(STRAIGHT/sequel/Part 2) PAY BACK

Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim Jonghyun
  • Narim
  • Nana

Genre:

Romance, Teary

Aigooo…baru kali ini nulis dua FF secara bersamaan.. ide di kepalaku tak terbendung lg!!!aku butuh ember!!! Lg nulis FF Pay back tiba-tiba terlintas five little bear, minimize file pay back dan lanjut nulis d five little bear.. lagi asik nulis di five little bear tiba-tiba melintas lagi pay back, minimize file five little bear dan lanjut nulis pay back..begitulah seterusnya.. Haaahhhh..

RCL!!! No SR!!


Narim POV

“Narim!! Kau benar-benar menyesal huh??” Nana eonni mencubit pipiku dan menyadarkan lamunanku yang panjang.

Aku memanyunkan bibirku dan menggelus-elus pipiku yang memanas karena cubitan Nana eonni. “Bisakah aku tidak disiksa dihari pernikahanku??” Aku balas mencubit pipi Nana eonni.

“Auuucchhh..bukan salahku mencubitmu, kau ku panggil sedari tadi tapi tidak menyaut..selama perjalanan pandanganmu terus kosong.. kau menyesal?? Mau aku bantu kabur dari pernikahanmu??” eonni mengetesku lagi, aku melihat keluar jendela mobil. Kami sudah sampai di depan gereja.

Aku memejamkan mataku, meniupkan udara dari mulutku, berusaha untuk rileks. Tapi aku malah tertawa karena ulah eonni yang menirukanku menghembuskan nafas.

“Ayo turun..” eonni membuka pitu mobil.

Kakiku tak mau bergerak, melihat pintu gereja saja rasanya seperti seluruh darahku mengalir deras ke otak dan membuat kepalaku pusing. Apa aku mengikuti saran eonni saja untuk kabur?? Aissshh..ahniyo.. ini keputusanku, aku harus menghadapinya.

Flashback

***

“Ini makanlah..” Jonghyun oppa mengambilkanku kerang dan menaruhnya dipiringku.

“Jonghyun..harusnya kau mengambilkan kerang dari dalam cangkangnya lalu memberikannya pada Narim..bukannya menaruh kerang dengan cangkangnya bulat-bulat..” calon bapak mertuaku menasehati Jonghyun oppa.

“Appa.. memakan kerang akan lebih menyenangkan apabila dapat mengambilnya langsung dari cangkangnya.. aku tidak mau Narim tidak merasakan sensasi mengambil kerang dari cangkangnya..” penjelasan Jonghyun oppa barusan mebuatku terkekeh, ada-ada saja namja yang satu ini.

Ini adalah makan malam pertamaku bersama calon keluargaku, ternyata tidak sesunyi sarapan. Semua berkumpul di meja makan, termasuk Jinki oppa. Yah..walaupun dia tidak banyak berkomentar melihat Jonghyun terus berusaha menyuapiku dan berhasil membuat calon mertuaku batuk-batuk selama makan malam.

“bagaimana harimu Narim??” calon ibu mertuaku bertanya padaku, apa maksudnya kelas-kelasku??

“Kelas bahasa inggrisnya menyenangkan” jawabku, mungkin karena Mr. Joe, nativku, mengajariku dengan sangat atraktif.

“Menyulam dan table mannermu??” tanyanya lagi.

“Aku tertusuk jarum sekali, dan membuat rotiku melompat sendiri..” jawabku jujur. Jawabanku tadi membuat Jinki oppa tertawa terbahak-bahak hingga membuatnya tersedak.

Jinki oppa meneguk air putih didepannya, “Umma juga harus lihat bagaimana Narim membuat semua benangnya menjadi satu.. dan membuat SooHyung noona merapihkannya ulang selama dua jam..” Jinki oppa menceritakan kejadian memalukan tadi siang kepada kedua calon mertuaku.

Jinki oppa memang terus menemaniku selama kelas menyulamku, dengan alasan tidak mau bolak-balik mengantarku. Jadi dia menunggu sambil membaca bukunya sampai kelas menyulamku selesai kemudian mengantarku ke kelas table manner.

“Hyung..bagaimana kau bisa tahu??” Tanya Jonghyun.

“Aku mengantarnya ke setiap kelas..dia belum mengenal rumah kita bukan??” Jinki kembali menyantap hidangannya.

Jonghyun oppa menoleh kearahku, “Kau belum tahu dimana kelas-kelasmu??” aigoo Jonghyun oppa..pertanyaanmu bodoh sekali.

Aku memilih tidak untuk menjawab, apa dia pikir orang baru dirumah ini dapat langsung mengenali rumahnya yang seluas Seoul ini?? aisshhh.

//

Aku merebahkan tubuhku di kasurku yang super nyaman ini. Jika keluargaku akan menonton tv setelah makan malam, keluarga ini malah berkumpul diruang baca dan membaca buku masing-masing. Tidak sengaja aku menguap didepan calon ibu mertuaku, dan beliau menyuruhku untuk pergi tidur lebih awal, untuk menyiapkan hari esok. Aku sangat berterima kasih pada Tuhan calon mertuaku pengertian sekali.

Aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhh…entah kenapa aku senang melihat Jinki oppa tertawa saat makan malam tadi. Sesuai prediksiku, dia terlihat lebih tampan apabila tersenyum. Apa aku suka pada Jinki oppa?? Ahni ahni! Kau sudah punya Jonghyun oppa yang tak kalah tampan..bodoh sekali dirimu Narim!!!

Lebih baik aku membersihkan diriku sebelum tidur, sepertinya berendam akan mengembalikan pikiranku kepada Jonghyun oppa. Semoga.

Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan malas-malas menuju kamar mandi sambil melepas satu persatu pakaianku yang membuatku agak sesak. Tinggal melepas pakaian dalamku dan aku siap menceburkan diriku kedalam bathtub.

“Narim..” aku menoleh kearah Jonghyun oppa yang sudah berdiri di depan pintu melihatku hanya mengenakan pakaian dalam. Apa! Hanya pakaian dalam? Aku segera menutup tubuhku dengan pakaian yang sudah kulepas dan berlari menuju kamar mandi.

Great!! Aku sangat memikirkan Jonghyun oppa sekarang. Bukankah ini yang kau inginkan Narim?? Akkkhhhh..tapi bukan seperti ini. kenapa pintunya begitu canggih sehingga tidak mengeluarkan suara saat seseorang membukanya??? kenapa Jonghyun oppa tidak mengetuk lebih dulu?? Aissshhh..aku terus terbayang wajah Jonghyun oppa saat melihatku tanpa pakaian..baikalah, aku ralat, hanya mengenakan pakaian dalam, tapi tetap sama saja!!!

Aku cepat-cepat menyelesaikan berendamku. Semakin lama berendam semakin aku memikirkan Jonghyun oppa. Aku memakai piyamaku dan kutambahkan cardigan putih, entah utuk apa tapi aku merasa nyaman memakai cardigan ini.

Perlahan aku membuka pintu closetku, semoga Jonghyun oppa tidak dikamarku. Aku salah! Jonghyun oppa masih dikamarku, tertidur pulas dikasurku. Lalu dimana aku tidur? Baiklah, rumah ini besar bukan? Akan kucari kamar baruku sendiri.

Aku keluar kamar, berencana mengetuk setiap pintu berharap menemukan kamar kosong. Tapi kuurungkan niatku, aku takut mengganggu semua orang. Aku berjalan-jalan tanpa arah dirumah yang besar ini, berkeliling hingga membuatku ngantuk. Baru aku sadar kalau aku tersesat saat aku sudah berada diruang keluarga, padahal tadi aku berusaha mencari kamarku. Haaahhh.. harusnya aku gantung papan namaku di depan pintu kamarku agar aku dapat menemukannya.

Aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang keluarga saja. Aku menjatuhkan diriku terduduk di sofa, ruang keluarga ini hangat. Aku tidak akan kedinginan tanpa selimut.

Kupejamkan mataku perlahan.

“Narim??”

Jinki POV

Ahh..bukuku tertinggal di ruang keluarga, seharusnya kau tidak meninggalkannya sembarangan Jinki!! kau tau kan sulit bagimu untuk terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan kursi roda??.

Aku memutar balik kursi rodaku menuju ruang keluarga, aku tidak mau bukuku ditemukan seseorang dan disimpannya dirak paling atas. Itu akan sangat menyebalkan sekali.

Aku memasuki ruang keluarga, aku menemukan Narim duduk disofa. Apa dia tertidur??

“Narim??” panggilku pelan, aku tidak mau membangunkannya jika memang dia sudah tidur.

Narim langsung membuka matanya, sepertinya dia belum tertidur.

“Jinki oppa..” Narim langsung berdiri. Apa maksudnya berdiri? Menyambut raja yang datang?

“Kau tersesat?” tanyaku. Kemungkinan besar Narim bisa berada disini adalah karena dia tersesat.

“Ahni..emmm..hanya sekedar jalan-jalan sebelum tidur dan..” hah. Sungguh yeoja mudah ditebak.

“Dan kau tersesat??” lanjutku.

“Ahni..hanya mengistirahatkan kakiku karena lelah..rumah ini besar sekali..” Narim menunduk dan meremas ujung cardigannya. Tetap tidak mau mengaku walaupun sudah tertangkap basah.

Aku mengambil bukuku yang tertinggal dimeja, kulihat Narim masih berdiri di dekat sofa. Mau bertaruh?? Aku yakin setelah aku pergi dia akan tidur di sofa.

“Kau mau mengantarku ke kamarku?? Kamarku dekat dengan kamarmu..” aku memancingnya.

“Benarkah??” wajahnya tampak sumringah. Aigoo polos sekali.

“Tidak..kamarku dibawah..kamarmu diatas bukan??”

“Ohh..” dalam sedetik wajahnya berubah kecewa. “Oppa..kau suka bukumu??” Narim menunjuk buku yang kupegang.

“Memangnya kenapa?” tanyaku. Dia tidak seperti sedang basa-basi.

“itu..emmm..aku lihat tadi siang kau sudah tamat membacanya, tapi.. tadi sore kulihat kau membacanya dari awal lagi…” apa maksud yeoja ini?? mengapa dia menyadari aku sudah membacanya berulang-ulang. Apa dia selalu memperhatikanku?

“Ah..mungkin hanya perasaanku saja oppa.. aku mungkin salah melihatmu membaca buku..” kulihat dia memukul kepalanya sendiri dengan kepalan tangannya. Ahahahah..pabo! itu pasti yang dikatakannya dalam hati.

“Kau benar Narim..aku sangat menyukainya..aku membacanya berulang-ulang..” aku membenarkan perkataannya, tidak mau dia memukul kepalanya lagi.

“Apa benar? Mian kalau aku terlalu sok tahu..” Narim membungkukan badannya meminta maaf padaku. Kenapa dia harus minta maaf? Aku jadi semakin tertarik padanya.

“Kau suka buku apa Narim??” siapa tahu dia suka membaca dan aku bisa meminjamkan buku kesayanganku padanya.

“Ah!..aku..” Narim menggaruk halisnya. “entahlah oppa..aku..hanya pernah membaca buku cerita dongeng saja..” sekali lagi dia memukul kepalanya dengan kepalannya. Tampaknya dia tidak pernah membaca buku tebal.

“Kau mau mencoba membaca??” tanyaku. Kenapa aku ingin sekali dia membaca?? Mungkin agar aku mempunyai teman untuk berbagi dari isi buku yang kubaca.

“huh?? Aku mau!!” dia semangat sekali.

“Aku punya buku yang agak tipis, mungkin kau bisa memulainya dengan yang ringan dulu..” aku menaruh kembali bukuku di atas meja dan mencari buku  dirak.

“Mau aku bantu oppa??”

“Tidak usah..bukunya aku simpan di rak bawah..”

Dimana buku itu? Aku terus mencari buku kesayanganku. Suara Narim sudah tidak terdengar lagi. Aku menoleh kebelakang, Narim sudah tertidur di sofa. Aku mendekatinya, melambaikan tanganku didepan wajahnya. Dia memang sudah tertidur pulas. Wajahnya damai sekali..seperti tidak punya masalah.. Narim..terlihat cantik saat tertidur. Apa? Berhentilah menatap wajahnya Jinki! kau bisa jatuh cinta padanya! dia tunangan dongsaengmu..

Tapi aku lebih suka saat dia terbangun, aku bisa mengajaknya mengobrol. Aku senang dia tidak melihatku sebagai orang cacat. Apa sebaiknya aku mengambilkannya selimut dikamarku? Agar dia tidak kedinginan disini.

Aku mengambil selimut dikamarku. Jarak dari kamar dan ruang keluarga lumayan jauh, tapi entah kenapa tidak ada beban bagiku untuk mengambilkannya selimut. Aku menaruh selimutnya dipangkuanku dan bergegas kembali keruang keluarga. Bagaimana reaksinya saat terbangun nanti sudah mendapati dirinya berselimut? Aku sangat menantikannya. Dia sangat menarik.

Aku menghentikan lajuku. Kulihat Jonghyun sudah menggendong Narim yang tetidur menaiki tangga. Yah..lebih baik apabila Narim tidur dikamarnya daripada tidur di sofa.. Kau lihat Jinki! kau bahkan tidak bisa menggendongnya ke kamar dan malah membiarkannya tidur di sofa?? Aku meremas selimut dipangkuanku, kenapa aku kesal sekali. Sudahlah kembali ke kamarmu Jinki! Narim sudah ada Jonghyun yang melindunginya.

Narim POV

Aku terlambat 15 menit menghadiri kelas bahasa inggrisku, untung saja Mr. Joe tidak segalak guru matematikaku disekolah. Aku dimaafkannya. Ini karena Jinki oppa tidak mengantarku lagi, aku jadi harus mencari perpustakaan sendiri. Jinki oppa bahkan tidak ada saat sarapan. Apa dia sakit? Bukankah dia bilang akan meminjamkanku buku? Ahhh..Narim lupakan bukunya..Jinki oppa mungkin sedang sakit..tidak akan sempat meminjamkanmu buku.. hah? Sejak kapan kau tertarik pada buku Narim??

Aku menyelesaikan kelasku dengan baik, walau sedikit melamun. Kenapa aku terus memikirkan Jinki oppa? Apa dia benar-benar sakit?

Aku harus berjuang sendiri mencari ruang seni sekarang, tak ada Jinki oppa yang bisa menuntukan jalan.

Aigoo..jauh sekali. Rasanya tidak sejauh ini saat bersama Jinki oppa. Apa aku tersesat? Aku melihat sekelilingku, siapa tahu ada orang yang bisa aku mintai bantuannya. Oh! Itu..Jinki oppa?? Dia sedang membaca buku di gazebo. Kakiku reflek melangkah menuju tempat Jinki oppa.

“Jinki oppa??”

Jinki POV

“Jinki oppa??” aku kaget melihat Narim menemukanku disini. Ini bukan rute yang dilewatinya menuju ruang seni. Ya..saat ini seharusnya dia sudah berada disana. Apa dia tersesat?? Lagi??

“Kau tidak apa-apa?” aku mengernyitkan dahiku. Apa maksunya ‘aku tidak apa-apa’?

“Kau tidak sakit??” tanyanya lagi.

“Tidak” jawabku singkat.

“Syukurlah..kukira kau sakit karena tidak ada saat sarapan..” Kutatap wajahnya. Apakah dia baru saja bilang kalau dia menghawatirkanku? Ahh dia pasti hanya basa basi. Aku memalingkan wajahku dan mulai membaca bukuku lagi, untuk kesekian ratus kalinya.

“Oppa..bukankah kau bilang akan meminjamkanku bukumu?”

“Buku??” aku kembali menatap wajahnya. “Kau masih mau membacanya??” tanyaku sinis, mungkin agak membentaknya.

“euh..bukankah aku sudah bilang mau membacanya??” dia masih tersenyum setelah aku bentak, cantik.

“Sudahlah lupakan tentang bukunya!!” nadaku semakin meninggi.

“apa oppa marah padaku?? Emmm..tidak apa-apa jika tidak bisa meminjamkanku buku..” kudengar suaranya agak parau. Kenapa aku tiba-tiba marah padanya?

“Ah! Aku ada kelas menyulam..aku harus bergegas.. Mianhe oppa sudah mengganggu..aku pergi dulu..” apa? Dia akan pergi? Apa aku sudah menyakitinya?

“Narim!!” entah kenapa aku memanggilnya. Padahal pagi ini aku sengaja tidak ikut sarapan agar tidak bertemu dengannya. Aku mencoba untuk membiasakan dia adalah calon istri Jonghyun. Tapi sepertinya aku tak bisa mengabaikan yeoja pabo yang selalu tersesat ini.

“Ne?” Narim berbalik kearahku.

“Mau aku antar?? Kau salah jalur..” aku melihat dia tersenyum, tapi matanya berlinang dan mulai meneteskan air mata.

“Ya! Narim! Kenapa kau menangis..??” tanyaku. Apa karena kubentak tadi?

“Tidak tahu oppa..” Narim menghapus air matanya dan berlari mendekatiku. “Sebagai tanda terima kasihku, aku akan membantumu mendorong kursimu oppa..” Narim mulai mendorong kursi rodaku, sedikit kesulitan mendorong kursiku pada awalnya, tapi akhirnya berjalan lancar.

“Gomawo.. akan kupinjamkan bukuku nanti..” aku senang akhirnya aku bisa berbincang lagi dengannya. Apa aku akan menjadi hyung yang jahat? Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku mulai jatuh cinta pada yeoja ini.

“benarkah?? Akan aku tunggu..akan kubaca dengan sungguh-sungguh..” jawabnya.

Narim POV

Aku dipinjamkan buku oleh Jinki oppa, aku sangat bersemangat membacanya. Ingin tau mengapa?? Jangan Tanya, aku pun tidak tahu. Bukunya memang tidak setebal buku Jinki oppa, tapi aku tetap tidak bisa menyelesaikannya dalam satu hari. Padahal aku berjanji akan memberitahunya pendapatku tentang buku ini besok..apa aku bisa??

“Narim!!” Jonghyun oppa seperti biasa masuk ke kamarku tanpa mengetuk. “Kau mau ikut denganku??” ajaknya bersemangat. Jonghyun oppa selalu bersemangat.

“Aku sedang membaca buku..” aku mencoba menolaknya secara halus..aku sudah berjanji pada Jinki oppa.

“Kau akan melewatkan malam ini begitu saja?? Even ini hanya sekali dalam setahun..” Jonghyun oppa terus menawarkannku kesenangan.

“tapi..aku sudah janji pada Jinki oppa..” jawabku.

Jonghyun POV

“tapi..aku sudah janji pada Jinki oppa..” jawabnya sambil memandangi buku. Sepertinya aku kenal buku ini.

“Itu buku Jinki hyung??” tanyaku.

“Ne~..” jawabnya sambil tertunduk.

“Kau suka membaca??” aku tidak pernah melihatnya membaca selama ini.

“mungkin..” jawabnya. Mungkin?? Apa maksudnya?? Kulihat jam dinding dikamar Narim, sudah pukul 8 malam.

Kutarik tangan Narim, agak memaksanya agar ikut denganku. Dia pasti tidak akan menolak. “Ayo Narim..aku tidak mau melewatkannya..bawa serta bukumu, kau bisa membacanya dimobil..” tawarku, Narim sedikit ragu, tapi akhirnya dia ikut denganku. Aku memang pandai memaksa.

//

Narim terus membaca didalam mobil, apa dia harus membacanya malam ini juga? Aku menarik buku dari tangannya dan menyimpannya di dashboard, aku tidak mau dia pusing akibat membaca dimobil.

“Oppa..bukankah kau bilang tadi aku boleh membacanya di mobil??” Narim mengambil kembali bukunya dari dashboard.

“Kau akan pusing dalam beberapa detik lagi jika kau tidak berhenti membaca Narim..” kali ini aku membiarkannya membaca, biarlah dia mengalami yang aku katakana barusan.

“oughhh…” Narim menyenderkan kepalanya di kursi, dan memijit-mijit kepalanya.

“Sudah kubilang kan..” aku mengambil buku dari tangannya dan menyimpannya kembali di dashboard.

“Kita mau kemana oppa??” Tanya Narim masih memijit kepalanya.

“Kau pasti suka..” jawabku, ingin tetap merahasiakannya. Narim masih terus memandangi bukunya yang kusimpan di dashboard. Sebegitu pentingkan buku itu??

“Kau bisa tidur, siapa tahu kau mau bergadang membaca bukumu..perjalanan kita masih lumayan jauh..” Narim mencoba memejamkan matanya, tapi aku tahu tidak nyaman tidur pada posisi itu. Aku menepikan mobilku, dan menarik pedal jok Narim sehingga membuat posisi joknya tertidur. Narim sedikit kaget saat aku melakukannya. Aku hanya tertawa kecil.

Syukurlah Narim dapat tertidur, sesekali aku mencuri pandang kewajahnya yang sedang tidur. Aku tersenyum sendiri melihat wajahnya, aku merasa namja paling beruntung didunia. Calon istriku cantik sekali. Hari hariku semakin berwarna setelah kemunculannya. Aku senang menggodanya dan membuat wajahnya memerah.

Dia yeoja yang menampilkan dirinya apa adanya, bukan yeoja yang ingin terlihat cantik dan anggun di mataku. Narim sudah cantik dimataku, tidak perlu mengenakan gaun cantik untuk terlihat anggun, tidak memakai apa-apa pun sudah terlihat cantik. Tidak memakai apa-apa? Terlintas dikepalaku saat tidak sengaja aku melihatnya melepaskan baju-bajunya, aku memanggilnya saat dia akan melepas pakaian dalamnya. Kenapa aku memanggilnya?? Kenapa tidak aku biarkan saja?? Aissshhhh yadong yadong! Hilanglah dari kepalaku!

Lampu merah. Kulihat Narim masih tertidur. Rambutnya menggodaku untuk membelainya. Kubelai kepalanya, dan mengosok-gosok keningnya dengan jempolku.

“eung..” Narim sepertinya terganggu dengan belaianku.

Aku beralih menatap bibirnya, tampak lembut, warnanya merah tanpa lipstick. Membuatku tergoda untuk menciumnya. Bolehkah?

Aku mendekatkan bibirku kebibirnya, perlahan ingin kukecup bibirnya.

TIIIIIIIIIITTTTTTT~!!!!

Aishhh!! Suara klakson mobil dibelakangku membangunkan Narim. Dia terkejut melihatku sedekat ini dengan wajahnya. Aku pura-pura tidak terjadi apa-apa, kulihat lampu sudah berwarna hijau. Pantas saja mobil dibelakangku sewot. Aku kembali menyetir, kembali konsentrasi menuju tempat tujuan.

Narim tidak berkata apa-apa, dia menarik pedal joknya dan mengembalikan posisinya ke posisi duduk.

Aku meliriknya, aku yakin sekali wajahnya merah matang.. ahahah..ini yang aku suka darinya.

//

Ahh…akhirnya sampai. Aku menepikan mobilku dipinggir sungai Han.

“Kita dimana?” Tanya Narim.

“Ayo turun..” aku turun terlebih dahulu, kemudian berlari kepintunya dan membukakan pintu untuknya.

“Sepi..” Narim melihat kesekitarnya saat keluar dari mobil.

“Gelap..” lanjutku. Narim langsung melototiku. “Ahahahah..Narim..aku tidak akan berbuat yang macam-macam..aku bisa menunggu hingga hari pernikahan kita..” Tuhaannn.. maafkan hobi baruku yang senang menggoda yeoja dihadapanku ini.

Aku menuntunnya mendekati sisi sungai Han, dan kemudian aku duduk dirumput. Narim masih berdiri mamandangku heran.

“Duduklah disampingku..kau tidak akan rileks jika berdiri..” aku menepuk-nepuk rumput disebelahku, mengisyaratkannya untuk duduk.

Perlahan Narim duduk di sampingku.

“Kau lihat??” aku menunjuk kearah bulan. Mata Narim sepertinya membesar, ekspresi wajahnya tampak kagum.

“Besar sekali oppa..” Narim terus memperhatikan bulan sempurna yang tampak lebih besar dari biasanya. Seperti mendekati bumi.
”Sudah kubilang hanya setahun sekali, dan hanya ditempat ini..” jelasku.

“Apa aku bisa mengambilnya??” tanyanya, membuatku terkekeh.

“Kau lihat juga disana..” aku menunjuk kearah sungai Han didepan kami. Tampak jelas bayangan bulan diatas air sungai han yang tenang. Bulan seperti sedang bercermin di sungai Han.

“Whoaa oppa!! Bagaimana kau bisa selalu menemukan tempat-tempat seperti ini???” tanyanya, matanya semakin membesar. Narim menjadi semakin cantik saja.

“Harusnya kita ajak Jinki hyung kemari..” usulku.

“ehh?” Narim tidak mengerti maksudku.

“Aku ingin menunjukan ini pada Jinki hyung, agar hyung bisa kembali menikmati hidup..” lanjutku.

“Dia mungkin mau, hanya saja dia tidak bisa..” Narim seperti membela Jinki hyung. Ohh.. aku mengerti maksudnya.

“Sebenarnya, Jinki hyung tidak memerlukan kursi roda, dia bisa ikut kita kemari..” aku menatap bulan.

“Apa maksud oppa?” Tanya Narim. Apa dia tertarik dengan cerita Jinki hyung? Tentu saja..Jinki hyung akan menjadi kakak iparnya.

“Kau masih ingat kenapa aku bilang Jinki hyung tak mau menikah??”

“Ehm” jawabnya mengangguk.

“Sebenarnya yang akan dijodohkan adalah Jinki hyung dan Nana..bukan kita..”

“Jinki oppa menolaknya??” Tanya Narim, wajah penasarannya membuatku gemas.

“Hyung menolaknya setelah mengalami kecelakaan, dan membuat jantungnya menjadi lemah.. Hyung tidak bisa berjalan terlalu jauh, atau berdiri terlalu lama, dan mudah lelah saat mengerjakan sesuatu.. hingga akhirnya hyung menyerah dengan keadaannya dan memutuskan untuk memakai kursi roda..serta.. menolak untuk dijodohkan” kuhentikan ceritaku, kutatap wajah Narim, dia masih tampak antusias. Maka kulanjutkan ceritaku.

“Yang akan dijodohkan adalah penerus perusahaan appa, itu artinya, akulah yang akan mengurus perusahaan appa kelak, hyung sudang menyerahkan semuanya padaku.. awalnya aku tidak suka dan menolak dijodohkan dengan sahabatku sendiri Nana.. sampai Nana bilang kalau dia punya adik perempuan yang sudah lulus SMA..”

“Jadi..eonni benar-benar menyerahkanku padamu??” Narim seperti protess..dia salah orang jika ingin protes.

“kau tidak suka??” tanyaku. Narim tidak menjawab, terdiam menundukan kepalanya. Aku tahu jawabannya, dia suka. Apa dia sudah mempunyai rasa cinta untukku?? Karena aku sudah mulai jatuh cinta padanya.

“Khaja!” aku berdiri mengajaknya pulang.

“Tunggu oppa..aku masih mau menikmati pemandangannya..” narim memelas.

“Bagaimana dengan bukumu??” tanyaku. Narim kemudian tersentak dan berdiri.

“Ayo pulang oppa..” sudah kuduga dia ingin membaca bukunya.

//

Lagi-lagi Narim tertidur dimobil, dia tidak memaksa lagi untuk membaca di dalam mobil. Bagaimana ini, padahal sebentar lagi sampai, apa aku harus membangunkannya??

Aku memarkirkan mobilku, mematikan mesinnya, lalu kutatap wajah Narim yang masih terlelap. Aku tidak tega membangunkannya. Aku turun dari mobil dan membuka pintu penumpang. Kulepaskan sabuk pengaman Narim perlahan, berusaha agar dia tidak terbangun. Kulihat buku didashboard, Narim pasti akan menanyakannya saat bangun. Kuambil bukunya dan kuselipkan dicelanaku. Aku menggendong Narim menuju kamarnya. Ini kedua kalinya aku meggendongnya saat terlelap.

Jinki POV

Aku tidak melihat Narim semenjak makan malam, apa dia sedang membaca bukuku? Tuhan, aku sudah merindukannya lagi. Apa dia membacanya diruang keluarga?? Kurasa aku harus mengeceknya, siapa tahu dia memang sedang disana.

Aku melaju menuju ruang belajar, batinku ingin sekali bisa menemukannya disana. Ahhhhh!! Lampu mobil menyilaukanku, kulihat keluar jendela. Itu mobil Jonghyun, dia baru pulang jam segini?? Dari mana saja dia??

Aku terus memperhatikan Jonghyun, dia membukakan pintu penumpang. Apakah dia bersama teman?? Aku menyipitkan mataku berusaha mengenali seseorang yang digengongnya. Seperti..Narim..??

Aku meremas dadaku, rasanya seperti jantungku ada yang menginjak-injaknya. Sakit sekali.

Jonghyun calon suami Narim bukan?? Sudah sewajarnya mereka pergi berdua. Aku lebih baik pergi tidur, sudah pasti Narim tidak ada diruang keluarga, dan sudah pasti Narim tidak membaca bukuku malam ini. Dia sibuk berkencan.

//

Narim POV

Whoaaammmm…pagi yang singkat. Semalaman aku membaca buku dari Jinki oppa. Buku tentang kehidupan, seorang namja yang mengabdikan dirinya untuk mengurusi anak yatim piatu hingga akhir hayatnya. Aku menagis pada ending ceritanya. Membuat mataku sembab hari ini.

Aku bercermin, terdapat lingkaran hitam dibawah mataku, kulitku terlihat kusam, bagus!! Aku buruk sekali pagi ini. Sembab, kusam dan lingkaran hitam dimataku. Untunglah hari ini hari sabtu, aku bebas hari ini.

Ingin sekali cepat-cepat menemui Jinki oppa dan mengutarakan pendapatku dan berterima kasih karena sudah meminjamkanku buku yang bagus ini.

Aku sungguh beruntung, aku melihat Jinki oppa diruang keluarga. Seperti biasa, dia sedang membaca. Aku berencana mengejutkannya, tapi kuurungkan mengingat cerita Jonghyun oppa semalam, jantung Jinki oppa lemah.

Kulihat dia berdiri dari kursi rodanya, membuatku ternganga. Dan tidak sengaja menjatuhkan bukuku.

“Siapa?” Tanya Jinki oppa mendengar suara buku yang kujatuhkan.

“Narim..oppa..” aku memungut buku yang kujatuhkan dan perlahan mendekatinya. “kau berdiri??” tanyaku, bukan hal baru kuketahui, hanya saja terkejut melihatnya secara langsung.

“Ne..” jawabnya kembali duduk di kursi rodanya. Wajahnya muram, seperti sedang kesal pada seseorang. Apakah aku orangnya? “kau sudah membaca bukuku??” tanyanya ketus. Kenapa dia harus bersikap seperti itu.

“Ne..” jawabku.

Jinki POV

“kau sudah membaca bukuku??” tanyaku agak ketus. Aku masih kesal dengan yang kulihat kemarin. Pasti Narim belum sempat membacanya.

“Ne..” jawabnya. Sontak ku terkejut. Dia membacanya??

Aku mendekatinya. Kulihat matanya hitam, kulit wajahnya kusam. Apa dia begadang semalaman membaca bukuku?? Kenapa dia memaksakan dirinya?? Dan kenapa aku senang dia memaksakan dirinya untuk membaca salah satu buku favoritku.

“Aku..benar-benar sudah membacanya oppa” Narim meyakinkan diriku.

Aku tersenyum, “arraso..” jawabku.

“kau suka bagian yang mana??” tanyaku.

“Saat Namjanya memutuskan untuk membawa pergi seluruh anak yatim piatu ketempat yang lebih aman..aku suka perjuangan hidupnya..” narim benar-benar menbaca bukunya.

“Aku juga suka buku itu, mengajarkanku untuk peduli pada sesama..” timbalku.

“Tapi..oppa..pelajaran yang aku dapat dari buku ini adalah..bagaimana Namja ini mempertaruhkan hidupnya mati-matian untuk menjalani kehidupan yang dipilihnya, bahkan saat dia sekarat sekalipun..”

Perkataan Narim menyadarkannku. Apa dia menyindirku? Ahh..tapi dia benar, inti dari buku ini adalah memperjuangkan sesuatu yang sudah kau pilih. Bodohnya aku disadarkan oleh seorang yeoja yang baru pertama kali membaca buku ini. Aku merasa bodoh sekali karena sudah menyerah.

“oppa? Apa aku menyinggungmu??” Narim menatapku meminta maaf.

“Bukan..” apa Narim senang jika aku berjuang untuknya? Aku ingin, aku yang berada diposisi Jonghyun saat ini. dan menikah denganmu kelak, Narim.

“lalu kenapa oppa??” kutatap matanya dalam.

“Narim..apa kau senang jika aku dapat kembali berdiri??” tanyaku.

“Tentu saja oppa!! Aku akan mendukungmu..” raut wajahnya yang semangat seperti menyalurkan energi semangatnya padaku.

“Baiklah..mulai sekarang aku akan menjalani rehabilitasiku kembali..”

“Benarkah??” Jonghyun tiba-tiba muncul dari pintu.

“Ne!!hyung ingin meneruskan perusahaan appa dan menjalani kehidupan seperti sebelumnya…” jawabku mantap. Maafkan hyungmu yang ajaht ini Jjong. Hyung hanya ingin selalu disamping Narim.

“Benarkah hyung?? Ah hyung!! Aku senang sekali” Jonghyun berlari kerahku dan memelukku erat. Apa dongsaeng pabo ini belum mengerti maksudku?? Aku akan mengambil Narim dari sisinya.

“Jonghyun..” aku melepaskan pelukan Jonghyun. “Dan mungkin aku juga yang akan melanjutkan perjodohan ini..aku mencintai Narim..” aku tidak mau menjadi hyung yang menusuk dari belakang.

“Apa hyung??” tubuh Jonghyun melemas, ekspresinya tampak tidak percaya dengan yang aku katakana barusan.

“Aku sudah jatuh cinta pada calon istrimu..” lanjutku. Mianhe Jjong ah~..

-bersambung-

30 responses to “(STRAIGHT/sequel/Part 2) PAY BACK

  1. kasihan juga nasib jinki tapi aku senang karena akhirnya ia kembali semangat menjalani hidup…
    trus nasib jong gimana dong apa narim bakal milih jinki atau tetap sama jonghyun????

  2. lalalala~
    dg cyp dg cyp??ahhh aq milih ama jinki…gmn donk??kekeeke..tapi aq suka jinki yg ngomong lgsg dr pda ntar tiba” maen rebut aj =)

  3. Ping-balik: LIBRARY | blinggey·

  4. SUMPAH SHOCK BACA PART AKHIRNYAA
    SHOCK BANGET KAKK
    DAN ENTAH MENGAPA AKU BERUBAH LAGI
    UDAH NARIM SMA JJONG AJA /LABIL/

  5. jjing sabar ya…. kalo jodoh ga kmana.. yang sabar ya… aku tau ko ghea tu cinta banget ma kamu jadi ga bakal bikin kamu nelangsa….. percaya deh

  6. aigoo~ akan jadi cinta segitiga yang menarik.
    jinki kembali dengan semangat hidup.a tapi dia berjuang demi narim. bagaimana jika narim memilih jonghyun? jinki akan menyerah?

  7. Nah kan, nah kan.. Aduh jinki.. Kasian jjong.. Mu ama nana aja dah.. Please.. #eeh
    kebawa2 jadinya,, makin seru aja nih.. Kayaknya yg nikah jinki ama narim… Gmna tuh?? #heboh sendiri

  8. Eeeh?! Koq jadi gini! Jinki kenapa jahat bangeeet kasian jjong #mulai pilih kasih ama bias sendiri!
    jjong udah kasiin aja narimnya buat jinki/plak sebenernya aku teh bela siapa!?

  9. Omo… Jinki jujur??
    Klo aku jadi jinki pasti aku bingung harus berbuat apa, terus bakal ngalah demi Jjong walopun menghancurkan perasaanku sendiri..

  10. awalnya mbayangin jinki ngenes,,, mendekati ending pngin nampol, kasihan jjong atuh bang ==, narim jangan diambil doong u.u

  11. Andweeeeeeeee…… Jngn rebut Narim dari Jjong….

    Tapi Jinki keren, dia mau mengakui secara jantan kalau dia mau ngerebut Narim dari Jonghyun, bukannya menusuk dari belakang…

    Aku bingung mau ngebela sapa… Hufh, kasihan Jjong…;(

    Meluncur ke next part…

  12. Kan…kan…kan… Akhirnya jinki mau berjuaaaanngg!!!>< dan saya mencium hawa yg ga enak antara jjong sm jinki setelah pengakuan jinki klo dia suka narim.. X(

  13. jinkiiiiiiiii , lo to the point banget gilaaa . langsung bilang gitu ke jonghyun tanpa beban , yatuhannn jonghyun yang sabar ya nak , masih ada nana kok , udah relain narim aja buat jinki hehehe ._.v

  14. Hwaiting jinki-ya.. Mg cpt smbh ne..
    Wahh gmna y ma jjong..?? Bkal saingan nm jinki pa nyerahin narim buat jinki..?? Netx..

  15. yaampun jinki nekad banget…..
    Jonghyun kesian ,-_-,
    Aduuuhh bagaimana ini aku mulai tegang permirsa!!!

    Lanjut!

  16. waduh , d sini kq watak jinki agak egois ya ?
    ya gpp jinki ma narim aja , jjong oppa.x ma aku .. #ngarep🙂

  17. Aaaa…. Aku teriak di endingnya…
    Ya ampun…, segitu lugasnya Jinki bilang begitu ke jjong…
    Bener, sih, dia gak mau menikam adiknya dari belakang,
    berarti dia akan berjuang secara terang-terangan…
    Huwaaa…. Aku gak ngebayangin sulitnya posisi Narim sekarang
    Gak nyaman banget Narimnya pasti…
    Laanjut, Jonggey…

  18. Kan bener kan :(((((((
    Pelik pelik aaaaaakk
    Kalo jadi narim pasti bingung, tapi kayanya lebih berat ke jonghyun dah dia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s