(STRAIGHT/sequel/Part 4) PAY BACK

Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim Jonghyun
  • Narim
  • Nana
  • Kim Kibum

Genre:

Romance, Teary

Hehehehehehehehehe…thanks to ‘the name I love’, ‘in my room’, ‘please don’t go’ dan ‘Y.O.U’ by SHINee, ‘it has to be you’ by SJ Yesung, ‘coagulation’ dan ‘let’s not’ by Suju, ‘How can I’ dan ‘She’ by TVXQ, ‘where are you now’ by Justin bieber, ‘Not like the movies’ dan ‘thinking of you’ by Katy Perry.. karena lagu-lagu tersebut, Kim Jong Gey bisa menyelesaikan part terakhir FF Pay Back. (authornya habis 5 tissu..)

Keep RCL guys!!

Narim POV

Gaun yang cantik sekali. Sederhana tapi tampak elegan.

“Kau tidak suka??”

“Aku suka umma” aku tahu calon mertuaku bertanya seperti itu karena aku tidak tersenyum sama sekali.

“Tidak usah menghawatirkan Jonghyun..umma yakin dia sedang berada disuatu tempat yang sangat indah sekarang..bukankah dia seperti itu??” calon mertuaku membelai rambutku. Itu tidak dapat menenangkanku sama sekali. Aku tahu Jonghyun oppa bukanlah namja yang akan bunuh diri saat patah hati, tapi tetap saja aku menghawatirkannya.

“Apa Jonghyun oppa akan datang dihari pernikahanku??”

“Kau mau dia datang??”

“Tidak..” lebih baik tidak bukan?

Aku terus memandangi diriku di cermin. Gaun yang cantik. Tapi gaun yang cantik ini dapat menyakiti seseorang.

//

“Gaun pengantin..check” calon mertuaku menceklis salah satu daftar keperluan pernikahanku seraya masuk kedalam mobil. “Tinggal satu..cincin pernikahannya..”

“Apa kita akan membelinya sekarang??” tanyaku.

“Tentu saja tidak.. kau dan Jinki yang akan membelinya..” umma memasangkan sabuk pengamannya.

Umma menyiapkan pernikahan sendirian, aku ingin membantu tapi umma bilang semuanya sudah dia tangani. Pernikahan yang sederhana, Jinki oppa menginginkan pesta pernikahan yang sederhana saja.

//

Aku tidak bisa tidur. Tuhaannn…bagaimana bisa aku memiliki perasaan yang seperti ini? Aku terus memikirkan Jonghyun oppa disaat akan menikah dengan Jinki oppa. Aku tidak mau Jonghyun oppa pergi, tapi aku juga tidak mau Jonghyun oppa menghadiri pernikahanku.

Akkkhhhh!! Aku bangun dari tempat tidurku. Aku akan jalan-jalan sampai merasa lelah dan akhirnya mengantuk.

Kulihat lampu ruang keluarga masih menyala, apa Jinki oppa masih membaca? Aku masuk keruang keluarga dan mendapati Jinki oppa sedang tertidur disofa, menyandarkan kepalanya disofa. Tangannya masih memegang buku. Aku duduk disampingnya, memandangi wajahnya saat tidur. Cukup membuatku tenang. Aku ikut menyandarkan kepalaku disofa, sambil memandangi wajahnya.

“Kenapa kau belum tidur??” Jinki oppa bertanya tanpa membuka matanya.

“Oppa mengapa tidur disini??” tersirat senyum diwajahnya kemudian perlahan Jinki oppa membuka matanya.

“Aku senang berada disini..aku masih ingin berlama-lama disini..” Jinki oppa perlahan menggerakan kepalanya kearahku.

“Mau aku temani?” tawarku. Jinki oppa hanya tersenyum. Berada disisi Jinki oppa bisa membuatku sedikit lupa tentang Jonghyun oppa, aku ingin terus disisinya.

Jinki oppa kembali menutup matanya, jika dia mengantuk mengapa tidak pergi kekamarnya saja?

“Terima kasih mau menemaniku..Narim..” Jinki oppa berbicara tanpa membuka matanya.

Aku menggenggam tangannya, tangannya basah, sepertinya dia berkeringat.

Jinki oppa tersenyum saat aku menggenggam tangannya, dia mengeratkan genggaman kami.

“Tetaplah disisiku Narim..” Jinki oppa masih belum membuka matanya.

“Aku sudah disismu oppa..” jawabku.

Hati dan pikiranku tenang sekali berada didekatnya.Akhirnya aku dapat tertidur disisinya.

“Narim..Narim..” Jinki oppa menepuk-nepuk pipiku dan membuatku terbangun.

“Ada apa oppa??” aku berusaha membuka mataku penuh.

“Tidurlah dikamarmu..” Jinki oppa membantuku berdiri.

“Bagaimana dengan oppa?” tanyaku.

“Aku juga akan tidur dikamarku” Jinki oppa mendorongku keluar dari ruang keluarga, dia bahkan mengantarku sampai pintu kamarku.

“Ini dia kamarmu..” Jinki oppa membukakan pintu kamarku, aku kemudian masuk kekamarku.

“Oppa tidak akan tidur diruang keluarga kan?” tanyaku sebelum menutup pintu.

“Ne..annyeong..” jawabnya sambil melambaikan tangannya, aku perlahan menutup pintu kamarku.

Aku memijit leherku yang sedikit sakit, mungkin karena posisi tidurku yang salah disofa. Aku menjatuhkan diriku di kasurku, nyaman sekali. Sepertinya memang lebih baik aku melanjutkan tidurku dikasur.

//

“Narim bangun!!” itu suara Jonghyun oppa? Sontak aku langsung terbangun, dan melihat sekeliling kamarku. Tidak ada Jonghyun oppa. Tapi aku yakin tadi itu suara Jonghyun oppa, suara Jonghyun oppa yang selalu membangunkanku.

Kulihat jam dindingku, masih jam setengah lima pagi. Biasanya pukul segini Jonghyun oppa sudah membangunkanku. Aku kibaskan selimutku dan segera pergi mandi. Akhirnya aku merasakannya kembali, memang segar sekali saat kau mandi pagi-pagi. Kubuka lemari pakaianku, butuh waktu yang lama bagiku untuk memilih pakaian yang akan kukenakan hari ini. Aku sudah terbiasa memakai pakaian yang dipilihkan Jonghyun oppa. Apa yang dikenakan Jonghyun oppa hari ini? Apakah sama dengan yang aku kenakan? Aku merindukannya.

Sudah pukul setengah enam! Matahari sebentar lagi terbit. Aku berlari menuju taman belakang rumah, berlari sekuat tenaga. Tidak mau melewatkan sunriseku.

Aku berlari terlalu kencang, aku hampir kehabisan nafasku.

Syukurlah matahari belum terbit. Aku mengatur nafasku sambil terus memandangi sunriseku. Tidak seindah saat bersama Jonghyun oppa. Aku benar-benar merindukannya. Bukan sunriseku yang kurindukan, tapi Jonghyun oppa yang kurindukan.

Aku menjatuhkan tubuhku hingga terduduk dirumput, kupeluk lututku dan kebenamkan wajahku dilututku. Aku ingin menangis. Narim yang bodoh! Kau tidak tahu betapa berharganya Jonghyun oppa bagimu sampai dia pergi meninggalkanmu.

Aku terus menangis hingga lelah, aku menenangkan diriku sebelum pergi sarapan. Menunggu hilangnya sembab dimataku dan hidungku yang merah. Kupejamkan mataku dan kuatur nafasku.

Kota Seoul sudah terang sekarang. Aku kembali kekamarku untuk mencuci mukaku. Kurasakan sembabku belum hilang juga. Aku tak mau Jinki oppa melihatku seperti ini.

Kutekan keran dan kucuci tanganku sebelum kubasuh mukaku. Kulihat wajahku dicermin. Mataku masih merah. Kubasuh wajahku, memang tidak akan menghilangkan mata merahku, tapi setidaknya dapat membuatku tampak lebih segar. Aku terus bercermin hingga mata merahku hilang.

Berhasil! Aku sekarang siap untuk sarapan.

//

Saat sampai diruang makan aku terkejut melihat calon mertuaku dan Jinki oppa sudah berada disana.

“Selamat pagi..” aku menyapa mereka sebelum aku duduk.

“Pagi narim..” mereka membalas sapaku. Aku lihat jam, masih jam 7 pagi. calon mertuaku tidak biasanya sarapan sepagi ini.

“Hari ini kalian akan membeli cincin kalian?” tanya calon mertuaku.

“Ne umma..” Jinki oppa menjawabnya sambil melirik kearahku.

“Kau yakin akan menyetir sendiri Jinki??”

“Aku sudah punya SIM appa, kau jangan khawatir aku ditilang..” Jinki oppa sedikit menggoda calon mertuaku, tapi mereka tidak tertawa sama sekali. Raut wajah mereka justru seperti menghawatirkan Jinki oppa. apa ini pertama kalinya Jinki oppa menyetir?

“Kau sudah lama tidak menyetir sendiri..”

“umma..tenang saja, aku ingin menyetir untuk Narim..” Jinki oppa menoleh kearahku dan tersenyum.

“Kalau terjadi apa-apa segera hubungi kami Narim..”

“Umma..jangan terlalu khawatir seperti itu..” Jinki oppa kelihatan kesal.

//

Kami pergi membeli cincin berdua, Jinki oppa yang menyetir. Sejauh ini oppa menyetir dengan baik, sesekali Jinki oppa menyalip mobil yang berjalan lamban. Apa yang dikhawatirkan calon mertuaku?

Jinki oppa menghentikan mobilnya di depan sebuat toko, toko perhiasan. Toko perhiasan yang sangat mewah, bahkan terlihat dari luar. Aku yakin jika kau tidak merasa punya cukup uang kau tidak akan berani menginjakan kakimu ditoko ini.

Jinki oppa keluar terlebih dahulu, aku melepas sabuk pengamanku dan menunggu pintuku dibukakan. Jinki oppa hampir masuk kedalam toko dan kemudian kembali. Dia membukakan pintuku. Akhirnya.

“Kenapa kau tidak keluar? kau tidak mau masuk?” tanya Jinki oppa sambil membukakan pintuku. Hahhh..bodoh sekali kau Narim..Jinki oppa bukanlah Jonghyun oppa yang selalu membukakan pintu untukmu.

“Aku hanya..gugup oppa..” aku turun dari mobil, kemudian menggenggam tangan Jinki oppa.

Waaahhhh.. ruangan ini seperti berkilauan. Banyak sekali perhiasan yang sangat indah terpajang di etalase.

Aku melihat-lihat cincin banyak sekali cincin yang cantik, mana yang akan aku pilih?

“Jinki..” seorang namja sebaya dengan Jinki oppa menyapa Jinki oppa.

“Kibum..” Jinki oppa kemudian memeluknya. “Mana cincin pesananku?” Jinki oppa sudah memesan? Lalu mengapa mengajakku kemari?

“Tunggu..” Namja yang bernama Kibum itu masuk kedalam suatu ruangan.

“Ayo kita tunggu disana saja..” Jinki oppa mengajakku menunggu di pojok ruangan, disana terdapat sofa dan meja yng mewah, seperti ruang tamu.

Tak lama kemudian Kibum datang dengan membawa kotak yang besar. Kibum meletakannya di meja didepan kami dan membukakannya. Terdapat beberapa pasang cincin didalamnya.

“Kau suka yang mana?” tanya Jinki oppa kepadaku.

“Semuanya tampak bagus..” jawabku. Memang semua cincin ini indah sekali.

“Calon istrimu ini tidak bisa memilih? Biar kau yang pilihkan Jinki..”

DEGH!

Apa yang dikatakannya? Ini bukan pertama kalinya seseorang mengatakan hal itu padaku. Jonghyun oppa pernah mengatakan hal yang sama. Aku tidak bisa memilih.

“Narim..kau suka yang mana?” Jinki oppa menanyakannya lagi padaku. Aku melihat cincin-cincin yang berjajar rapih. Aku memberanikan diri untuk memilih. Kupilih cincin yang paling tertangkap mataku, cincin emas dengan garis hijau melintang ditengahnya.

“Wahh..calon istrimu ini punya selera yang bagus rupanya..ini cincin terbaik kami..cincin dengan batu jamrud..” apa? Jamrud? Kibum mengambil cincin yang kupilih dan menyerahkannya padaku. Kuperhatikan lebih dekat. Memang terdapat batu jamrud yang melintang didalam cincinnya, hingga terlihat seperti garis berwarna hijau ditengah-tengah cincinnya. Dalam sekejap aku menyesali pilihanku. Cincin ini pasti mahal.

“Ini cincin yang paling mahal yang aku miliki..” Kibum memberikan pasangan cincinnya padaku. Sudah kuduga ini pasti mahal.

“Baiklah..kami pilh cincin ini..” Jinki oppa menyetujuinya. Aku menatapnya, memberikan isyarat kalau cincin ini terlalu mahal.

“Kenapa? Kalau kau suka tidak apa-apa..” jawab Jinki oppa.

“Boleh aku menggantinya, sepertinya terlalu mencolok untuk cincin pernikahan..” aku berikan cincin mahal itu kepada Kibum, Kibum tampak kecewa. Kemudian aku memilih cincin emas yang polos, agar tidak ada batu lagi didalamnya.

“kau yakin dengan pilihanmu kali ini?” tanya Kibum.

“Ne..” jawabku puas.

“Calon istrimu benar-benar tahu mana cincin yang bagus..” apa maksudnya? Apa cincin ini juga mahal?

Aku perhatikan cincin yang baru kupilih, terdapat seperti ukiran relief cupid. Ukirannya begitu halus sehingga tidak tampak apabila dilihat dari kejauhan. Cincin yang indah sekali, pasti mahal. Aku menyesali lagi pilihanku. Apa memang aku tidak bisa memilih?

“Kami ambil yang ini..” Jinki oppa segera mengambil cincin dari tanganku dan memberikannya pada Kibum. Kibum dengan segera memasukannya kedalam kotak perhiasan yang lebih kecil.

“Tapi oppa..”

“Kalau kau terus berubah pikiran, kapan kita akan menikah?” jawab Jinki oppa. entah mengapa perkataannya tadi seperti menusuk hatiku.

“Gomawo Kibum..” Jinki oppa memeluk Kibum sebelum kami meninggalkan tokonya.

“Aku akan datang dipernikahanmu..” balas Kibum.

“Aku menantikannya..” jawab Jinki oppa. aku membungkuk pada Kibum sebelum masuk kedalam mobil dan pergi.

Terus terbesit dipikiranku tentang perkataan Kibum tadi. Aku tidak bisa memilih. Dia dan Jonghyun oppa benar, aku tidak bisa memilih. Mungkinkah karena itu Jonghyun oppa pergi? Dan meninggalkanku dengan Jinki oppa? agar aku tidak usah memilihnya?

Tiba-tiba Jinki oppa menepikan mobilnya. Kulihat sekitarku tidak ada apa-apa, hanya ada pepohonan. Kenapa oppa menghentikan mobilnya disini?

“Oppa? kenapa kita berhenti disini?” Jinki oppa sudah menundukan kepalanya pada setir dan kulihat dia memejamkan matanya.

“Oppa?? kau tidak apa-apa?” tanyaku. Aku mengelus pundaknya.

“Mianhe Narim..aku terlalu memaksakan diri..” Jinki oppa kemudian mengangkat kepalanya dan menyandarkan kepalanya pada jok kursi, masih memejamkan matanya.

“Oppa?” kupanggil lagi Jinki oppa. dia seperti sedang mengatur nafasnya, seperti sedang menahan rasa sakit.

Aku segera menelephon calom mertuaku, mereka akan segera menjemput kami.

Aku meraih tangannya dan menggenggamnya. Tangannya basah dan dingin. Jinki oppa masih memejamkan matanya. Aku melepaskan sabuk pengamannya, agar dia tidak terlalu sesak? Situasi seperti pernah aku temui sebelumnya. Sama seperti kemarin malam. Ada apa dengannya??

“Narim..” Jinki oppa memanggilku, matanya masih terpejam.

“Ne..aku disini..” aku memegang tangan Jinki oppa dengan kedua tanganku.

“Tetaplah disisiku..”

“Ne..” jawabku, aku sudah memilihmu oppa.

Sebenarnya apa yang terjadi padanya?

//

Jinki oppa menolak dibawa kerumah sakit, dia ingin mengistirahatkan dirinya dikamarnya saja.

Jinki oppa berbaring dikasurnya, aku duduk disampingnya. Aku terus menemaninya. Terus mengelus punggung tangannya, aku yakin ini dapat membuatnya tenang.

“Narim..” Jinki oppa memanggil namaku.

“Ne..” jawabku.

“Kau kah itu??” tanyanya sambil memejamkan matanya.

“Ne..” aku disini oppa. mulai sekarang aku akan terus bersamamu, kau yang sudah aku pilih.

Aku mengelus kepala dan keningnya, Kemudian Jinki oppa tertidur.

***

Hari ini akhirnya tiba juga. Hari pernikahanku.

Kulihat ujung gaunku, sepatu putih ku hanya terlihat ujungnya saja.

“Narim..jangan menunduk terus..” appa berbisik padaku, aku menegakan kepalaku. Semua orang memandang kerahku, beberapa dari mereka banyak yang tidak kukenal. Aku berusaha untuk fokus pada altarku. Nana eonni sudah berada didepan altar membawa buket bunga kecil, tersenyum kearahku. Disana sudah ada seorang namja memakai tuxedo putih celana putih dan sepatu putih, rambutnya yang agak pirang membuatnya semakin terlihat bersinar saja.

Namja tersebut terus tersenyum kepadaku. Dia harus sabar menantiku karena langkah appa yang begitu lamban.

Perlahan tapi pasti, aku tinggal selangkah lagi berada disisi Jinki oppa. Jinki oppa megulurkan tangannya, appa menyerahkannku pada Jinki oppa. Kulihat senyum Jinki oppa semakim lebar saat melihatku. Kuterima uluran tangannya, Jinki oppa memegang tanganku lembut. Tangannya dingin, ternyata dia sama gugupnya denganku.

Jinki oppa membimbingku menghadap pendeta. Tangan Jinki oppa menggenggam tanganku erat, sangat erat sehingga aku merasa sedikit sakit.

Kurasakan tangannya mulai basah. Ini tidak wajar. Aku melihat wajahnya, Jinki oppa seperti meringis menahan sakit.
”Oppa?” tangaku menyentuh pipinya dan kulihat wajah Jinki oppa lebih dekat.

“Oppa  kau baik-baik saja??” kurasakan genggaman tangannya melemah, Jinki oppa terus menunduk. Tubuhnya sudah tak dapat menahannya lagi, oppa seperti akan jatuh pingsan. “Oppa!!” Kucoba untuk menahannya terjatuh tapi tak bisa. Terlalu berat.

Jinki oppa jatuh pingsan. Aku mulai panik. Tuhannnn apa yang terjadi padanya?? Aku masih menggenggam tangannya. Wajahnya pucat sekali.. Tuhann apa yang harus kulakukan??

“Jinki..Jinki..” ayah Jinki oppa menepuk pipi oppa, berusaha untuk menyadarkannya.

Beberapa orang mencoba membatu mengangkat Jinki oppa dan masih berusaha menyadarkannya. Kudengar semua orang bergemuruh, mereka pasti bertanya-tanya apa yang terjadi. Jangan tanyakan padaku.. aku pun tak tahu..

“Hyung!!” seorang namja menerobos kerumunan dan berusaha mengangkat Jinki oppa.

Kau tidak akan percaya dengan apa yang kulihat. Jonghyun oppa.. dia ada dihadapanku sekarang. dia mencoba untuk menggangkat Jinki oppa. Jonghyun oppa panik sekali.

//

Sepasang cincin yang masih berada di kotaknya, warna emasnya tampak kusam dan tidak berkilau lagi dimataku..

Aku terus memandangi cincin pernikahan kami. Aku tutup kembali kotaknya.

Semua orang menatap kearahku. Tentu saja, hanya aku seorang yang mengenakan gaun pengantin dirumah sakit. Seorang wanita yang hampir menjadi ibu mertuaku terus merangkulkan tangannya dipundakku dan mengusap lembut tanganku. Kusenderkan kepalaku dibahunya, menunggu dokter yang sedang memberikan pertolongan pertama pada Jinki oppa.

Kubuka kembali kotak cincin pernikahan kami, berharap warna emasnya kembali berkilau. Tetap saja sama seperti terakhir ku melihatnya. Tuhan, jangan jadikan cincin ini menjadi sia-sia. Kututup kembali dan kupegang erat.

Sekarang perhatianku tertuju pada Jonghyun oppa yang duduk jongkok bersandar pada dinding. Dia berada tepat disamping pintu ICU. Kepalanya terus tertunduk.

Jonghyun oppa mengenakan tuxedo, dia menghadiri pernikahan kami? Dimana dia bersembunyi selama ini?

Beberapa tetes air membasahi tanganku. Tutegakkan kepalaku, umma calon mertuaku menangis??

“Tidak apa-apa umma..kau jangan menangis..semuanya akan baik-baik saja..” aku menghapus air matanya dengan jari-jariku. Air matanya semakin deras. Dia mencoba menghapus air matanya dengan tangannya sendiri. Kupeluk dan kuusap punggungnya.

“Semuanya akan baik-baik saja kan umma??” air mataku ikut jatuh, kenapa umma menangis?? Apa Jinki oppa keadaannya memburuk? Jinki oppa baik-baik saja kan?

Dokter sudah keluar dari ruang ICU, dia berbincang dengan Jonghyun oppa. Aku baru menyadari kalau wajah Jonghyun oppa kusut sekali, seperti orang depresi. Umma berdiri menghampiri dokter. Aku ikut berdiri, ingin sekali menayakan keadaan Jinki oppa. Tapi aku belum berani mendekati Jonghyun oppa. Aku hanya memandangi mereka dari tempatku.

Jonghyun oppa kemudian masuk kedalam ruang ICU, umma masih berbicara dengan dokter. Dokter tersebut tampak mengajak umma ke suatu tempat bersamanya. Aku memilih untuk menunggu disini. Semoga Jinki oppa baik-baik saja.

Jinki POV

Putih sekali ruangan ini..

Aku semakin sulit bernafas, infus ini pun membuatku sulit menggerakkan tanganku. Kucoba menggerakan kakiku, tapi seluruh tubuhku terasa lemah, jantungku berdetak tak beraturan, membuatku sulit bernafas.

Hhhhhh…sekuat apa pun kuhirup udara, tapi rasanya hanya sepuluh persennya yang berhasil masuk keparu-paruku.

Kulihat seseorang masuk.

Jonghyun.

“Kau jelek sekali Jjong ah..” wajahnya buruk sekali, banyak kerutan didahinya, kantung matanya berlipat-lipat. Dia tampak 10 tahun lebih tua.

“Hyung..” berdiri disampingku. Pandangannya melihat sekujur tubuhku, sayu.

“Sepertinya baru seminggu ku tak melihatmu.. kenapa kau.. bertambah tua begitu cepat..” Jonghyun tidak membalas sindiranku, dia..hanya tersenyum. Ujung matanya sudah mengeluarkan air. Saat dia mengedipkan matanya, setetes air mata turun kepipinya. Dengan cepat dia menghapusnya dengan tangannya.

Kulihat dia memakai tuxedo. Ternyata..Dia menepati janjinya untuk datang dihari pernikahanku.

“Tuhan menghukumku Jjong.. karena telah mengambil yeojamu..” Jonghyun menggenggam tanganku, namun tak bisa ku balas genggam tangannya, aku terlalu lemah.

“Aku sudah tahu hyung..kau sudah pernah mengatakannya.. aku tidak mau mendengarnya lagi..” suaranya parau..hidung Jonghyun sudah memerah, begitu juga dengan matanya.

“Tidak Jjong ah.. Tuhan menghukumku lagi…karena memaksamu untuk menyerahkan yeojamu.. walaupun aku tahu.. aku tak bisa hidup untuknya..”

“Hyung..sudah..” Jonghyun tidak menatapku lagi, dia tertunduk. Menangis. Air matanya membasahi wajahnya. Jjong ah..kau tidak berubah.. kau tetap cengeng.

“Aku bahkan sudah mengundangmu ke pernikahanku.. aku hyung jang jahat..” Jonghyun menekan ujung matanya, berusaha untuk menghentikan tangisnya.

“Mianhe..Jjong ah..”

“Hyung…” Jonghyun berlutut dan membenamkan wajahnya dikasurku. Dia menangis kencang. Tangannya masih menggenggam tanganku. Ingin sekali ku menggenggam tangan dongsaengku, aku tak bisa.

Aku biarkan Jonghyun terus menangis. Aku hyung yang buruk. Aku tak pantas ditangisi oleh dongsaengku yang bodoh ini.

Dia tidak keberatan saat kulimpahkan tanggung jawabku untuk menggantikanku bertunangan. Saat operasiku gagal, aku memintanya untuk merelakan Narim menikah denganku, sebelum aku meninggal. Tak kusangka dongsaeng pabo ini mengiyakannya. Aku bahkan memintanya datang dihari pernikahanku. Aku tahu akan sangat berat baginya. Tapi dia tetap datang. Pabo.

Jonghyun masih menangis. Tuhannn..biarkan aku memeluknya, atau setidaknya berikanku sedikit kekuatan untuk menggenggam tangannya. Aku mengumpulkan tenaganku pada tanganku. Otakku terus memerintahkan tanganku untuk menggenggam tangan Jonghyun. Haahhhhh..hanya jariku yang bergerak. Tak bisa kulakukan lebih.

Untuk menggerakan jariku saja aku sudah merasa lelah sekali. Aku mengantuk.

Tanganku hangat sekali. Seseorang sedang memijit-mijitnya. Kubuka mataku.

Umma. Tatapannya kosong memandangi tanganku.

“umma..” umma tampak terkejut melihatku.

“Jinki..apa yang kaurasakan sekarang sayang..??” umma membelai pelipisku.

“lemas sekali umma..” air mata umma terus berjatuhan, dia memaksakan dirinya untuk tersenyum. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya terus membelaiku.

Appa berdiri agak jauh, didekat pintu. Dia terus menghapus air matanya dengan sapu tangan kesayangannya.

Mengapa mereka begitu sedih?? Padahal sudah kukatakan pada mereka agar menganggapku sudah mati seminggu yang lalu.

“umma..”

“Ne..” suaranya agak bergetar. Kutatap wajahnya, wajah seorang umma yang sudah melahirkanku, membesarkanku dengan baik, dan mengatur pernikahan yang sia-sia ini.

“Gomawo..umma..” air matanya semakin deras membasahi pipinya.

Appa keluar dari kamar ini. Aku yakin dia tidak ingin menagis didepanku.

Hhhhh..aku menahan tangisku. Aku memejamkan mataku. Aku mulai mengantuk lagi.

Narim POV

Aku berdiri saat mendengar seseorang membuka pintu. Appa, dia seperti habis menangis dan pergi terburu-buru. Perasaanku semakin tidak enak, terutama setelah kulihat Jonghyun oppa keluar dengan mata yang sembab. Semoga perasaanku salah, semoga Jinki oppa baik-baik saja.

Jonghyun oppa masih duduk diujung, bersama Nana eonni. Entah apa yang mereka bicarakan. Serius sekali.

Jonghyun oppa menoleh kearahku. Aku memalingkan wajahku menghindari bertatapan dengannya. Kenapa aku begini..?. aku kembali duduk.

Kulirik sedikit, Jonghyun oppa sedang menuju kearahku. Aku berusaha tetap tenang. Siapa tahu dia hanya akan melewatiku.

Aku kehilangan tempo nafasku saat kurasakan Jonghyun oppa duduk disampingku.

“Kau cantik sekali..” aku tidak berani menatap wajahnya, aku terus memandangi gaunku. “aku merindukanmu..” kuberanikan melihat wajahnya. Jonghyun oppa tidak menatapku. Kepalanya disenderkan ketembok dan matanya  memandangi langit-langit.

“Bahkan melihat video rekamanmu tidak dapat menghilangkan rasa rinduku padamu..” Jonghyun oppa menghela nafasnya.

“Kenapa kau pergi?” tanyaku. Itu adalah pertanyaan yang ingin kutanyakan selama ini.

“Agar kau memilih hyung..” Jonghyun oppa perlahan mengalihkan pandangannya padaku. Dia tersenyum, senyum yang sangat kurindukan. Meskipun sekarang terdapat sedikit kerutan dipipinya saat dia tersenyum.

“Kenapa kau kembali?? aku sudah memilih Jinki oppa..” Jonghyun oppa tersenyum dengan sebelah ujung bibirnya.

“Kau marah padaku? Aku yakin kau tidak akan menyesali keputusanku meninggalkanmu..” apa yang dikatakannya?

“Aku memang tidak menyesal..apa kau juga tidak menyesal oppa??”

“Kau marah??” aku memejamkan mataku dan memalingkan wajahku darinya. Dia benar..aku marah. Aku kecewa sekali dia berkata demikian.

“Gomawo Narim..” Jonghyun oppa memegang tanganku, menyelipkan jari-jarinya kesela-sela jariku. Tanganku hangat, sudah lama aku tidak merasakan sentuhan tangannya. Memang baru sekitar satu minggu. Tapi itu tetap lama bagiku.

“Gomawo karena kau telah menemani hyung..”

“Aku akan selalu menemaninya” Jonghyun oppa tersenyum simpul.

“Selama hidupnya, hanya sekali hyung mengalami jatuh cinta..dan dia memilih yeoja yang tepat..” Jonghyun oppa melepaskan tangannya dari jari-jariku. “Aku rasa hyung akan pergi dengan sedikit kecewa karena permintaan terakhirnya belum terkabul..”

“Apa maksud oppa?” kenapa Jonghyun oppa berkata Jinki oppa akan pergi? Jangan katakan Jinki oppa akan pergi..

“Operasinya tidak pernah berhasil Narim..” Jonghyun oppa sudah berlinang, dengan cepat dia menunduk. “Kita akan kehilangannya..”

Kau tahu rasanya saat Jonghyun oppa mengatakan hal itu? Jantungku seperti ditekan dengan sangat kuat. Sakit dan sesak. Dadaku seperti terbakar, panas sekali. Tenggorokanku bahkan seperti ada yang mencekik.

“Kenapa oppa tidak mengatakannya padaku??” aku kehabisan suara. Aku menghela nafasku kemudian menghirupnya kembali.

“Jika aku memberitahumu..kau tidak akan bisa tersenyum untuknya..” panas didadaku mulai naik kehidung dan mataku. Seharusnya aku sudah menyadarinya saat Jinki oppa menahan sakitnya. Aku terlalu naif.

Aku ingin bertemu dengannya. Aku memaksa diriku untuk masuk ke kamar Jinki oppa. umma sedang menatap Jinki oppa yang masih terbaring. Aku menghampirinya.

“Ahh..Narim..tolong jaga Jinki sebentar..umma ingin ke kamar mandi..” Umma mengusap pipinya dengan tisu.

“Ne..umma..”

“Gomawo..umma hanya sebentar..” umma mengelus lenganku sebelum pergi.

Jinki oppa..dia pucat sekali. Banyak sekali benda yang menempel ditubuhnya. Dia sudah tidak memakai tuxedo putih lagi.

Aku duduk menggantikan tempat umma. Menatap wajahnya. Kupegang tangannya, kuelus-elus pelan punggung tangannya dengan jempolku. Sama seperti yang selalu kulakukan setiap Jinki oppa kesakitan.

“Narim..” dia mengenali isyaratku.

“oppa..” Jinki oppa tersenyum.

“Kau masih disisiku??” perlahan Jinki oppa membuka matanya. Dadaku semakin sesak saat menatap matanya. Kutahan sebisa mungkin agar tidak menangis.

“Ne..seperti janjiku.. oppa..” Jonghyun oppa benar..sulit bagiku untuk tersenyum. Aku paksakan bibirku untuk tersenyum, tapi air mataku justru mengalir lebih deras.

“Gomawo..” aku menghapus air mataku dan berusaha tersenyum selebar mungkin.

“Aku..akan mengembalikanmu kepada Jonghyun..”

“Andwe oppa..aku akan tetap disisimu..aku sudah berjanji” aku merasakan ujung-ujung jari Jinki oppa bergerak. Aku mengangkat tangannya, menuntunnya menyentuh wajahku. Jinki oppa tersenyum. aku tidak bisa tersenyum lagi. Aku tidak bisa menahannya lagi..tangisku semakin menjadi-jadi dan malah membasahi tangannya.

“Gwenchana..” Jinki oppa menutup matanya? Tenang narim..dia hanya tertidur..jantungnya masih berdetak.

Hari sudah mulai malam. Aku kehabisan tenagaku karena terus menangis. Jonghyun oppa memberikan jasnya untuk menghangatkanku. Kami, aku dan Jonghyun oppa, masih menemani Jinki oppa. Dia belum membuka matanya kembali sejak tadi siang. Umma dan appa pergi mengurus sesuatu, aku tidak tahu apa.

Aku terus memberikan sinyal kalau aku masih disisinya dengan terus mengusap punggung tangannya. Bisakah kau merasakannya oppa? aku masih disini.. seperti yang kau minta.. bisakah kau memberitahuku kalau kau merasakannya?? Oppa.. jebal..

“hhhh..” kudengar Jinki oppa seperti menghembuskan nafasnya.

“Oppa??” aku menarik kursiku agar lebih dekat dengan Jinki oppa.

“hhhh..Narim..” kurasakan nafas Jinki oppa semakin berat.

“Ne??” oppa membuka matanya kemudian menutupnya lagi.

“Saranghae..hhhh..” leherku semakin tercekik.

“Nado..Saranghae..oppa..” Jinki oppa tersenyum.

“hhhh..” nafas Jinki oppa semakin berat.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttt…

“oppa??” aku berusaha membangunkannya kembali.

Jonghyun oppa menekan tombol darurat. Dengan segera beberapa suster dan dokter masuk keruangan kami. Jonghyun oppa menarikku untuk memberikan ruang pada dokter.

Kutatap terus wajah Jinki oppa, berharap agar dia membukakan kembali matanya. Apapun yang dilakukan dokter padanya, dia tak bergeming sedikitpun.

Jinki oppa sudah pergi..

Duniaku serasa sudah runtuh. Aku sudah tak berdaya. Jonghyun oppa terus memelukku.

Kami sudah kehilangannya.

Enam tahun kemudian

“Umma.. kenapa namaku tertulis dibatu itu??”

“Itu nama pamanmu Jinki..”

“Nama kami sama??”

“Ne..”

Sudah enam tahun berlalu oppa.. aku mau memperkenalkan anakku padamu.. anakku pandai membaca, sama sepertimu.. Jonghyun oppa memberikan namamu pada anak kami. Agar kami selalu mengingatmu.. Jinki oppa.

-tamat-

38 responses to “(STRAIGHT/sequel/Part 4) PAY BACK

  1. padahal udah baca berkali-kali..
    dan sudah berkali-kali juga berakhir dengan nangis…
    eonni… kangen ama FF begini…
    tapi jangan jinki oppa yang mati… huhu..
    sedih..

  2. huwaaaa ya oloh~ tanggung jwb unnie, aku nangis kejer nh T____T

    mereka istilahnya turun ranjang ya,,andwae narim blm nikah ama jinki.. jd apa dong namanya? haha pikirin bae

    aku iseng bc ff normalmu unn, krn bosen nunggu update ff mu hahaha /dikata gey unn gak sibuk apa
    dan mav aku komen endingnya doang..penasaran dan pengen trus dbc ,,lupa komentar

    komennya di ending aja unn, msh dpt bgt nh sad endingnya dan air mataku jg msh ada.. beneran aku mewek pake suara lg..itu tandanya bener2 sakit ..ah unnie gmn nh ..jinkinya meninggal T______T

    aku rela narim akhrnya ama jjong..ah kalu aku jd dy jg bakal sulit untuk milih 1 di antara mrk.. nangis lg dah tuh :”(

    sudahlah

  3. air mata q berlinang authorrrrr, e tapi nama anak jongnarim sama kyak jinki oppa,,
    sedih bgt, hiks smoga narim tidak ragu2 dlm melih k depan ny, amin,, kkkkkkkk~

  4. eoni daebak deh….
    ff komedinya bikin ngakak and nih ff sadnya bikin nangis aku beneran nangis loh eon baca nih ff. apalagi waktu jinki oppa pergi untuk selamanya….
    makin berurai nih air mata…

  5. andweeeee!!!! walopun aq uda ngeduga jinki bakal pergiiiiiii…ttep ga relaaaa…ya oloooooo…author tanggung jawab!!sesek dada q ni..

  6. wah..daebak….aku benar2 tersentuh dgn sikap jjong….
    jinki jga sebernay g jahat2 bgt,…..endingnya seding yah….:(

  7. Ping-balik: LIBRARY | blinggey·

  8. KAKAKKK .. T.T .. YAKIN DH AKU MEWEK BACANYA
    INI FF KEDUA YG BKIN AKU MEWEK
    KAKAK PKONYA SKARANG MSUK LIST PAPORIT AKU YAAH
    SELAMET KAK /TUMPENGAN/
    TAPI KNPA JINKI MATI ?
    HUEEEE ..
    SDIH BNGTLAH PKONYA
    KAK GEY JJANG

  9. Aku baca ini malam-malam dan tau apa besok pagi pasti mataku bakalan bengkak, ff ini sukse buat aku nangis T.T

  10. sumpah ini aku nangis banyak banget. ternyata mereka udh tau kalo oprasinya gagal. jjong baik banget sampe ngerelain narim buat onyu. yah walopun dia tau ga akan lama jga idup si onyunya. pantes eonni jga abis 5 tisu. jadi kangen onyu😥 asli aku ngetik ini masih sambil nangis

  11. sedih….. tapi ini yang namanya keluarga…. jjong bahkan relain narim buat jinki… tapi setting ceritanya kecepetan.. ko lgsg 6 thn kemudian???

  12. hwoaaaa, DAEBAKK
    *ngetik sambil bercucuran air mata*
    tapi kenapa jinki harus mati?? T_______T

  13. andwae
    ini lebih sad dari cerita ibu taemin yang bunuh diri.

    aku masih bingung dengan perasaan narim. dia mencintai jinki dengan tulus atau hanya kasihan

  14. T_T hikz hikz..
    Aq emang ga mau jinki nikah ama narim, tp ga mau jg jinki meninggal… Huaaa~
    gegey pinter bikin ff nya, di stiap akhir part pasti penuh kejutan..
    Daebak..

  15. Nangis ini nangis
    sedih banget eon aku ga tega
    jinki jinki jinki huhuhu #nangis kejer
    daebak eon!

  16. Haduuh saya mewek,, awalnya agak kesal liat jinki nya egois d part sblmnya,tp trnyta it prmntaan trakhrnya. . .

    Kasian skli kau. . Hiks
    q ska crtanya eon. . TOP bgt

  17. lllooh??? ya ampuuun kok meninggal kak? wiii TT kok gitu..
    kaget ganyangka jinki bakal meninggal
    bener2 deh kak gey kalo masalah mainin perasaan orang u.u

  18. huuuuuaaaaaaa #nangis kejer
    kenapa jinkinya mati???
    salut ama jjong yg mau ngalah demi hyungnya
    ending yg menguras air mata
    kereeeeennnn daebakkkkk

  19. Jahat aahh!! X( saya emang ga sampe nangis, tapi airmata sampe keluar tiba2.. Waktu ngehin pas si narim genggam tangan jinki pas di sofa sampe ketiduran, saya dah curiganya itu penyakit jantung kambuh.. Soalnya tangan jinki telapaknya dah basah gitu.. Tp ternyata operasinya yg gagal yah? Serem… gak rela jinkinya matiii.. X( pada akhirnya narim-jjong yg berjodoh.. Aaahhhk! Pokoknya ga relaaaa… TAT

  20. ahhhhh jinkinya mati huaaaa , part ini paling emosional . air mata deres banget gabisa berhenti huhuhu jinki kenapa meninggal , huhu part sebelumnya ga ada firasat jinki bakal mati , tapi pasti di tengah part ini pas jinki udah mulai kesakitan baru kefikiran kalo udah gak lama lagi huaaaa nangis ga berhenti ini huhuhuhuhu :””””””””(

  21. Hoaaaaaa TT^TT jinki nya matiiii sedih banget ya allooooh eon aku menjanda karnamu *hiks*
    Keren FFnya tehanyut dan terombang ambing gini dah :((

  22. eonni ya!! aku nangis ,, sedih banget T,T keren banget !! ayamku kasihan jadi meninggal.. biarlah narim bersama dino.. huhuhu.. T,T

  23. ak nangis bacanya
    jinki akhirnya meninggal
    padahal udah dr awal waktu jinki sakit udah ngira pasti jinki meninggal
    tapi tapi tetep aja nangis bacanya
    narim cocok kok sama jonghyun
    emang lebih baik ada salah satu yang pergi daripada ada yang tersakiti
    hiks

  24. kenapa aku nangis dibagian ending pas anak.a narim ke kuburan jinki???????

    Yaoloh semoga kamu tenang disitu bang ,-_-,
    *tissue mana tissue??

  25. yak , yak .. knp sad ending gni .. huwee , knp hrus mati si jinki. . kn kasian ..
    sad ending , tp hppy ending jg .. akhr.x narim ttp sm jjong ..
    daebak buat author.x ..

  26. Mewek… aku mewek…
    Di part kemarin, aku memang jengkel sama Jinki oppa
    Tapi gak pernah mikir kalo bakal meninggal…
    Huwaaaa….. andwe…. Jangan biarkan aku menjanda oppa….

    Ceritanya bagusbanget Ggey… Penulisannya juga ngalir banget
    Bacanya jadi enak dan ringan…
    feelnya jangan ditanya… dapet… aku sampe mewek gini…
    daebakk

  27. tadibawalnya aku mau baca ff ini dr awal eh trus kok kayaknya familiar, ternyata aku udah pernah baca ff ini :””””””””
    haaaa sedih kenapa sad ending da jinki nya harus mati ya T-T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s