerumahku. Kau tahu betul itu bukan Jinki?”

**

“Aku senang kau kembali.”

Aku masih tidak mood untuk melakukan apapun. Hanya membalas Jjong dengan tersenyum.

“Aku heran bagaimana bisa kau tinggal ditempat seperti itu?”

“Tempatnya tidak terlalu buruk.”

Dan aku tidak terkejut Jonghyun tahu segalanya, termasuk tentang Jinki. Karena dia KIM-JONG-HYUN.

Aku membenamkan seluruh badanku pada sofa dikamar Jonghyun. Memandang datar pada pemandangan yang awalnya mengejutkanku.

“Jadi ini yang kalian lakukan akhir-akhir ini?”

Jonghyun ikut bersandar pada sofa. Mengikuti arah pandangku pada beberapa temanku yang bergerumul di tempat tidur.

“Not Bad. Cukup menyenangkan.”

Menyenangkan? Aku tidak dapat menemukan pada bagian mana yang disebut menyenangkan. Mencium temanmu sendiri tanpa rasa. Membiarkan lelaki yang tidak kau cintai memasukimu?

Oh great Gwe! Kini kau berbicara tentang cinta. Dan pada kenyataannya kau baru saja dicampakkan.

“Siapa gadis itu?”

Tidak perlu menunjuk Jonghyun tahu siapa yang kumaksud. Seorang gadis yang asing bagiku. Dia cantik, dan terlihat masih ‘anak-anak’.

“Dia Taemin. Dia menggantikan tempatmu yang kosong.”

“Tempatku?”

“Kau bisa mengambilnya lagi jika kau mau.”

Kupandangi lagi gadis bernama Taemin itu. Seharusnya aku marah karena Jonghyun menggantikanku dengan gadis itu. Tapi tidak.

“Tidak perlu. Aku hanya ingin menumpang untuk beberapa hari saja.”

“Kau akan pergi lagi? Ketempat lelaki miskin itu lagi? Huh! Hebat sekali pengaruh lelaki itu padamu.”

“Diamlah Jjong.”

Aku kemari bukan untuk membicarakan Jinki. Tapi entah aku tetap marah saat Jjong meremehkan Jinki. Memang tidak bohong jika aku masih mengharapkan Jinki.

“Kim Gweboonku sedang bad mood. Benar bukan? Bagaimana kalau kau juga mencobanya. Sex. Aku masih menyimpan pengaman dikamar mandi.”

“Berikan saja aku kamar. Aku mengantuk.”

“Haah~ terlalu banyak bergaul dengan lelaki itu kau jadi tidak menyenangkan.”

Kuabaikan Jjong. Lagipula dia tanpa kuminta dua kali sudah beranjak keluar kamar. Memang seharusnya dia pergi untuk menyiapkan kamarku.

Kulirik selfon yang kutaruh disampingku. Layarnya terus menyala dan memampangkan nama Jinki. Terus kudiamkan dan tidak kuangkat sejak beberapa jam yang lalu. Aku ingin sekali mengangkat dan mendengar suaranya, tapi..

Aku yakin dia menghubungiku hanya untuk menyuruhku kembali kerumah.

Panggilan dari nomor Jinki akhirnya berhenti. Tak sampai dua detik selfonku menyala lagi.

“Kenapa tidak kau angkat?.”

Jjong mengambil selfonku. Aku tidak menyadari kehadiarannya.

“Hey! Kembalikan!”

“Hallo? Bukan, aku Kim Jonghyun. Kenapa?”

Aku membeku ketika Jonghyun berbicara dengan Jinki. Tanpa alasan yang kuketahui, aku cemas.

Sampai akhirnya Jjong menekan tombol mengakhiri panggilan dan menyeringai. Mengembalikan selfon ketanganku.

“Menyebalkan. Dia terus mengoceh agar kau cepat pulang.”

“Aku tidak mau pulang.”

“Yes baby. Karena saat ini kau sudah pulang.”

Jonghyun kembali berjalan menuju pintu kamarnya.

“Oh! Aku sudah menyiapkan kamar untukmu. Kupastikan kau tidur nyenyak dirumahku.”

“Thanks.. Jjong.”

Dia menekan tombol yang menghubungkan dengan beberapa pelayan dan pengawalnya.

“Ada seorang lelaki didepan. Biarkan dia masuk.”

Siapa?

Kukira Jjong akan memanggil pelayan untuk mengantarku kekamar.

“Lelaki itu bukan Jinki. Iya kan?”

“Sayangnya, dia Lee Jinki. Kau bisa mengusirnya langsung. Dia bukan tamuku lagipula.”

Dadaku berdegup kencang.

Jinki menemukanku. Antara senang dan sakit. Sakit karena aku tidak mau melihat lelaki yang menolakku.

“Gwe! Jika kau mau kau bisa mengajak lelaki itu bermain bersama kita.”

Aku tidak tahu siapa yang mengatakan itu, tapi yang pasti dia salah satu teman lelakiku. Dan ditanggapi sinis oleh Jonghyun.

“Ck! Aku tidak mau bermain bersama lelaki itu.”

Jonghyun menjatuhkan diri diatas sofa.

Knok knok.

Lalu terdengar ketukan. Aku yakin itu Jinki.

Kumenoleh pada Jonghyun. Dia memberiku isyarat agar aku yang membukakan pintu. Jelas dia tidak suka dengan Jinki. Maka aku berjalan menuju pintu, ragu untuk membuka pintu, tapi pada akhirnya kulakukan.

“Gwe!”

Begitu setelah melihatku Jinki melangkah masuk kedalam kamar. Sudah dapat kutebak dia akan tersentak dengan apa yang sedang terjadi didalam kamar. Jinki pun kembali mundur dan memalingkan wajahnya.

“Jika kau datang untuk menyuruhku pulang, sebaiknya kau pergi saja. Aku akan tinggal disini.”

Mata Jinki membulat. Kuputuskan untuk keluar dari kamar dan menutup pintu. Aku tidak ingin Jonghyun mencampuri pembicaraanku dengan Jinki.

Beberapa pengawal yang mengantarkan Jinki mengambil jarak cukup jauh. Memberikan kami ruang untuk bicara.

“Aku akan lebih tenang jika kau kembali kerumahmu.”

“Apa kau bercanda? Kau sendiri tahu bukan? Rumah itu bagai neraka bagiku.”

Jinki diam.

Kami terdiam.

“Kumohon pulanglah.”

“Kenapa begitu mendesakku untuk pulang? Aku tidak mau pulang.”

Jonghyun datang. Dia melipat kedua tangannya dan bersandar pada dinding. Terlihat bosan dan tidak sabar untuk melihatku mengusir Jinki.

“Aku akan pulang jika kau menciumku.”

“Apa?”

Jinki tidak akan menciumku karena bukankah dia muak padaku? Dengan begitu Jinki akan pergi tanpa aku mengusirnya.

“Kau akan pulang jika aku menciummu?”

“Aku tidak main-main dengan perkataanku Jinki.”

Lalu jantungku seakan berhenti berdetak.

Tidak sempat untuk memejamkan mata, aku dapat melihat begitu dekat wajah Jinki dimataku. Bibir Jinki terasa begitu hangat dibibirku. Aku tidak mengada-ngada, aku terbuai dan mengikuti ritme bibirnya. Mulai memejamkan mataku dan menghisap bibir Jinki.

Tapi sayangnya, Jinki menarik dirinya dariku.

“Kita pulang?”

Butuh beberapa detik sampai aku menyadari keberadaan Jjong. Dia terlihat kesal. Kembali kedalam kamarnya.

Mau tak mau aku harus menepati ucapanku.

*********

***

Matahari mulai mengintip. Menjadikan langit hitam lebih terang, menyemburkan warna kebiruan.

Tak terasa diluar sudah terdengar kesibukan. Klakson mobil. Beberapa orang yang berjalan. Dan kicauan burung.

Pukul setengah enam pagi hari.

Kulihat punggung Jinki, dia sibuk dengan segelas kopi yang dibuatnya lagi.

Mataku terus menatap punggung Jinki. Lebar, terlihat begitu nyaman dan mampu melindungiku.

Aku menghampirinya. Membuatnya terkejut dengan memegang sisi kemejanya. Melingkarkan lenganku pada pinggang Jinki. Dan menyandarkan keningku pada punggungnya.

“Aku akan terus mengatakannya. Aku akan terus memintamu untuk mencintaiku. Karena tidak ada lagi tujuan hidupku, selain ingin bersamamu.”

Aku dapat mendengar detak jantung Jinki. Mendengar hembusan nafasnya. Begitu jelas karena kami hanya diam.

“Aku tidak bisa.”

Kupeluk lebih erat lagi.

“Kenapa tidak bisa? Karena perempuan itu?”

“Karena aku tidak yakin dengan hubungan kita.”

“Karena perempuan itu bukan?”

Jinki menggenggam tanganku. Hangat walau tangannya agak kasar. Dia melepaskan pelukanku dan berbalik. Masih menggenggam tanganku.

“Aku.. tidak mencintainya.”

“Lalu? Bagaimana dia bisa ada disini?”

“Kami bertemu secara tidak sengaja. Aku hanya menawarinya untuk berteduh. Malam itu hujan.”

“Dan kau mulai mencintainya.”

“Bukan seperti itu Gwe.”

Jinki mengacak-ngacak rambutnya kemudian berkaca pinggang memandangiku geram.

“Kau menyuruhku untuk pulang karena ibuku memintamu. Dan kau tahu aku akan dijodohkan. Yah benar. Tentu saja kau tidak mencintaiku dan mencintai perempuan itu.”

“Gweboon..”

“Tapi asal kau tahu aku tidak akan menyerah.”

“Gweboon tolong dengarkan aku.”

“Lalu apa maksudmu memulangkanku!”

Kekesalan yang kupendam selama satu minggu ini meluap sudah. Kesal, marah, dan kecewa karena lelaki yang kucintai justru mendorongku untuk menikahi Choi Minho itu.

“Karena kupikir duniamu memang disana. Bersama ibumu.”

Meski tak rela, kulepaskan genggaman tangan Jinki pada tanganku. Langkahku gontai menuju pintu keluar.

“Baiklah aku akan menikah dengan Choi Minho. Dan kau akan mendengar kabar kematianku tak lama setelahnya.”

Tanganku baru saja akan meraih kenop pintu, lalu Jinki menarikku kedalam. Mendudukanku disofa. Mencengkram erat lenganku dan menatapku dengan mata yang marah.

“Kenapa begitu ingin hidup denganku?”

“Karena aku mencintaimu.”

“Lalu setelah hidup denganku apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan disisimu. Mungkin memberimu anak dan membahagiakanmu.”

“Kau yakin?”

Kuangkat tanganku untuk menyentuh wajahnya. Mengelusnya dan sekedar menatapnya.

Aku Kim Gweboon bahkan membersihkan tempat tinggal Jinki. Mencuci untuk Jinki. Semua hal yang tidak pernah kulakukan untuk orang lain. Aku melakukannya untuk Jinki.

“Apa kau juga mencintaiku?”

“Sangat.”

Aku..

Katakan padaku aku tidak salah dengar.

Kepalaku berkunang karena terlalu bahagia.

“Kau mencintaku. Lalu mengapa terus menolakku! Apa yang salah denganku? Apa aku kurang cantik?”

“Tidak. Tidak. Gwe, kau cantik. Sangat cantik. Aku bahkan sempat mengira kalau kau Barbie.

Barbie?

Itu cukup untuk membuatku tersenyum hari ini.

“Benarkah?”

“Iya. Rambutmu indah. Kulitmu halus dan bibirmu juga lembut. Dan lihat kuku-kuku ini. Sangat cantik. Lalu aku mulai berfikir berapa yang harus kukeluarkan untuk menjaga barbieku ini tetap cantik? Apa aku mampu?”

Senyumku hilang.

Aku tahu kemana arah pembicaraannya. Dia akan menolakku dengan alasan aku tidak dapat hidup dengan uang yang dihasilkan Jinki.

“Aku akan meninggalkan semuanya. Tapi jika aku tidak cantik apa kau tetap mencintaiku.”

Jinki tersenyum hambar. Seolah tidak yakin dengan pernyataanku.

“Aku yakin kau akan tetap cantik tanpa semua yang menghiasimu saat ini. Tapi aku ragu kau bisa menanggalkan semuanya.”

“Aku akan melakukan apapun Jinki.”

“Kau benar tentang perempuan itu. Dia pernah menjadi kekasihku. Dan dia sama sepertimu. Terlahir dikeluarga yang berada. Tapi hubungan kami tidak berjalan baik. Karena ternyata terlalu banyak perbedaan cara kami menjalani hidup. Beberapa diantaranya menyakitkan.”

“Kau masih mencintainya…”

“Tidak! Aku mencintaimu.”

Jinki membuatku bingung. Aku tidak tahu kemana Jinki akan mengarahkan pembicaraan ini.

“Perlu kau ketahui. Pria akan terluka jika harga dirinya terinjak.”

“Aku tidak akan melakukan itu.”

“Mungkin bukan kau. Tapi orang-orang disekitarmu. Ayahmu. Ibumu. Temanmu. Itulah sebabnya butuh waktu yang lama sampai aku siap untuk bertemu dengan mantanku lagi. Dia memang sempat melepaskan semua atribut kekayaannya. Tapi hubungan kami berakhir saat dia mulai menuntutku untuk melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Semua hal akan berujung pada materi.”

“Aku tidak akan melakukan itu. Aku janji.”

Jinki menyeringai. Mengelus pipiku dengan senyum yang tidak terlihat tulus.

“Pulanglah.”

“Apa? Kau mencintaiku mengapa terus mendesakku untuk untuk menikahi Choi Minho!”

“Aku tidak menyuruhmu menikahi Minho. Aku menyuruhmu pulang. Dan jangan mencoba untuk bunuh diri.”

Mengelus lembut punggung tanganku. Mengecupnya lalu berdiri.

“Kuantar kau pulang. Lagipula aku harus bekerja. Aku harus mengumpulkan uang yang banyak untuk membeli cincin. Agar ayahmu terkesan.”

Jinki menawarkan tangannya untuk kuraih.

“Itu pun jika kau ingin menunggu.”

Lee Jinki. Kau membuatku gila.

End

107 responses to “(FF SWITCH GENDER JINBOON/ PG 15/ 2S) The World Outside My Window – Part 2 END

  1. Seperti’a Ainun first comment lagii sama kaya dipart1 ↖(^▽^)↗
    Eonni~ inii suiiiittttt banged!! akhir’o nongol juga setelah hampir setengah taon, ahhahaa
    Ahh lelaki seperti Jinki mengingatkan saya kepada sii abang yg takut gag bisa membahagiakan wanita’a karna tak mempunyai banyak uang seperti orang tua wanita’a, suka pokok’a suka banged (>^ω^<)

    Oia itu temen'a sii Jjong ngajakim maen bareng gimana maksud'a?? ahhahaa
    Gwe akhir'a kau mulai menemukan kebahagiaan ^^

  2. Yaa ampun onniiii
    Itu knapa nanggung??
    Sequel on sequel …. waktu mereka merried dunk
    Akhirnya jinki jadi jg ama si gwe ><
    Jinki itu gak mau ngaku gegara gak punya uang yah.. aduh jinki gak papa kuq gwe ikhlas ntuh
    Demi jinki apa si yang enggak xD

  3. Aku hampir lupa sama cerita part 1 pas baca awalnya, tp pas trus baca akhirnya inget jg jalan awalnya.
    Endingnya si ga gantung, tp krg memuaskan, blm puas klo jinki sm gweboon blm nikah trs punya anak.
    Sequel bisa kali ghea eonni😀

  4. eh?
    segini doang? #gubrak
    kau emang suka ngegantung gey…
    padahal gua berharap ada NC duet nih
    wkwkwkwkwkwk
    #buatNCsendiri

  5. Emang deh onnie nepatin janji kalau galau baru kluar lg ni ep ep..
    Tp mudah2an galau onnie cepet hilang yaa,,,🙂
    jadi akhirnya jinki ngaku kalo dy jg suka ama gwe,, eehhaaa,,
    tp sungguh onn, gantung bgt,, pengen ada sequelnya deh onn.. Kkkkkk

  6. jinki di ff ini aku sukak banget! Karakter pria idamanku sekali, tahu diri, bertanggung jwb dan mengayomi. Ihiiir..
    Bang jinki nikahi aku dong xD #dicekekgweboon

  7. g ada NC oen??*gubrak
    #yadongkumat
    kekekekekeke
    hepy en…yeayyyyyyyyyyyyyyy*joget RDD
    sosok appa bikin melting sndiri..senyum2 gaje pula..
    omo~
    beneran suka saya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!pake sangat malah..

  8. gezzz..
    lama banget eon..==”
    awalnya saya lupa sama part satunya..
    seiring berjalannya waktu*??* jadi inget deh..XD

    wah…>.<
    si jinki sebenernya cinta sama gwe..
    tapi karena takut ga bisa membahagiakan gwe..
    jadinya dia bersikap gitu..
    yayayaya…:)

    bagus eon!!…XD
    sequel!!!…
    lanjutannya…!!!
    hehehehehe..XDXP

  9. Onyuuu…..♥♥♥
    “Kuantar kau pulang. Lagipula aku harus
    bekerja. Aku harus mengumpulkan uang yang
    banyak untuk membeli cincin. Agar ayahmu
    terkesan.” <——- eaaaa….eaaaa (≧▽≦)

    gwiboon g ptang mnyerah buat naklukin jinki… (*^▽^*)
    aaah,,,,jinboon lophe lophe deeh,,,,♥♥

  10. beneran gantung ini…tp bagus,serasa nonton film watak,konflik g berat tp jlebb banget…
    Taemi!!!apa yg kau lakukan d ranjang itu…#jewerTaemin
    wlw gantung,aku yakin Jinboon akan bahagia…
    Jinki bekerja keras trnyata bwt beli cincin
    smoga Jinki cepet kaya,..amin

  11. ahhh jinki bikin dilema nih..
    ckckckkckcck
    tapi itu happy end kan?
    hahahhahahaha

    ahh gaya hidup jong daebak, luamyan jadi cameo :p
    kenapa jong kga demen ama jinki yah?
    masih penasaran ama itu, hehehhehe

    suka deh kata kata gwe aku akan memberikanmu anak :p

  12. Kluar jg nih ff stlah mnunggu berabad abad *eh..
    Akhrny jinki ngaku jg dia cnta ma gwe, trnyt it toh alasanny,tkut barbie gweboon ilang ..haha
    sweet ~ bgt eon

  13. awalnya,aku kira jinki lelaki yg kolot. tapi ternyata,jinki adalah LELAKI IDAMAN!!!!!
    gw dah siap2 hate dikirain bakal sad ending.
    miris bgt pas c gwe nangis smbl hujan2-an stlah liat ayah nya. ngena bgt skt hatinya.nyesek. T^T

  14. Sempet lupaaa prev story’y, juga sempet bingung, #efek bgadang baca’y malam gituu.
    Sweet, khas ghea onnie’s story bgt, jinki pria sejati, gwee image’y keras kepala anak mami.
    Tapiii gantuung ah, kawinin gitu napa? Kawin aja, nikah ntar, #inget dosaaaa…

  15. serius deh , lupa lupa inget sama cerita spart 1nya ^-^)V jadi kesimpulanya jinki ga niat nolak gwe ? dia cuma takut ? haaaaaa dan jinki nyuruh gwe buat nunggu dia lantaran jinki pengen bikin ayah gwe terkesan ? uuuuh so sweeeeeeet~ :’DD sequel ka sequel~

  16. Gwe bnr2 bosan dngn hidupnya..
    Keluarga yg hancur..
    Pergaulan yg wuihhh..
    Hingga otaknya konslet dan menginginkan apa yg dy tidak pernah punya dan tidak pernah dy alami..
    Ingin hidup dngn jinki..

    Sepertinya jinki memang menawarkan kehidupan yg berbeda dan menantang bwt gwe..
    Hidup sederhana, tanpa kekayaan., namun penuh kasih sayang..

    Jd, gwe akan bisa melebur dngn jinki kah?
    Atw akan seperti mantan jinki?

    Kuharap jinboon akan bahagia..
    Dan jinki ttp mencintai gwe, walau gwe nanti lbh mirip boneka chucky daripada boneka barbie..
    #disantet gweboon

  17. Gey eonniii,.,,
    dirimu sungguh sangat terlalu…
    setelah sekian lama bikin galau sama kelanjutan ini ff,,
    endingnya bikin aku galau lagii…????!
    jinki kena trauma,,T.T
    gara2 mantannya…hukkss..kasian gwenya,,
    suka dialog endingnya,,,
    “Aku harus mengumpulkan uang yang banyak untuk membeli cincin. Agar ayahmu terkesan.”ini kalimat aq suka…

  18. Gwe semangatnya 45 “pantang menyerah”
    jinki pesonanya gilaaaa bikin gwe ga mau lepas aku jugaaa *acungjari*
    demen deh kalo jinki jadi pihak terkejar bkn pengejar soalnya si gwe kan berani ngelakuin apa aja biar dia bisa ngedapetinnya mwahahaha

  19. oh gtu toh..,,ternyata jinki suka sama gweboon
    jinki takut gk bisa ngebahagiain gweboon
    chingu crita ini udah lama aku tuunggu2 ternyata baru di share…gpp deh yang penting dah baca..

    chingu crita ini bagus bgt,,…ditunggu ff lain nya…🙂

  20. Another great ff!!!
    Ini tuh ya kak endingnya bikin d’aaawww sweet bgt paling suka ending nya pokoknya
    Udah curiga sih dari awal kalo jinki juga cinta sama gwe tapi ya itu tadi takut
    Good job kak really great fanfic! Two tumbs!!

  21. sweeeeeeeeeeeettttttttttttt…….. jinki beliin cincin buat gwe.. aseek…
    tp pkiran jinki apakah sama kda stiap cwek kaya? cma krna trauma ama mntannya, dia trus2an hindarin gwe.. gk peduli btapa gencarnya gwe ngejar dia. tp akhirnya sweet lah.. krain akhirnya sedih. wkwkwkwkwkwkwwk…

  22. Astaga !
    kenapa END ???
    pas seru2 nya kenapa END ???

    Aduuuuhhh kak Gey…
    kenapa gantung banget…..
    biarpun dah ketahuan bakal kemana arahnya
    tp berasa ga sreg klo begitu akhirnya
    sumpah bikin nyesek dech…

    tp bagaimanapun ceritanya bagus
    en bikin aku nunggu lama banget
    en lumayan memakluminya cos dah ada peringatannya sih
    plus aku suka banget karakter Jinki di sini
    cowok idaman banget dech pokoknya

  23. Arghhhhh gilaaaa bikin ngacak2 rambut bacanyaaaaa,penasarannnnn gantungggg bingungggg tapi seruuuuu.
    Complicatedddddddd.
    Galauuuuu.
    Uda bingung dehhhh mau ngmg apa buat ff ini.
    Sumpahhhh seru tp gantung hahaha.
    Euhhh ujung2nya materiiii yaaa.
    Yaa sometimes cewe klo trlalu cantik merawat diri bikin cwo rada minder buat deketinnya.
    Tp salut sm gweboon diomongin yg nyakitin terus menerus sama jinki tahan banting dehhhh.
    Aku sih mewek2 kali diomongin ky gtu sm org yg aku sayanggg

  24. Andwaaaeeeee……..

    Kyaaaaa~~~
    Unnieeeeeeeeee….
    Jinboooon is baaaackkk…
    My jinboon…
    My lovely sweaty cutie pretty *kayak d dazzling girl* Jinbooon….
    Hahahahahahaa….

    Iiiihhh.. Jinkkiiii.. Co cuuiiitttt…
    D cubit deeeehhh … Hahahahaha..
    Brp bulan ini cerita ya oloooh…
    Hahahahaa..

    Sequel sequel sequel sequel…. Hihi «= Rusuh ^^

  25. Arggggggghhhhhh…. Eonni, kau membuatku gila!!!

    Aku kira bakalan sad ending td, aku udah banjir air mata, mata bengkak, eh nggak taunya akhirnya nggak terduga… HAPPY ENDING!!! *teriak keliling kampung*

    Eonnie bener2 DAEBAK!!! Jinki oppa kau jg buatku gila….

  26. Jadii,,, itu sbabnya jinki suka menghindari kontak mata + pmbicraan yg nyerempet mslah gwe dan jinki… Sking cintanya ama gwe,,, trus kbyang kya kjdian sma mantannya itu…
    Tenang ajj bang,, gwe sllu pdamu kq…🙂

  27. kasian banget gwe….kalo aku jadi gwe…
    mungkin aku gak akan bisa bertahan dengan keadaan yang seperti itu…
    nyesekkk….
    but….i’m very very happy….happy ending…
    akhirnya gwe mendapatkan jinki…
    speechless….ff eonni mah selalu bagus…
    walopun banyak yang gantung sih…#plakkk….digampar gegey eonni

    aku kira ini bakalan angst…bakalan sad ending…ternyata aku salah…
    pokoknya selalu daebak….errr

    lanjuuutttttt

  28. mmehhhhhhhhh -,,-
    Udahan unnie???
    Koq ending ny malah bikin aq mikir kayak gini:
    ibunya gweboon akan sangat murka karena gweboon menolak dijodohkan, trus dia tau itu karna gweboon cinta sama jinki, trus mamak si gweboon buat jinki sengsara kayak d drama2 lain, trus jinki menderita, hilang pekerjaan, ayah gweboon ga perduli krna ngurusin istri sama anak ny yg lain. trus gwiboon nangis2 hampir setress, trus….. End”
    Mmuaaahahahahahahah xD

    Tpi setidak ny sudah saling tau klw kedua ny saling mencintai, ekkekekkekekekkek~

  29. yeah..alhamdulillah keluar jg end na..
    udh bgt nggu na..
    wlo pn telat 2hr c..hehehe
    gea eon..saranghae..♥
    srg2 bwt ff jinboon couple yah..
    hehehe
    d tggu ff na yg lain..

  30. eon, daebak. Keren bgt sumpah…
    nyesek bagian jinki nolak gweboon😥

    suka ceritanya eon, manis😦
    sweet bgt… walaupun masih gantung tp cukup lega karena ternyata jinki juga cinta gweboon..

    gak kebayang tersiksanya gweboon mbuat jinki sukat ma dia😥

    eonni emg daebak..
    buat yang galau2 lagi eon, entr tak bantu lempar jjong dr langit buat eonni😀

  31. huaaaa kereeeennn
    salut sama usaha gwe buat dapetin jinki
    pantang nyerah bgt.
    biarpun mederita demi akhir bahagia.
    daebakk

  32. gila akuuuuuuuu

    bener2 seabad nunggu ni ff.
    part 1 nya aja kayak band kuburan, lupa-lupa ingat.

    ff ni bener2 main hati…
    ungkapan perasaan semua…

    rada bingung sama sifat jinki.
    sejauh ini aku suka.

    tp eon kok endingnya gitu sih???

    sangat2 gantung……

  33. FINALLY, AKHIRNYA DIRILIS JUGA PART INI….YEEEYYYYY *pasang petasan*

    Gwe :Apa kau juga mencintaiku?

    Jinki : Sangat.

    aku: KYAAAAAAAAA~~~ >______<

    gey eonnie, kenapa ngegantung endingnya, kenapa????
    sekuel, sekuel, sekuel~~~

  34. kan. karakter gweboonnya oke banget.
    agresif. dan berani ambil resiko. ㅋㅋㅋ

    ini jinkinya ngegemesin bgt. perhatian tapi omongannya pedes bgt.
    jjong oppa kenapa dapet peran mesum? kasian kau oppa.*pukpuk

    eon, bikin lagi aku kangen bgt sama jinboon buatan gey-eonni

  35. hampirr lupa ama jln critannya..jd kubek” part1 dulu dee
    gwe d sini…bener” gwebon bgt! aq suka
    tapi ga tau napa berasa ad yg kurang eonni?berasa ga segreget part 1…but ff eonni emank slalu d atas standar ff yg aq suka sii…
    d tunggu bgt ff yg laennyaaaaaaaaaaaaaaa

  36. Masih tetap penasaran nih ma endingnya. Haha..
    Aku suka dengan karakternya Jinki disini. Dia tegas, berkomitmen dan keras, walau kerasnya bukan memukul sih. I like it!🙂

  37. huwa~~ saya lupa kak sama cerita part 1 nya…
    tapi untunglah sejalan*?* dengan membaca part 2 akhirnya ingat.kekeke
    jadi ini Jinki juga sebnya cinta ma Gwe..hanya saja takut gak bisa membiayai ‘barbie’ nya..
    demi apa ce jinki gak cuma buat gwe gila tapi juga saya *?* #kagakpenting
    suka banget kak ma ini part..karakter jinki gila keren banget :))
    gak salah gweboon jatuh cinta ma jinki.kekekeke
    beneran uda end ni ka…kya~ sequel kak kalo ada.gantung #ngarepbanget

  38. waduh…sya kenapa ini????
    so sweet…
    sebenarx kalimat2x g’ akan begitu jelas klo yg baca orang2 awam tapi keren bgt!!!!
    sumpah sya sebenarx g’ suka sma yg gantung tp entah kenapa FF ini pemaparannya nusuk hati…..
    hmm,,sya perlu banyak belajar untuk membuat sesuatu tidak sefrontal jalan ceritanya….
    FF ini adalah motivasi untuk sya…^^

  39. doh beneran lupa ini ceritanya kayak gmn =_=a kekeke
    nekat gak baca lg part 1, alhasil nebak2 jalan cerita kekeke

    jinki pantang menyerah nyuruh gwiboon pulang keke
    agak bingung endingnya =_=a
    itu kata2 jinki di part2 akhir ngena bgt yah

  40. Yaaaa!! Author endingnya kuraaaanngg!!>o< maaf kalau saya protes begini, tp emang ini ff yg lg saya tunggu bgt.. Jinkinya kurang eksotis(?), eh maksudnya sekilas kurang romantis. Tapi dalam part yg 'mendukung' suka bgt pengakuan dia ke gwee yg cantik kaya barbie itu.. Masih penasaran sebenernya ini kelanjutannya mereka beneran jadi atau ngga.. Si jinki berhasil berjuang beli cincin biar ayahnya gwee terkesan atau ngga.. Pokoknya masih penasaran!! Hiks Dx

  41. Akh akhirnya ffnya keluar.. Aye aye..
    Lama sangat sampe lupa ceritanya kayak gmna? Jjong siapa? Minho siapa? Konflik keluarganya apa? Lupa semua >,<
    Tapi kenapa gantung juga? Galau iya tapi kenapa cuma gara gara materi dn harga diri sih?
    Udh mikir kemana mana? Kirain jinki gak suka! Sumpah dingin banget sifatnya gak ketebak!
    Dari awal ath bang bilang suka kenapa yah? Ni orang nyebelin nyampe harus galau galau dulu ==

  42. Kyaaa!!! akhirnya publish juga \(^^)/
    Nyesek pas bagian Gwe ktemu appa nya😦

    “Kuantar kau pulang. Lagipula aku harus bekerja. Aku harus mengumpulkan uang yang banyak untuk membeli cincin. Agar ayahmu terkesan.”
    Jinki menawarkan tangannya untuk kuraih.
    “Itu pun jika kau ingin menunggu.”
    Lee Jinki. Kau membuatku gila.

    Aahh.. aku suka banget bagian ini, aku pikir Jinki ga suka ama Gwe tapi ternyata…
    daebakk thor ‘-‘)b tp gantung nihh buat sequelnya doongg😀

  43. AGHHH akhirnya netes juga FFnya
    tapi itu nanggung Unni *plak plak dzing*
    ah sempet nyesek pas Gwe di paksa pulang (T^T )
    sempet negthink kalau jinki udah nggak suka lagi
    tapi ternyata (ToT ) demi Gwe~
    beli cincin (T_T ) buat nikah T-T)b

  44. suka banget sama jinki yg sangat realistis disini
    gwe ga tau knp cukup nyebelin disini, keras kepala banget jadi aku yg gatel sendiri pengen nabok
    py gwe juga kasian sih
    and aku kaya jinki yg ga yakin gwe bisa nanggalin smw gaya hidup mewah na

  45. sumpah dr awal pe akhir bc sambil senyum2 sndri and di akhir malah ketawa, karna apa? Karna bngng ini crta tntg apa ya? Omg… Something wrong with me… Bener2 lupa part1ny tntang apa? Knapa gwe bs dtmpt jinki, siapa jinki, hub nya apa jjongma gwe, emakny gwe knapa? Ga ada yg ke inget sama skali… Kayany hrs cr part1ny lg.,

  46. uda end???
    hwaaaaaa,,,, baguuuusssss,,,
    lajut dooonnkkk eooonnn,,,,
    pan blm tau ntar jinki nika ma gwe apa ndak

  47. part 2!!! X3
    emang bener nun, seharusnya yang part 1 nggak saia baca dulu sebelum yang ini –”
    Sequel! . .Sequel! . .Sequel! . .xD
    Ini gantung nuna~
    Onyu sayang emak kan? Ga bakal ninggalin emak kan~ u,u
    nanggung lah nun~ ._.v

  48. GWE ONNIEE……………….. INI INI INII,,,, INI DEMI APA MEMBOLAK BALIK(?) PERASAAN SAYAAA. JINKIII*arrrggghhhh,,GEMES GEMES GEMES >_________dbacok gweboon
    ITU CEWEK MANTANNYA JINKI SAPE??? PENASARAN PENASARAN PENASARAAAAN -_____________-
    TAEMIN,,HADUHH NAK…KNAPA KMU MAEN AMA SI DINO MESUM???//plaakkk
    #capslock keinjek yoogeun

    unn,,knapa seneng bgt buat pair jinboon??? unni kan blinger,, knpa g jongkey?? pgn tau alasannya…
    skali” 2min apa jongtae boleh jga unn,,bwt selingan.. yg ptg JINBOON tak terpisahkan >///<

  49. aduh jinkiii, gwe udah cinta banget sama kamu. Kamu nggak usah ragu lagi deh, ayo bersatu sama gwe…
    Kak, ini bagus. Feel nya dapet banget…

  50. Gey eonni membuatku gilaaaa, gantung bgt eon. Tapi sukses nangis bacanya. Ffnya keren tapi kalau ga gantung pasti jadi luar biasa kerenn

  51. eonni hampir mewekq baca nie ff..aku paham maksud jinki dr awal,dy cnt gwe tp dsisi lain dy mrsh tdk pnts dg gwe..tp gwe bnr2 agresifx msk hmpr mw nyerahin tubuhnx bwt jinki tp untng j sijinkix g pervert..suka bgt cow kyk jinki..kpnq dpt cow stulus jinki n g gampangan huhu smw cow sm j *numpng curcol*

  52. Jinkiii. Ahhhh walaupun disini jd orang kere tp aku ttp padamu kok bang serius deh!

    Kekekek seneng deh sm jawaban jinki yg bilang kalo gwe itu cantik bgt sampe dikira gwe itu boneka barbie! Tp jinki takut kalo gwe sm dia si barbie ini ga bakalan cantik lg,alasan yg masuk akal bgt dan sweeet! Jinki mau ngapain aja pasti jd manis kok~

    Kirain beneran tuh jinki mau nyuruh gwe nikah sm minho eh trnyata dia nyuruh gwe nunggu dia buat beli cincin yaaah,uuuuh mau dong bang dibeliin cincin,,,*plaaak

  53. aaa ini teh udah end gitu aja? ciyus? atulah jangan ihh ..
    bikin satu part lagi ya ya ya jeball ,, gantung atuh ini mah
    hahhaha si jinki ny bkin pusing sumpahlah ini ..
    tapi dia manis banget pas bilang kalo dia cinta sma gwe .. hahha sumpah da lngsung jingkrak2 ih ,,
    seru ini crtanya ..
    jangan gantung atuh ya unn .. hehhe
    aku mewek lah bacanya .. yang pas gwe nya ke TK yallah nyesek ah itu gila, kirain tu ayah nya mau bawain payung buat dia .. yallah nyesekk banget

  54. mwoo??? :O ceritanya masih berputar-putar diotak, bahasanya rada ribet untuk dimengerti oleh org seperti saya tapi serrruuuuu…..
    dan gantung panstinyaaaa…
    lanjuutt dong kaaaakkk kasih epilognya gituuuuu

  55. Sudah Q duga,,,sebenarnya Jinki jg Cintrong bgt ma Gwe,,,Gweboon tu mang kerennn..cp cb yg gak melting ma cewek seperfect Gwe,,,
    jinki ja nyamain dy ma barbie…
    Ohhhhh…KEreeeennnnnnnn …..So swettt, FF ni berhasil ngaduk2 MoodQ…

  56. masih bingung sih tapi sudah cukup nangkep apa konflik yang ada di ff ini, complicated BANGET!! gatau deh, bingung mau comment apa juga. intinya jinki emang patut dapetin gweboon dan gweboon patut untuk jinki, meskipun gweboon agak maksa untuk buat jinki jatuh hati sama dia tapi pada akhirnya emang jinki udah ada hati buat gwe hha daebak!

  57. SAMPAI JAMURAN NUNGGUNYAAAA!!!!!!!
    TAPI! NGGAK PAPA!!!
    Entah kenapa ada kepikiran buka wp eonni, eh cus paling atas FF ini! Kenapa sih nulisnya kadang suka bikin aku bingung, kayaknya otakku suka ngga same deh sm kata” kiasan bagus gini LOL . Akhirnya jadi juga kan mereka, nggak gantung sih eon … ini udah fix begini aja udah, ngga usah pake epilog! joaaaa~~❤

  58. kereeeeeen… huaa…
    awalnya rada bingung abis pilihan katanya tinggi bener (?)
    tapi setelah baca sampai akhir jadi ngerti…
    aigoo~ pokoknya so sweet deh… suka bgt sama fanfic ini walaupun nunggu lanjutannya lama #plakk…
    tapi kalo ada sequel.nya bakal lebih keren kali ya… #plakk#modus .-.v
    nice fanfic!!! ditunggu karya lainnya ^^

  59. whoahh si gwe rela ngelakuin apapun demi dapetin jinki ,,,,daebakk !!!
    yah walaupun alurnya agak ngebingungin tapi pilihan katanya aku suka ,
    keep writing eonni !!!!!!!

  60. Kyaaaa.. q suka2, akhirnya onkey bersatu. sempat worried waktu onew ada temen ceweknya. huft ternyata dia cintanya sama gweboon ><

  61. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!
    INI GANTUNG KAK, SERIUS INI BUTUH SEKUEL!!!!!!

    adoooooooooohhh jinki realistis bgt yah, uwoooooooo~~
    kasian si gwe, udah ama keluarganya sendiri kyk gak dianggep, ngemis2 cinta ma jinki (yah walaupun jinki jg sayang ama gwe sih) tp ttp aja ujung2nya jinki takut ‘masa lalu’ terulang kembali u,u

    lanjutin lg atuh kakak gey~~~~~~ *pasang puppy eyes* *narik2 baju*

  62. eonniii kyagnyaa aku makin lemot deh..
    kdang bca ff ne bngung sndri..

    tp setelah d bca tyuz”an.. akhirnya nyambung…

    Kasian bgt ma Gwe TT_TT
    knp hdupnyaa miris? nyesek uyy…
    tp aku salut ma gwe.. perjuangan bwt babeh suka ma dy.. sampai rela tubuhnyaa bwt jinki..

    Trnyta babeh dubu tuh prnh trauma toh..
    mkanya dy takut suka ma gwe.. takut g dbsa bhagiain gwe.. takut d injak harga dirinyaa..

    tuh drmh jjong da acra apa? kok? kyagnyaa jorok iah? #evil
    smpek” babeh dubu msuk kamar lgsg kaget n buang muka..

    Babeh trnyta cinta ma gwe..
    Omaigot babeh mw ksih cincin k gwe!!

    sequel eon..
    ne msh gantung..
    blum dcrtain gwe n babeh gmn ntar.. nikah punya anak..

  63. hai gey.. ini aku yang message kamu. hehe..
    awalnya (part 1), rada bingung.. tapi lama-lama saya mudeng juga.

    kasihan si gwe, hidupnya terlalu miris. hanya dikelilingi kemewahan dan uang.
    dan… sex..
    dan saya kehidupan jaman sekarang seperti itu, orang tua kadang tak peduli dengan anaknya, hanya memberi uang.

    saya kira si jinki gak suka gwe karena apa, ternyata karena si gwe kaya.
    jadi dia merasa rendah dimata gwe, padahal gwe cinta sama jinki apa adanya.
    aku suka pas ending. Soalnya jinki mau bekerja keras hanya untuk membelikan cincin buat gwe. itu baru lelaki hehe..

    aslinya (menurutku) ini masih nggantung endingnya. tapi nggak masalah sih, nggak semua cerita harus diceritain sedetail mungkin, nggantung itu terkadang lebih seru.

    koreksi dikit, ada beberapa yang typo. itu aja sih.. hehe🙂

  64. Kl Dr segi jinki siy bsa dimaklumin
    Tkt kn kl gwe sm kya mntanny menuntut yg jinki ssh lauinnn…

    Tp untungny jinboon bersatuuuuu…
    Klo bsa ksi epilogny ya thoorrr
    Fightingggg!!

  65. Cinta yang terhalang status ekonomi,,,,
    endnya gantung oen,,,buat epilognya ya
    pleaseeeeeeeeeeeeee!!!!!!
    #sogok pake kolor si Dino kkekekekkekekeekke

  66. Waaahh..
    Authornya ngajak ribuuut..!!

    Nie gantung..
    Akhirnya gimana?

    Author galau.. Masa ngajak reader nya juga galau?

    Duuuh… Nikah ga tuh jinboon..

    Sequel ya thoor.. Ya ya ya…*nyanyibarenggigi..

    Ff nya sukses buat saya gigit jari karena penasaran tingkat badai.

  67. oh nooooooooo sumpaaaaaahhhhh nyesek bangeeeeeettttt….. kasihan ma gwe kasihan ma jini huweeeeeee…..

    aku sempet sebel sama jinki kok dia nolak gwe terus bkin darah naik ke kepala saja…..tapi itu toh alasannya………………. aku bisa mengerti

    hmmmmmmm lega syukurlah tetep happi ending!!!

  68. ini ngegantung… gak ada sequelnya kah? aku suka banget karakter jinki yg penyayang disini..

  69. Annyeong~ saya readera baru di blinggey heeheehee mohon bantuannya *bow

    Aigoo ini ff bagus banget daebak saya sampe nangis terharu:’) segitu besar nya ya cinta gwe buat jinki sampe ttp kekeh mski jinki nyuruh pulang ke rumah nya, knpa gweboon ga ,mau pulang ke rumahnya? Apa.karna di jodohkan?

    Tapii salut bgt sama gwe dia.mau mnerima jinki apa adanya, sayang nya jinki masih takut karna ga bisa bahagia.in si gweboon tapii saya harap jinboon selalu bersama

    Inii ff nya bner2 romantis bgt, kek suatu pelajaran hidup gitu:’) memang cinta itu ga memandang derajat:)
    Jinkii!! Hwaiting! Buat beli cincinnya:)

  70. aaaaaa knp akhirnya seperti ini??????
    kirain bakal bikin mereka bersatu tp ternyata masih ngegantung u.u
    bikin squel nya juseo~~~ jd pengen tau gmn perjalanan hidup mereka klo mereka bersatu.

  71. si gwe tertekan banget yaaaa.. kasian bgt T_T sampe2 jd moody gitu.. jinki ga bs ditebak ih. hahahhha… mungkin itu yg bikin gwe suka kali yaaa😄 asli ya, di bagian gwe ktmu bapaknya itu sediiiiiih bangeeeettt… untung ada jinki ><
    ni ff daebaaaak lah thooor…

  72. Kyaaaaa…… Nanggung…!!!!
    Tapi cukup hepi, deh, Jibon soulmate sejati…
    Waduh… Jujur, narasi yang panjang dan agak memusingkan
    nggak buat aku bosan… Dan di akhir, baru aku tahu
    kamana ceritanya bermuara…

  73. huwaaaaaa!!! ini sweet!!! ternyata jinki juga suka sama gwe, tapi jinkinya minder😦 pokoknya ini ff bagus banget, alurnya, trus pemilihan katanya. pokoknya kerennnnnnn!!!!

  74. Jinkiiii jangan fikirkan apapun, cukup nikahi gweboon saja bahagian dia hhhh terharu banget sama endingnya, akhirnya jinki nerima gweboon

  75. ternyata ya si jinki juga suka ama gweboon.
    dia cuman rada trauma aja ama masa lalu nya yg juga pernah pacaran ama orang berada.
    gweboon udh bener bener tersiksa luh waktu jinki itu nggak peduli ama dia.
    bahkan dia ampe ngemis ngemis cinta dr jinki.
    ya semoga aja gweboon bisa bertahan nunggu jinki ngelamar dia. semoga juga cinta mereka berdua nggak bakalan luntur😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s